LOGIN“Tidak, Vince! Kamu jangan gila! Kamu pasti bohong, ‘kan? Ini semua tidak benar, ‘kan?”
Begitu membaca pesan itu, Dea langsung menghubungi Vince. Ia membentak lewat telepon yang telah tersambung, lalu kembali menyandarkan tubuhnya di pinggir ranjang. Kakinya terasa begitu lemas, seolah-olah seluruh tenaga dan nyawanya tersedot habis hanya karena apa yang baru saja ia baca. Isi pesan itu … seperti pukulan telak yang meluluh lantakkan segala hal yang selama ini ia“Jenis kelaminnya adalah ….” Aurin merasakan jantungnya berdebar tak menentu. Kedua bola matanya terpaku pada layar monitor di hadapannya. Rasa cemas mulai menyusup ke dalam relung dada. Ia takut jika hasilnya kembali perempuan, kekecewaan di wajah Rayden adalah hal terakhir yang ingin ia lihat saat ini. Sementara di sampingnya, Rayden pun tampak menunggu dengan hati yang tak kalah gelisah. Harapan besar tergantung di sana. Meski bibir mengucap ‘perempuan saja tidak masalah’, namun sesungguhnya ia sangat mendambakan anak laki-laki. Jika kelak terlahir sepasang— laki-laki dan perempuan— maka segala hal akan terasa lebih lengkap dan lebih indah. Baby boy-nya kelak akan menjadi pelindung tangguh bagi putri, menjaga dan memposisikan diri sebagai kakak yang posesif—yang akan senantiasa menjaga adiknya bahkan hingga ia tiad
“Bukti penggelapan dana perusahaan yang telah dilakukan oleh seseorang. Lagunya sudah diamankan oleh anak buah kita dan kasusnya sebentar lagi akan dinaikkan ke meja hijau.” “Benarkah?” Penjelasan yang dipaparkan oleh Rayden sama sekali tak membuat Dea percaya begitu saja. Telinganya masih cukup sensitif untuk dengan sangat jelas ada kata ‘mediasi’ yang terselip diantara percakapan itu. Benaknya menduga, suaminya berbohong. Dea menipiskan bibir. Ia menata tajam ke arah suaminya yang kini beranjak mendekat. “Aku sempat mendengar salah satu dari kalian menyebut kata ‘mediasi’ lagi. Masalah berat seperti apa sampai harus diadakan mediasi untuk kedua kali?” Rayden tahu, Dea selalu memiliki pemikiran yang kritis. Untuk mengulur waktu, ia memilih membimbing istrinya agar kembali duduk. Ia berusaha mengalihkan perhatian wanita itu supaya tidak semakin curiga. “Duduk dulu, kita bicara
“Saya belum bisa memutuskan apapun.” Rayden menghela napas panjang. Ucapan Jack merasuk bahkan hingga ke sumsum tulangnya. Ia berpikir, Aurin belum mau menjawab karena anak pertama saja belum lahir. Ternyata, masalahnya lebih spesifik daripada itu. Jack mengetatkan rahangnya. Ia agak jengkel lantaran Rayden tak memberi respon positif. Kini, ia memberi jeda sebentar lantaran sedang menyusun kalimat agar pesannya tersampaikan dengan tepat pada sang majikan. Sebelum akhirnya, ia kembali memaparkan hal yang paling penting di antara lainnya. “Ini bukan masalah yang sepele, Tuan. Tolong pikirkan mulai dari sekarang.” Ucapan Jack memang tidak terlalu keras, namun cukup menekan. Ia ingin Rayden segera mengambil keputusan. Jack memaparkan argumennya. “Selain yang tadi, belum lagi soal peraturan dan ketentuan yang sangat berbeda antara di negara ini dan di negara
“Kita lakukan bayi tabung untuk mendapatkan bayi laki-laki. Bagaimana menurutmu?” Tawaran Rayden tentu menguntungkan bagi Aurin. Sama seperti saat ini, Aurin hanya diminta hamil, diminta melahirkan pewaris, dan imbalannya tentu saja uang banyak. Namun, apakah siklus ini akan terus berulang seperti itu? Akankah mereka menciptakan anak terus-menerus tanpa ada landasan perkawinan yang sah? Lalu, bagaimana dengan nasib legalitas dan keabsahan dokumen anak-anak itu nanti? Memang, segalanya mungkin bisa diatur dan bahkan bisa dibeli dengan kekayaan yang mereka miliki. Namun, ada satu hal yang tak bisa mereka beli di masa mendatang, yaitu kesadaran dan waktu. Di masa depan, saat akal dan pemikiran anak-anak mereka telah matang, anak-anak pasti akan bertanya secara kritis, tajam, dan tentunya penuh rasa ingin tahu. Mereka akan bertanya banyak h
“Mengapa kamu bolak balik ke toilet? Mulas? Kontraksi, atau perutmu sakit?” Rayden menghadang Aurin sebelum wanita itu keluar dari toilet. Tatapan pria itu langsung menelusuri wajah wanita di depannya—yang sedang merapikan penampilan di depan cermin kecil. Sejurus kemudian, Aurin menoleh dan tersenyum kecil. Ia sama sekali tak menyangka Rayden memperhatikan hal sekecil itu di tengah situasi seperti ini. Aurin berjinjit, telapak tangannya membentuk setengah corong saat berbisik pada Rayden. “Saya sering buang air kecil. Perkembangan Triplets yang semakin besar dari hari ke hari menekan kandung kemih. Untuk itu saya sering ke toilet,” jawab Aurin, pelan sekali hingga hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya. Tatapan Rayden langsung turun ke perut Aurin yang tertutup coat hitam. Wajahnya berubah serius, kerutan samar terpampang jelas di dahinya. Telapak tangannya tergerak menyen
“Tidak, Vince! Kamu jangan gila! Kamu pasti bohong, ‘kan? Ini semua tidak benar, ‘kan?” Begitu membaca pesan itu, Dea langsung menghubungi Vince. Ia membentak lewat telepon yang telah tersambung, lalu kembali menyandarkan tubuhnya di pinggir ranjang. Kakinya terasa begitu lemas, seolah-olah seluruh tenaga dan nyawanya tersedot habis hanya karena apa yang baru saja ia baca. Isi pesan itu … seperti pukulan telak yang meluluh lantakkan segala hal yang selama ini ia bangun. Suara Vince juga terdengar tegang dari seberang telepon. “Aku juga tidak tahu! Aku bahkan baru mengetahui hari! Itulah sebabnya Aku mau memintamu segera kembali dan menemuiku untuk membicarakan masalah ini!” Sejenak, Dea mengembus napas yang mulai memburu. Setiap helaanya terasa berat sekali. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia memutus sambungan telepon itu sepihak dengan kasar. Di dalam ruang kamar yang sunyi itu, ia mematung. Diam, terbengong b
Aurin menahan nafas dengan tangan gemetar saat memegang gagang pintu dengan gerakan yang sangat lambat. Ia hanya ingin segera keluar dari kamar yang masih kental dengan aroma gairah dan dosa itu sebelum Rayden terbangun. Namun, baru saja pintu kamar itu sedikit terbuka dan celah cahaya dari kori
“Ahhh …. Jangan hanya diam dan menatapku seolah aku ini monster,” bisik Rayden. Jari jemarinya yang kasar membelai paha Aurin dan memberikan tekanan yang menuntut. “Tunjukkan padaku betapa kamu menginginkanku. Kendalikan aku sesuka hatimu atau kamu akan menyesali hukuman yang kuberikan nanti ka
“Apa itu artinya ... kamu tidak mencintaiku lagi dan memilih merelakanku untuk wanita lain?”Rayden terpaku. Ketegangan di antara mereka benar-benar terasa menyesakkan dada. Satu pemikiran pahit menyelinap dalam benak, membuatnya melontarkan pertanyaan yang paling ia takuti itu.
Langkah Aurin mendadak tertahan di ambang pintu. Di hadapannya, berdiri Rita Wisesa—ibunya Rayden. Meski belum pernah bertemu Rita sebelumnya, tapi Aurin pernah melihat sosok wanita ini ada di foto dekat ruang keluarga. Ia pun menebak demikian.“Mengapa wajahmu merah?” tanya wanita itu s







