Share

Bab 3

Author: Sahur
Setyo langsung menoleh dengan cepat. Untuk pertama kalinya, wajahnya menunjukkan keterkejutan.

Namun tak lama kemudian, ekspresi itu segera digantikan oleh kemarahan.

"Putus?"

"Milla, dengan status dan hak apa kamu berani bicara putus padaku?"

Setyo mencibir, nada bicaranya dipenuhi ejekan tak percaya.

“Kenapa? Sekarang kamu sudah tidak mengejarku lagi? Tidak lagi menempel dan membuntutiku ke mana-mana? Kamu pikir sanggup hidup tanpaku?”

"Menurutmu dengan pakai gaun hitam dan membantahku, apa yang bisa kamu ubah? Hentikan pikiran konyolmu itu. Jangan sampai membuatku benar-benar kehilangan minat padamu."

"Semua yang kuberikan padamu bisa kuambil kapan saja. Termasuk... panti perawatan tempat ibumu dirawat. Masih bisa menerima biaya bulan depan atau tidak, itu tergantung suasana hatiku."

Aku mengepalkan tangan dengan kuat.

Uang, lagi-lagi soal uang.

Sejak kecil hingga dewasa, hidupku seolah hanya demi uang.

Aku benar-benar muak dengan penghinaan ini.

Sebenarnya uang yang diberikan Riska sudah cukup untuk menanggung sendiri biaya panti perawatan itu.

Namun aku tidak bisa.

Aku tidak bisa menjelaskan dari mana asal uang itu.

Bagaimanapun dulu aku sudah janji padanya untuk merahasiakannya. Kalau aku melanggar, aku takut dia malah meminta kembali uangnya.

Melihat aku menundukkan kepala dan tak lagi bicara, aku tampak seolah sudah menyerah.

Setyo pun kembali bersandar di kursinya. Wajahnya dipenuhi kesombongan dan penghinaan.

"Sepertinya kamu sudah mengerti. Ke depannya jangan lagi melakukan hal bodoh yang tidak pantas seperti ini."

"Aku tidak akan memberimu kesempatan kedua."

Mungkin karena aku memang sudah tidak mencintainya lagi.

Aku kembali jadi penurut seperti dulu, bahkan lebih patuh dari sebelumnya.

Setyo merasa sangat puas melihat sikapku yang sadar akan kenyataan. Tak ada lagi perlakuan dingin seperti sebelumnya. Sebaliknya, seolah ingin membuktikan sesuatu, dia bahkan membawaku ke sebuah jamuan makan.

Di meja makan, Tuan Heru dari perusahaan lawan terus menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.

Setyo jelas menyadarinya.

Namun dia bukan hanya tidak menghentikannya, malah di bawah meja menahan tanganku yang ingin bangkit dan pergi.

Bahkan ketika Tuan Heru sekali lagi menatapku dengan pandangan mesum, Setyo berbisik di telingaku, "Tuan Heru sangat penting untuk kerja sama berikutnya. Temani dia minum satu gelas, ya?"

Aku membelalakkan mata, lalu bertanya dengan wajah tak percaya, "Apa maksudmu?"

Setyo terlihat puas dengan penolakanku, lalu dia tersenyum.

"Maksudku sederhana saja, menurutlah."

"Anggap saja ini hukuman kecil karena kamu sudah berani mengajukan putus."

Aku menatap wajah Setyo.

Untuk pertama kalinya aku merasa, wajahnya tak ada bedanya dengan wajah orang-orang yang dulu menghina dan memfitnahku.

Setelah bersama selama bertahun-tahun, baru kusadari dengan pahit bahwa isi hatinya ternyata sama kotornya.

Milla, kamu tidak pernah benar-benar diselamatkan.

Aku mengerutkan kening, tiba-tiba rasa lelah yang luar biasa menyerangku.

"Tuan Setyo, kudengar Nona Riska sudah akan kembali."

"Aku mengajukan putus bukankah justru untuk menyempurnakan kalian berdua? Kenapa kamu malah marah dan sengaja mempermalukanku?"

"Lagi pula setiap kali Anda mabuk, Anda selalu memelukku sambil memanggil nama Riska. Saat Nona Riska kembali nanti, bukankah lebih baik Anda ungkapkan saja isi hati kepada orang yang sebenarnya?"

Dia justru menanyaiku dengan tidak sabar, "Kenapa? Jadi belakangan ini tingkah kekanak-kanakanmu itu hanya karena kamu sedang merajuk padaku soal ini?"

Aku mencibir pelan, merasa semuanya begitu konyol.

"Tuan Setyo terlalu banyak berpikir. Tentu saja aku sadar diri bahwa aku tidak pantas dibandingkan dengan Riska."

"'Dia mana pantas dibandingkan dengan Milla? Aku hanya merasa kalian terlalu berisik. Entah dia menjual dirinya atau tidak, apa urusannya denganku?' Ucapan yang dulu kamu katakan pada temanmu, aku masih ingat jelas."

Setyo tertegun.

Dia tidak menyangka aku mengetahui semua ini.

Aku menoleh dan menyuruh pelayan di samping untuk mengisi penuh kembali gelas birku.

Nada bicaraku dipenuhi rasa muak terhadap diriku sendiri.

"Setyo, dulu kamu satu-satunya orang yang membelaku. Karena itu aku sangat mencintaimu. Bahkan jika harus mengejarmu tanpa harga diri, bahkan jika kamu menganggapku hanya sebagai pengganti, aku tidak keberatan. Tidak masalah asalkan aku bisa selalu di sisimu."

"Tapi sekarang, sepertinya kamu benar-benar menganggap aku 'menjual diri', ya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 10

    Setyo menarik napas panjang.Seakan baru saja membulatkan tekad, dia menatapku dengan sorot mata yang sungguh-sungguh."Tiga tahun ini, aku banyak merenung.""Dulu aku masih kekanak-kanakan dan tidak mengerti apa pun. Caraku memperlakukanmu sangat buruk, aku bahkan tidak menghargaimu. Aku juga tak pernah sabar mendengar penjelasanmu. Dalam hubungan itu... pada akhirnya akulah yang bersalah.""Dan soal ucapan yang pernah kulontarkan dulu... seharusnya aku meminta maaf padamu sejak lama. Maafkan aku."Aku mendengarkannya dengan tenang, tanpa ada riak emosi di wajahku.Setelah Setyo berhenti bicara, aku hanya menggeleng pelan."Tidak perlu minta maaf. Lagi pula, dulu aku mengejarmu juga bukan dengan niat yang benar-benar tulus.""Kalau sejak awal cinta sudah tercampur urusan transaksi, kita tidak bisa menuntut kejujuran dari siapa pun."Aku terdiam sejenak, lalu menyunggingkan senyum yang sedikit mengejek diriku sendiri."Jadi... anggap saja kita impas."Setyo menatap mataku yang datar. J

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 9

    Kepulanganku kali ini jelas bukan kebetulan, semua karena undangan dari Riska.“Lama tidak bertemu, Nona Milla. Selamat datang kembali!"Aku menyambut tangannya, menjabatnya dengan ringan sambil memasang senyum tenang yang tampak profesional."Bu Riska, terima kasih sampai repot-repot menjemput sendiri begini."Kami sempat bertukar basa-basi sekadarnya layaknya rekan bisnis.Begitu masuk ke mobil, Riska langsung mengeluarkan proposal dari tasnya dan menyodorkannya padaku.“Jujur, aku kaget waktu tahu desainer di balik Air Mata Bulan itu kamu. Kerja sama kita akan fokus pada koleksi itu, merancang seri perhiasan mewah yang senada. Ini bakal jadi proyek utama grup kami tahun depan.”"Untuk perwakilan mereknya, pilihannya jatuh pada aktor pendatang baru, Yandhi Chantra. Auranya pas dengan kesan dingin di desainmu."Aku mengangguk pelan sambil mulai membolak-balik lembaran proposal itu.Setelah diskusi singkat dan merasa semuanya sudah cocok, aku menutup map di tanganku.Aku pun menoleh ke

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 8

    "Setyo, aku sudah merencanakan segalanya dengan cermat, setidaknya aku tahu apa yang kuinginkan.""Kalau kamu? Kamu tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan?"Setelah melemparkan pertanyaan itu, Riska menyambar serbet dan mengusap bibirnya dengan gerakan tak sabar.Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berbalik untuk pergi."Tunggu!"Setyo mendadak berdiri. Suaranya terdengar parau dan pecah."Milla... kenapa dia harus pergi? Dia begitu mencintaiku, bahkan saat..."Langkah Riska terhenti. Ia menoleh dan menatap Setyo yang tampak seperti orang linglung.Riska hampir saja tertawa melihat pemandangan itu."Pantas saja orang bilang pria kaya itu biasanya naif soal cinta. Tuan Setyo, kamu benar-benar polos.""Cinta? Menurutmu apa artinya cinta bagi gadis yang hidupnya sudah hancur karena kenyataan, yang difitnah dan dihina orang?""Dengan kondisinya dulu, dimaki orang di belakang, dihina langsung di depan muka, bahkan dikucilkan teman-temannya, kalau dia mau bertahan hidup dan punya nasib lebih

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 7

    Namun belakangan ini, tingkah Setyo jelas makin aneh.Dia jadi sangat sering melamun.Saat sedang memeriksa dokumen, ujung penanya sering tertahan terlalu lama di satu halaman, meninggalkan noda tinta yang tebal. Dia juga mulai sering melirik ponselnya tanpa sadar.Entah sebenarnya dia sedang menunggu pesan dari siapa.Ketika ia membuka jendela percakapan denganku, selain satu pesan yang dulu pernah ia kirim:[Kamu ke luar negeri?]Tidak ada balasan lain di sana, hanya sebuah tanda seru merah yang mencolok.Aku sudah memblokirnya.Dia membuka aplikasi, lalu keluar. Membuka lagi, kemudian membalik ponselnya dengan layar menghadap ke bawah dan membantingnya ke meja.Hal itu ia lakukan berulang-ulang.Tok tok.Sampai asistennya mengetuk pintu dan berkata dengan nada hormat, "Tuan Setyo, Anda ada janji makan malam dengan Nona Riska. Waktunya hampir tiba."Setyo tersentak dari lamunannya, lalu dengan tak acuh mengambil mantel dan berjalan keluar.Di meja makan, Riska tampil dengan riasan se

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 6

    Satu langkah, dua langkah, tiga Langkah...Isak tangis yang dia bayangkan tidak terdengar.Di belakang Setyo juga tidak ada gerakan aneh apa pun.Langkahnya semakin melambat, hingga akhirnya berhenti.Tetap tidak ada.Setyo ragu beberapa detik, lalu dengan hati-hati menoleh ke belakang.Bahkan bayanganku pun tidak terlihat.Apa yang terjadi?Secara refleks Setyo melangkah cepat dua langkah ke depan. Tatapannya yang tajam menyapu sekeliling bangku istirahat, sisi kiri dan kanan konter check-in, bahkan di balik pilar lorong.Namun tidak ada.Di mana pun tidak ada!"Milla?"Setyo berseru tanpa sadar, suaranya dipenuhi kegelisahan.Namun selain tatapan para penumpang di sekitarnya, tidak ada jawaban apa pun.Saat itulah asistennya berjalan cepat mendekat dan mengingatkan dengan suara pelan, "Tuan Setyo, pesawat Nona Riska sudah mendarat. Sebentar lagi dia akan keluar."Setyo pun menarik napas dalam-dalam, berusaha keras menekan perasaan kehilangan kendali yang tiba-tiba muncul di dalam hat

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 5

    Aku mendengarkan dengan tenang.Jangankan berdebat, bahkan mengerutkan dahi pun aku tidak sudi.Dengan patuh aku menyeret koperku, melangkah keluar dari vila itu tanpa banyak bicara.Saat asisten melapor, dia bilang kalau aku pergi tanpa menoleh sedikit pun. Tak ada sisa rindu untuk tempat yang sudah kutempati lebih dari tiga tahun itu.Wajah Setyo seketika berubah muram."Beri Milla tekanan lewat pihak panti perawatan ibunya."Tak lama berselang, pihak panti meneleponku hanya untuk memberikan sebuah “peringatan”.Aku mendengarkannya dengan tenang, mengucap terima kasih, lalu memakai uang hasil kesepakatan itu untuk memindahkan perawatan ibuku.Seluruh proses itu kuselesaikan sendiri tanpa bantuan Setyo, bahkan tanpa satu pun keluhan yang keluar.Saat dia sedang menyusun rencana berikutnya untuk memaksaku menyerah, Riska tiba-tiba pulang lebih awal dari jadwal semula.Asistennya secara “tidak sengaja” membocorkan kabar kepulangan itu kepadaku.Kebetulan sekali, jadwal keberangkatanku k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status