Empat tahun telah berlalu, dan keheningan pagi di kediaman Rayden hanyalah mitos belaka.“Mommy! Kaos kaki aku hilang sebelah diambil Reynand!” pekik Reinhard dengan suara melengking.“Mana ada!” balas Reynand tak mau kalah. Meski suaranya tak meninggi, namun ia tetap membantah. Ia tunjukkan telapak kakinya yang dibalut sandal, belum memakai sepatu. “Kaos kaki yang kupakai ini inisialnya RN, wlee! Punyamu kan RH!” Tak mau kalah dengan kedua kakaknya, Nora—si bungsu, ikut merengek. Bahkan, si cengeng satu ini mulai terisak. “Mommy, lihat! Bunga di bando Nora copot satu diambil Ko Reinhard!”“Heh, fitnah!” Reinhard, si sulung yang memang paling bandel di antara kedua saudaranya yang lain, langsung berkacak pinggang di depan si bungsu. “Siapa juga yang ingin memainkan bunga jelek di bandomu? Tidak ada gunanya aku memainkannya! Aku lebih suka mobil-mobilan! Camkan itu, Cengeng!”Nora semakin meraung. “Huaaaa! Mommy, Daddyyyyy, Koko bilang aku cengeng!”Melihat adiknya semakin menangis ta
더 보기