“Kalau begini terus, aku bisa-bisa dikucilkan! Mama tahu nggak, sih, kalau mereka bilang orang tuaku ‘strict’? Yang terlalu ketat bahkan sampai jajan di kafe saja nggak boleh?” Clara benar-benar mengeluarkan apa saja yang selama ini dipendam olehnya. Amanda melotot, hendak menjawab perkataan Clara. Namun, gadis itu kembali mengoceh. “Mama tahu, aku sampai harus menolak beberapa tawaran main jauh karena tahu Mama nggak akan izinin. Kupikir, kalau aku bisa jadi anak penurut, seenggaknya Mama akan izinin sekali saja aku nginap di rumah teman. Tapi ternyata sama saja,” keluh Clara. “Sampai kapan Mama mau batesin aku terus? Apa nanti kalau dewasa, Mama juga nggak akan ngelepas aku buat nikah?’ Mata Clara mulai basah. Gadis itu mulai meneteskan air mata perlahan. Satu tetes, dua tetes, hingga akhirnya mengalir deras membasahi pipinya. Clara menangis sesenggukan, tidak kuasa menahan emosinya. Melihat hal tersebut, Amanda menjadi melunak. Awalnya, dia akan tegas dan tetap menolak kem
اقرأ المزيد