“Kuenya, bukan saya.” Aurin memprotes cepat, wajahnya memerah. Sementara itu, Rayden mengangguk pelan sembari menahan senyum di bibirnya. “Oh, …. Saya kira kamu sedang menggoda saya “ Aurin mengangkat wajah. Namun sebelum ia sempat membalas, Rayden lebih dulu mencengkeram pergelangan tangannya yang masih memegang garpu kecil. Tidak kuat, namun cukup membuat Aurin tersentak kecil. Ia menatap pria itu gugup. Setelah Rayden mencondongkan wajahnya dan memakan kue itu, ia tak melepas tatapannya dari Aurin. Ia memuji terang-terangan, “Kue ini lebih enak karena kamu yang menyuapi saya.” “Jangan gombal!” Aurin membalas ucapan itu, tersipu, rona merah di pipinya semakin kentara. Kemudian, ia mengerjap lamban. Ia teringat sesuatu. “Kamu biasanya tidak makan manis setelah pukul tujuh malam. Tumben sekali makan banyak.” Rayden juga mengingat, bahwa biasanya ia menjaga diri dari makanan manis seperti ini. Kalori tinggi, gula, sekaligus pola hidup yang sehat selalu ia perhitungkan dengan
Read more