“Hei, hei, ada apa?” Rayden memutari tubuh Aurin.Ia menelisik dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rasanya, tidak ada yang salah dengan penampilan wanita itu. Bajunya rapi, wajahnya pun bersih.Lantas, apa yang berbeda? Mengapa Aurin malah menunjuk dirinya sendiri seperti ini dengan raut wajah yang begitu muram?“Sayang!” Rayden mengulang panggilannya ketika Aurin masih tak menjawab sepatah kata pun. “Katakan ada apa!”Isi kepala Rayden mendadak berpikir liar. Sebagai suami baru yang masih awam, ketakutan luar biasa seketika menyergapnya. Ia takut, sangat takut jika Aurin mengalami pendarahan nifas, jahitannya di perut lepas, atau hal-hal mengerikan lainnya yang pernah ia dengar samar-samar tentang risiko pasca melahirkan.Melihat kepanikan suaminya yang sudah sampai ke ubun-ubun, Aurin akhirnya mendesah berat, lalu menyentuh wajah dan rambutnya dengan kedua tangan. “Seminggu belakangan, anak-anak kita mengajak begadang.” Aurin memberitahukan, dan Rayden tercengang.“Begadang? Kena
더 보기