Selama perjalanan menuju Ibu Kota, Clara lebih banyak terdiam. Dia jarang sekali membuka mulut, hanya berbicara ketika ingin ke toilet atau lapar. Amanda tahu, putrinya tidak ingin membicarakan soal tragedi penculikan yang menimpanya. Lebih tepatnya, belum.Entah kapan Clara akan lapang hati untuk membahasnya, Amanda akan menunggu momen itu. Tak peduli seberapa lamanya, dia ingin Clara sendiri yang bersedia untuk menceritakan, bukan karena terpaksa.Di pesawat, Clara pun lebih banyak tidur. Seperti sekarang. Amanda menyandarkan punggung di kursi, tangan terlipat di dada. Matanya menatap pemandangan gumpalan awan berwarna oranye kemerahan di luar sana, memancarkan pantulan sinar fajar di ufuk timur. Saat Clara masuk sekolah nanti, semuanya pasti heboh. Berita Clara diculik tentu sudah masuk kabar sekolah, mengingat teman-teman Clara berada dalam tragedi awal yang sama. Apalagi, Nerissa adalah wali murid yang aktif membangun relasi dengan wali murid lain—tak seperti Amanda. Tidak me
Zuletzt aktualisiert : 2026-05-20 Mehr lesen