Mata Fahmi melirik sang istri yang terkejut dengan jawabannya. Ia tersenyum menggoda, jawaban itu memang benar adanya. Ia tidak keceplosan sama sekali. “Beneran, Mas?” Nabila berharap suaminya bercanda. Fahmi mengganti senyumnya menjadi hangat sembari menatap sang istri. “Maaf, ya, mau nyebut nama kamu langsung, rasanya lidah agak kaku,” jelasnya. “Iya, tapi…” Nabila menatap suaminya. “Kalo lagi kerja, kan nggak enak, nanti dikira nggak profesional,” lanjutnya. Fahmi paham, ia juga sudah tahu arah pembicaraan sang istri. Besok-besok saat sedang bekerja ia tidak akan memanggil istrinya dengan sebutan ‘sayang’ lagi. “Iya, Sayang…” ucapnya paham. Nabila tersenyum hangat, lalu Fahmi beranjak dari duduknya. Ia berjalan keluar dari balik meja mengulurkan tangan pada istrinya. Uluran tangan itu disambut, mereka berjalan keluar dari ruang poli menuju kantin rumah sakit. Sembari berjalan melewati koridor yang menghubungkan antara ru
Read more