Share

Tanggal Kadaluarsa Cinta
Tanggal Kadaluarsa Cinta
Author: Sahur

Bab 1

Author: Sahur
Layar ponselku menyala di tengah kegelapan. Muncul dua pesan bersamaan.

Pesan pertama dari Riska Gayatri.

[Aku akan segera kembali. Sisa pembayaran sudah kutransfer. Aku kasih kamu waktu tiga hari untuk putus dengannya. Setelah itu jangan pernah muncul di hadapan Setyo!]

Tak lama kemudian, muncul notifikasi dari bank.

[Rekening Anda dengan nomor akhir 8979 menerima transfer antarbank sebesar 2 miliar.]

Aku tersenyum, kemudian dengan cekatan mengetik balasan pesan.

[Sudah kuterima. Semoga kalian berakhir bahagia bersama.]

Namun setelah pesan itu terkirim, senyumku justru membeku di bibir.

Tiga tahun hidup sebagai pengganti yang sadar diri, kini berakhir dengan sisa pembayaran sebesar 2 miliar.

Ini benar-benar transaksi yang bahkan dewa rezeki pun akan menganggapnya menguntungkan.

Bukankah harusnya aku senang?

Aku 'kan sudah lama menantikan hari ini. Uang ini cukup untuk memutus masa laluku, memutus masa lalu Milla yang diinjak-injak orang karena kemiskinan.

Aku akan segera meninggalkan Setyo, pria yang sudah sekian tahun kusukai.

Pikiran ini muncul tanpa membawakan kebahagiaan maupun kesedihan.

Hanya rasa pahit, kehilangan, dan kebingungan.

Pada akhirnya, aku perlahan tersenyum.

Merasa lega.

Akhirnya aku tak perlu lagi hidup sebagai bayangan orang lain.

Belum sempat aku menenangkan emosiku, ponselku sudah berdering. Dering khusus milik Setyo.

Aku mengerutkan keningku, lalu segera bangkit dan jawab panggilan itu.

Ini sudah menjadi kebiasaan selama tiga tahun terakhir. Begitu dipanggil, akan langsung angkat. Bagaimanapun aku itu pacar pengganti yang menempel padanya dengan memaksa diri. Di hadapan Setyo aku begitu nurut dan tidak dianggap sama sekali.

"Halo, Setyo."

Di tempat Setyo sana sangat gaduh. Dia bicara dengan nada memerintah, "Dalam waktu satu jam, datang ke Aula Perjamuan Satana. Dandan yang rapi, pakai gaun putih set ketiga di lemari."

Aku melirik waktu sebentar, ternyata sudah jam 1 subuh.

Aku pun tak kuasa menahan senyum getir.

Kalau dulu, aku selalu melakukannya asal dibayar.

Demi Setyo tidak meninggalkanku, bahkan jam 5 subuh pun aku akan bangun untuk menghadiri acaranya.

Namun, mengingat pesan Riska barusan, muncul keberanian untuk menghancurkan semuanya di benakku.

Karena sudah mau putus, buat apa menyiksa diri.

Aku mendengar diriku sendiri menjawab dengan suara yang tidak seperti biasanya, "Maaf, sudah larut. Aku sangat lelah, tidak ingin pergi."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 10

    Setyo menarik napas panjang.Seakan baru saja membulatkan tekad, dia menatapku dengan sorot mata yang sungguh-sungguh."Tiga tahun ini, aku banyak merenung.""Dulu aku masih kekanak-kanakan dan tidak mengerti apa pun. Caraku memperlakukanmu sangat buruk, aku bahkan tidak menghargaimu. Aku juga tak pernah sabar mendengar penjelasanmu. Dalam hubungan itu... pada akhirnya akulah yang bersalah.""Dan soal ucapan yang pernah kulontarkan dulu... seharusnya aku meminta maaf padamu sejak lama. Maafkan aku."Aku mendengarkannya dengan tenang, tanpa ada riak emosi di wajahku.Setelah Setyo berhenti bicara, aku hanya menggeleng pelan."Tidak perlu minta maaf. Lagi pula, dulu aku mengejarmu juga bukan dengan niat yang benar-benar tulus.""Kalau sejak awal cinta sudah tercampur urusan transaksi, kita tidak bisa menuntut kejujuran dari siapa pun."Aku terdiam sejenak, lalu menyunggingkan senyum yang sedikit mengejek diriku sendiri."Jadi... anggap saja kita impas."Setyo menatap mataku yang datar. J

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 9

    Kepulanganku kali ini jelas bukan kebetulan, semua karena undangan dari Riska.“Lama tidak bertemu, Nona Milla. Selamat datang kembali!"Aku menyambut tangannya, menjabatnya dengan ringan sambil memasang senyum tenang yang tampak profesional."Bu Riska, terima kasih sampai repot-repot menjemput sendiri begini."Kami sempat bertukar basa-basi sekadarnya layaknya rekan bisnis.Begitu masuk ke mobil, Riska langsung mengeluarkan proposal dari tasnya dan menyodorkannya padaku.“Jujur, aku kaget waktu tahu desainer di balik Air Mata Bulan itu kamu. Kerja sama kita akan fokus pada koleksi itu, merancang seri perhiasan mewah yang senada. Ini bakal jadi proyek utama grup kami tahun depan.”"Untuk perwakilan mereknya, pilihannya jatuh pada aktor pendatang baru, Yandhi Chantra. Auranya pas dengan kesan dingin di desainmu."Aku mengangguk pelan sambil mulai membolak-balik lembaran proposal itu.Setelah diskusi singkat dan merasa semuanya sudah cocok, aku menutup map di tanganku.Aku pun menoleh ke

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 8

    "Setyo, aku sudah merencanakan segalanya dengan cermat, setidaknya aku tahu apa yang kuinginkan.""Kalau kamu? Kamu tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan?"Setelah melemparkan pertanyaan itu, Riska menyambar serbet dan mengusap bibirnya dengan gerakan tak sabar.Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berbalik untuk pergi."Tunggu!"Setyo mendadak berdiri. Suaranya terdengar parau dan pecah."Milla... kenapa dia harus pergi? Dia begitu mencintaiku, bahkan saat..."Langkah Riska terhenti. Ia menoleh dan menatap Setyo yang tampak seperti orang linglung.Riska hampir saja tertawa melihat pemandangan itu."Pantas saja orang bilang pria kaya itu biasanya naif soal cinta. Tuan Setyo, kamu benar-benar polos.""Cinta? Menurutmu apa artinya cinta bagi gadis yang hidupnya sudah hancur karena kenyataan, yang difitnah dan dihina orang?""Dengan kondisinya dulu, dimaki orang di belakang, dihina langsung di depan muka, bahkan dikucilkan teman-temannya, kalau dia mau bertahan hidup dan punya nasib lebih

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 7

    Namun belakangan ini, tingkah Setyo jelas makin aneh.Dia jadi sangat sering melamun.Saat sedang memeriksa dokumen, ujung penanya sering tertahan terlalu lama di satu halaman, meninggalkan noda tinta yang tebal. Dia juga mulai sering melirik ponselnya tanpa sadar.Entah sebenarnya dia sedang menunggu pesan dari siapa.Ketika ia membuka jendela percakapan denganku, selain satu pesan yang dulu pernah ia kirim:[Kamu ke luar negeri?]Tidak ada balasan lain di sana, hanya sebuah tanda seru merah yang mencolok.Aku sudah memblokirnya.Dia membuka aplikasi, lalu keluar. Membuka lagi, kemudian membalik ponselnya dengan layar menghadap ke bawah dan membantingnya ke meja.Hal itu ia lakukan berulang-ulang.Tok tok.Sampai asistennya mengetuk pintu dan berkata dengan nada hormat, "Tuan Setyo, Anda ada janji makan malam dengan Nona Riska. Waktunya hampir tiba."Setyo tersentak dari lamunannya, lalu dengan tak acuh mengambil mantel dan berjalan keluar.Di meja makan, Riska tampil dengan riasan se

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 6

    Satu langkah, dua langkah, tiga Langkah...Isak tangis yang dia bayangkan tidak terdengar.Di belakang Setyo juga tidak ada gerakan aneh apa pun.Langkahnya semakin melambat, hingga akhirnya berhenti.Tetap tidak ada.Setyo ragu beberapa detik, lalu dengan hati-hati menoleh ke belakang.Bahkan bayanganku pun tidak terlihat.Apa yang terjadi?Secara refleks Setyo melangkah cepat dua langkah ke depan. Tatapannya yang tajam menyapu sekeliling bangku istirahat, sisi kiri dan kanan konter check-in, bahkan di balik pilar lorong.Namun tidak ada.Di mana pun tidak ada!"Milla?"Setyo berseru tanpa sadar, suaranya dipenuhi kegelisahan.Namun selain tatapan para penumpang di sekitarnya, tidak ada jawaban apa pun.Saat itulah asistennya berjalan cepat mendekat dan mengingatkan dengan suara pelan, "Tuan Setyo, pesawat Nona Riska sudah mendarat. Sebentar lagi dia akan keluar."Setyo pun menarik napas dalam-dalam, berusaha keras menekan perasaan kehilangan kendali yang tiba-tiba muncul di dalam hat

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 5

    Aku mendengarkan dengan tenang.Jangankan berdebat, bahkan mengerutkan dahi pun aku tidak sudi.Dengan patuh aku menyeret koperku, melangkah keluar dari vila itu tanpa banyak bicara.Saat asisten melapor, dia bilang kalau aku pergi tanpa menoleh sedikit pun. Tak ada sisa rindu untuk tempat yang sudah kutempati lebih dari tiga tahun itu.Wajah Setyo seketika berubah muram."Beri Milla tekanan lewat pihak panti perawatan ibunya."Tak lama berselang, pihak panti meneleponku hanya untuk memberikan sebuah “peringatan”.Aku mendengarkannya dengan tenang, mengucap terima kasih, lalu memakai uang hasil kesepakatan itu untuk memindahkan perawatan ibuku.Seluruh proses itu kuselesaikan sendiri tanpa bantuan Setyo, bahkan tanpa satu pun keluhan yang keluar.Saat dia sedang menyusun rencana berikutnya untuk memaksaku menyerah, Riska tiba-tiba pulang lebih awal dari jadwal semula.Asistennya secara “tidak sengaja” membocorkan kabar kepulangan itu kepadaku.Kebetulan sekali, jadwal keberangkatanku k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status