Marsha menaruh kembali sendok dan garpunya di pinggir piring, selera makannya sudah benar-benar hilang. Semestinya, pembicaraan ini dilakulan di cafe atau coffee shop saja, seporsi mie tektek yang cukup banyak itu jadi tak termakan. Sedangkan, di coffee shop, Marsha bisa memesan segelas americano hangat dengan sepotong brownies atau cream puff. Perempuan dengan tinggi badan 170 cm itu, menghela napasnya. Hanya itulah yang dapat ia lakukan, mau marah bagaimana, cuma buang-buang energi saja. Dengan helaan napas itulah, Marsha mengikhlaskan hal itu terjadi padanya. Miris memang. Padahal ia bisa mendapatkan laki-laki yang lebih dari Rafli, namun rasa cintanya yang begitu dalam, membuat logikanya sedikit buntu. “Makasih sudah menjelaskan semuanya, aku mau pulang…” Marsha mengatakan kalimat itu dengan lirih dan pelan. Ia beranjak dari duduknya, matanya tak lagi menoleh ke arah Rafli, ia berjalan melewati Fahmi dan Nabila. “Fahmi, makasih sudah mengawasi kami, tenang aj
Baca selengkapnya