“Wah, anak-anak bibi keren sekali, ya,” ucap Amanda, sengaja memberi validasi Hannah yang inginkan.Dia berharap pujian itu membuat Hannah melupakan soal pekerjaan suaminya, tapi ternyata itu tak berefek apa-apa.Hannah masih saja mengangkat topik yang sama. “Iya, dong. Anak-anak bibi, kan, semuanya disekolahkan di lembaga terbaik. Lalu, pekerjaan suamimu apa? Oh ya, bibi lupa, kamu kan dulunya janda. Pasti yang mau menerimamu itu duda dengan pekerjaan yang biasa saja, ya? Yang penting dapat mencukupi kebutuhan harian kalian?”Kepala Amanda mulai memanas. Bukan hanya dirinya, tapi juga Clara. Mulut Hannah yang asal celoteh tanpa disaring terlebih dahulu membuat telinga Clara panas. Dia mengepalkan tangan, hendak menghampiri Amanda.Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar Amanda berdeham sekali, menandakan bahwa ibunya masih bisa menjawabnya seorang diri, tanpa bantuan siapa pun. “Soal itu—”Pintu aula tiba-tiba terbuka, menyela Amanda yang akan mengeluarkan balasan menohok.
Baca selengkapnya