공유

Bab 2

작가: Sahur
Di seberang telepon tertegun diam, seolah tidak menyangka aku akan menolaknya.

Tak lama kemudian, suara Setyo yang penuh ketidaksabaran terdengar. Tak ada satu pun kata basa-basi yang menunjukkan kepedulian.

"Milla, aku tidak suka pacar yang suka merajuk."

"Cepatlah bersiap."

Seusai bicara, tanpa memberiku kesempatan membalas, telepon langsung dimatikan sepihak.

Aku masih memegang ponsel itu, mendengarkan nada sibuk yang terus berdengung.

Aku hanya merasa pemberontakanku barusan sangatlah konyol, seolah aku menganggap diriku terlalu penting.

Setyo sama sekali tidak peduli aku mau atau tidak, lelah atau tidak.

Yang ia butuhkan hanyalah sosok patuh, seperti bayangan Riska yang muncul tepat waktu di tempat yang dia inginkan.

Setengah jam kemudian, terdengar ketukan pintu yang teratur dari luar.

Asisten menyapa dengan nada sopan.

"Nona Milla, Tuan Setyo meminta saya menjemput Anda."

Aku menjawab singkat, wajahku tidak menunjukkan ekspresi yang aneh.

Namun begitu membuka lemari, aku melewati gaun putih itu dan tanpa ragu menarik keluar gaun hitam model mermaid bergaris tegas dan desain yang berani.

Kenapa?

Karena kalau memakai warna putih, aku terlihat mirip dengan Riska. Sedangkan warna hitam terasa seperti diriku sendiri.

Saat turun ke bawah, asisten itu tampak sedikit terkejut melihat penampilanku. Dia mengingatkan dengan hati-hati, "Nona Milla, gaun ini... Tuan Setyo..."

Aku langsung membuka pintu mobil dan menyahut dengan nada dingin, "Gaun ini aku yang pakai, jadi aku yang akan tanggung akibatnya."

"Kalau kamu buat kita terlambat, kamu yang lalai."

Asisten tidak berani membantah, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, dia segera melajukan mobil.

Di aula perjamuan, para tamu saling bersulang dan berbincang. Saat Setyo melihatku mengenakan gaun hitam, sudut bibirnya sedikit turun. Namun dia tidak mengatakan apa-apa, seolah menganggapnya hanya ulah kecil hewan peliharaan yang sedang merajuk.

Tidak penting.

Dia tetap membiarkanku berdiri di sampingnya seperti biasa, menganggapku seperti hiasan.

Namun malam ini, ketika seorang pengusaha tengah berbicara panjang lebar tentang proyek baru, aku menyela dengan suara tenang, “Tuan Widyo, dalam perhitungan rata-rata modal Anda, apa sudah mempertimbangkan lonjakan biaya utang di tengah siklus kenaikan suku bunga saat ini?”

Suasana meja makan seketika menjadi hening. Beberapa tamu menatapku dengan wajah terkejut. Bahkan tangan Setyo yang memegang gelas anggur sempat terhenti sejenak, lalu dia menatapku dengan heran.

Tuan Widyo tampaknya baru tersadar, dia terdiam sejenak.

"Benar! Nona Milla ternyata sangat jeli."

Lalu dia mulai berbincang denganku dengan penuh semangat.

Rahang Setyo menegang, tetapi pada akhirnya dia tidak mengatakan apa-apa dan membiarkan percakapan kami berlanjut.

Hanya saja, suasana di sekelilingnya terasa semakin mencekam.

Di dalam mobil saat perjalanan pulang, Setyo mulai menegurku dengan wajah muram, "Milla, sejak aku mengizinkanmu di sisiku, aku sudah pernah bilang..."

"Aku ingin pacar yang penurut, bukan yang semena-mena dan suka pamer kepintaran."

Nada bicaranya dipenuhi kekecewaan yang dingin.

"Kalau kewajiban paling dasar saja tidak bisa kamu lakukan..."

"Sepertinya aku perlu mempertimbangkan kembali hubungan kita."

Di dalam hati aku mencibir pelan. Lagi-lagi dia berkata begitu.

Selama tiga tahun ini, setiap kali tindakanku sedikit saja tidak sesuai dengan keinginannya, dia selalu menggunakan ancaman itu untuk menekanku.

Karena dia tahu, aku tidak bisa meninggalkannya.

Sederhana, efektif, dan selalu berhasil.

Namun kali ini, aku justru mengangkat kepalaku dan memotong perkataan Setyo, "Tidak perlu dipertimbangkan lagi."

"Setyo, ayo kita putus."

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 10

    Setyo menarik napas panjang.Seakan baru saja membulatkan tekad, dia menatapku dengan sorot mata yang sungguh-sungguh."Tiga tahun ini, aku banyak merenung.""Dulu aku masih kekanak-kanakan dan tidak mengerti apa pun. Caraku memperlakukanmu sangat buruk, aku bahkan tidak menghargaimu. Aku juga tak pernah sabar mendengar penjelasanmu. Dalam hubungan itu... pada akhirnya akulah yang bersalah.""Dan soal ucapan yang pernah kulontarkan dulu... seharusnya aku meminta maaf padamu sejak lama. Maafkan aku."Aku mendengarkannya dengan tenang, tanpa ada riak emosi di wajahku.Setelah Setyo berhenti bicara, aku hanya menggeleng pelan."Tidak perlu minta maaf. Lagi pula, dulu aku mengejarmu juga bukan dengan niat yang benar-benar tulus.""Kalau sejak awal cinta sudah tercampur urusan transaksi, kita tidak bisa menuntut kejujuran dari siapa pun."Aku terdiam sejenak, lalu menyunggingkan senyum yang sedikit mengejek diriku sendiri."Jadi... anggap saja kita impas."Setyo menatap mataku yang datar. J

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 9

    Kepulanganku kali ini jelas bukan kebetulan, semua karena undangan dari Riska.“Lama tidak bertemu, Nona Milla. Selamat datang kembali!"Aku menyambut tangannya, menjabatnya dengan ringan sambil memasang senyum tenang yang tampak profesional."Bu Riska, terima kasih sampai repot-repot menjemput sendiri begini."Kami sempat bertukar basa-basi sekadarnya layaknya rekan bisnis.Begitu masuk ke mobil, Riska langsung mengeluarkan proposal dari tasnya dan menyodorkannya padaku.“Jujur, aku kaget waktu tahu desainer di balik Air Mata Bulan itu kamu. Kerja sama kita akan fokus pada koleksi itu, merancang seri perhiasan mewah yang senada. Ini bakal jadi proyek utama grup kami tahun depan.”"Untuk perwakilan mereknya, pilihannya jatuh pada aktor pendatang baru, Yandhi Chantra. Auranya pas dengan kesan dingin di desainmu."Aku mengangguk pelan sambil mulai membolak-balik lembaran proposal itu.Setelah diskusi singkat dan merasa semuanya sudah cocok, aku menutup map di tanganku.Aku pun menoleh ke

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 8

    "Setyo, aku sudah merencanakan segalanya dengan cermat, setidaknya aku tahu apa yang kuinginkan.""Kalau kamu? Kamu tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan?"Setelah melemparkan pertanyaan itu, Riska menyambar serbet dan mengusap bibirnya dengan gerakan tak sabar.Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berbalik untuk pergi."Tunggu!"Setyo mendadak berdiri. Suaranya terdengar parau dan pecah."Milla... kenapa dia harus pergi? Dia begitu mencintaiku, bahkan saat..."Langkah Riska terhenti. Ia menoleh dan menatap Setyo yang tampak seperti orang linglung.Riska hampir saja tertawa melihat pemandangan itu."Pantas saja orang bilang pria kaya itu biasanya naif soal cinta. Tuan Setyo, kamu benar-benar polos.""Cinta? Menurutmu apa artinya cinta bagi gadis yang hidupnya sudah hancur karena kenyataan, yang difitnah dan dihina orang?""Dengan kondisinya dulu, dimaki orang di belakang, dihina langsung di depan muka, bahkan dikucilkan teman-temannya, kalau dia mau bertahan hidup dan punya nasib lebih

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 7

    Namun belakangan ini, tingkah Setyo jelas makin aneh.Dia jadi sangat sering melamun.Saat sedang memeriksa dokumen, ujung penanya sering tertahan terlalu lama di satu halaman, meninggalkan noda tinta yang tebal. Dia juga mulai sering melirik ponselnya tanpa sadar.Entah sebenarnya dia sedang menunggu pesan dari siapa.Ketika ia membuka jendela percakapan denganku, selain satu pesan yang dulu pernah ia kirim:[Kamu ke luar negeri?]Tidak ada balasan lain di sana, hanya sebuah tanda seru merah yang mencolok.Aku sudah memblokirnya.Dia membuka aplikasi, lalu keluar. Membuka lagi, kemudian membalik ponselnya dengan layar menghadap ke bawah dan membantingnya ke meja.Hal itu ia lakukan berulang-ulang.Tok tok.Sampai asistennya mengetuk pintu dan berkata dengan nada hormat, "Tuan Setyo, Anda ada janji makan malam dengan Nona Riska. Waktunya hampir tiba."Setyo tersentak dari lamunannya, lalu dengan tak acuh mengambil mantel dan berjalan keluar.Di meja makan, Riska tampil dengan riasan se

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 6

    Satu langkah, dua langkah, tiga Langkah...Isak tangis yang dia bayangkan tidak terdengar.Di belakang Setyo juga tidak ada gerakan aneh apa pun.Langkahnya semakin melambat, hingga akhirnya berhenti.Tetap tidak ada.Setyo ragu beberapa detik, lalu dengan hati-hati menoleh ke belakang.Bahkan bayanganku pun tidak terlihat.Apa yang terjadi?Secara refleks Setyo melangkah cepat dua langkah ke depan. Tatapannya yang tajam menyapu sekeliling bangku istirahat, sisi kiri dan kanan konter check-in, bahkan di balik pilar lorong.Namun tidak ada.Di mana pun tidak ada!"Milla?"Setyo berseru tanpa sadar, suaranya dipenuhi kegelisahan.Namun selain tatapan para penumpang di sekitarnya, tidak ada jawaban apa pun.Saat itulah asistennya berjalan cepat mendekat dan mengingatkan dengan suara pelan, "Tuan Setyo, pesawat Nona Riska sudah mendarat. Sebentar lagi dia akan keluar."Setyo pun menarik napas dalam-dalam, berusaha keras menekan perasaan kehilangan kendali yang tiba-tiba muncul di dalam hat

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 5

    Aku mendengarkan dengan tenang.Jangankan berdebat, bahkan mengerutkan dahi pun aku tidak sudi.Dengan patuh aku menyeret koperku, melangkah keluar dari vila itu tanpa banyak bicara.Saat asisten melapor, dia bilang kalau aku pergi tanpa menoleh sedikit pun. Tak ada sisa rindu untuk tempat yang sudah kutempati lebih dari tiga tahun itu.Wajah Setyo seketika berubah muram."Beri Milla tekanan lewat pihak panti perawatan ibunya."Tak lama berselang, pihak panti meneleponku hanya untuk memberikan sebuah “peringatan”.Aku mendengarkannya dengan tenang, mengucap terima kasih, lalu memakai uang hasil kesepakatan itu untuk memindahkan perawatan ibuku.Seluruh proses itu kuselesaikan sendiri tanpa bantuan Setyo, bahkan tanpa satu pun keluhan yang keluar.Saat dia sedang menyusun rencana berikutnya untuk memaksaku menyerah, Riska tiba-tiba pulang lebih awal dari jadwal semula.Asistennya secara “tidak sengaja” membocorkan kabar kepulangan itu kepadaku.Kebetulan sekali, jadwal keberangkatanku k

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status