Mag-log inMata Nabila berbinar-binar dan langsung berembun saat melihat hasil yang ditunjukkan oleh alat tes kehamilan tersebut. Ia menutup mulutnya dengan tangan kiri, dadanya terasa hangat. Rasanya ia tak percaya pada apa yang disaksikan oleh netranya sekarang. Garis dua yang ditampilkan oleh alat itu sungguh mengejutkannya di pagi ini. Rasanya ia ingin segera memberi tahu sang suami yang masih terlelap, karena sekarang memang belum waktunya pria itu bangun seperti biasa. Nabila menyeka air matanya yang mengalir di pipi. Air mata kebahagiaan yang tumpah. Ia mengandung benih cinta yang ditanamkan oleh suami dan dirinya. Pernikahan ini terasa sangat membahagiakan dan lengkap dengan kabar baik ini. Sisa urin yang ada di dalam wadah, Nabila buang ke dalam kloset. Alat tes kehamilan tersebut ia simpan rapi di dalam sebuah amplop putih. Nanti ia akan berikan amplop tersebut pada sang suami. Rasanya tak sabar untuk segera memberikan benda itu pada belahan jiwa.
Ketika nama Fahmi disebut, Lili mundur selangkah. Wajahnya nampak pucat pasi. Gertakan tersebut langsung membuatnya takut. “Ja—jangan…” ucapnya terbata. Nabila menatap Lili. Ia tadi sengaja tak langsung menggunakan kekuatan sang suami. Ia ingin meyelesaikannya dengan sendiri, namun ternyata Lili begitu memaksa dan cukup kuat. “Dih, langsung takut kan kamu,” ucap Merina kesal. Lili tak membalas, ia terdiam. “Nab, bentar lagi poli mulai kan?” tanya Merina. Nabila mengangguk. “Iya, Kak,” jawabnya. “Buruan balik gih,” ucap Merina menyarankan Nabila untuk segera kembali ke ruang poli. Nabila mengangguk lagi. “Makasih, ya, Kak,” ucapnya sambil melangkah pergi meninggalkan toilet. “Nab,” panggil Lili lirih menahan langkah kaki Nabila yang baru saja bergerak. Nabila menoleh dengan kaki yang siap akan melangkah lagi, tiba-tiba Lili langsung berlutut di hadapannya. “Maafin aku. Aku benar-benar
Seisi toilet semuanya berubah menjadi gelap. Tak ada cahaya remang-remang, karena memang tak ada ventilasi, sirkulasi udara dibantu dengan kipas. Tubuh Nabila seketika membeku. Pikirannya teringat dengan saat ia dikerjai oleh Lili waktu itu. Nabila berusaha untuk tenang. Ia mengatur napasnya sebaik mungkin. Di ruang sempit ini, ia merasa seperti dicekik. Selain gelap, toilet terasa sunyi sekali, tak ada orang lain yang sedang menggunakan ruangan ini. Perlahan, setelah napas yang teratur, tangan Nabila bergerak merogoh saku scrubnya. Beruntung sekali ponsel ia bawa. Fitur senter dinyalakan, cahayanya menembus gelap gulita. Tangan Nabila membuka grendel pintu bilik toilet, ia melangkah keluar. Kakinya sudah mencapai di depan wastafel, lampu toilet kembali menyala. Mata Nabila mengerjap saat cahaya lampu kembali menguasai ruangan tersebut. Cukup silau, namun perasaannya lega. Gelap sungguh mengundang rasa traumanya. Ia melihat ke sekitar, toilet benar-bena
Sebuah sentuhan halus mendarat di kening Nabila, ia merasakannya, namun matanya berat sekali. Sentuhan itu terasa antara seperti mimpi, namun juga nyata. Telinganya sayup-sayup mendengar suara lembut memanggilnya dengan sebutan spesial.“Sayang…” sebutan itu mengalun di telinga Nabila, menjadikannya terus-terusan ingin mendengarnya. Nabila sedikit mengerang. Kelopak matanya seperti ditimpa batu dan lem super, dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk membukanya. “Sayang…” kali ini panggilan itu bersamaan dengan sentuhan lembut di kepalanya. Nabila masih terpejam, sentuhan itu sedang ia cerna, juga kenapa ia bisa tertidur. Perlahan meskipun terasa begitu berat, kelopak matanya terangkat sedikit. Sinar remang-remang lampu putih yang hangat menyusup ke dalam matanya. Mata Nabila mengerjap, kelopaknya menyapu sinar-sinar yang mengejutkan indra penglihatan. Beberapa kali mata itu membuka tutup, lalu menangkap sosok tampan di hadapannya tengah
Jarum jam terus bergerak, mata Nabila masih cukup kuat. Ia duduk di tepi tempat tidur memperhatikan jam dinding yang ada di kamar, waktu operasi caesar tidak begitu lama, namun setidaknya suaminya akan menghabiskan waktu kurang lebih dua jam di luar rumah. Nabila mengecek ponselnya, tak ada pesan dari sang suami, itu menandakan bahwa operasi masih berlangsung. Sendirian di rumah baru ini ternyata cukup membosankan, Nabila bingung mau melakukan apa. Tak ada pekerjaan rumah yang belum terjamah, setiap sudut rumah rapi dan bersih. Mau memasak, tapi mau membuat apa, ia tak ada ide, dan lagi pula ini sudah larut malam.“Mas Fahmi kayaknya masih lama ya…” gumam Nabila sendiri. Kemudian, ia beranjak dari duduk, berjalan keluar kamar menuju ruang keluarga. Tangannya meraih remote televisi. Nabila mengarahkan remote itu pada aplikasi menonton berbayar. Dari beranda muncul berbagai rekomendasi film dan series yang terlihat menarik. Ada juga genre horor dengan post
“Lanjutkan…” ucap Fahmi. Operasi berjalan dengan lancar, Fahmi telah menyelesaikan tugasnya, sisanya akan diteruskan oleh tim. Ia berjalan keluar dari ruang operasi, melepas sarung tangan, masker, jubah, dan penutup kepala. Ia mencuci tangan di wastafel, dari cermin terdapat pantulan dirinya, Fahmi melihat sekilas, lalu kembali fokus membersihkan tangan hingga ke siku. Koridor rumah sakit pada malam hari terasa lebih sepi, hanya ada satu atau dua orang yang lewat. Fahmi melangkah dengan santai, ia teringat dengan rumor yang biasa terjadi di rumah sakit. Rumor-rumor berbau horor itu juga dialami oleh rumah sakit milik keluarganya, hanya saja mereka tak begitu menanggapi. Bicara soal horor, Fahmi belum tahu apakah istrinya takut atau tidak pada hal semacam itu. Ia melirik jam tangannya, waktu semakin larut, ponselnya juga hening. Tak ada Nabila menghubunginya via pesan atau pun panggilan. Fahmi menghela nafasnya pelan, sepertinya Nabila sudah ti
‘Ah, apa hanya aku saja terlalu heboh? Atau mungkin dia tidak antusias?’ pikiran Nabila mulai berlebihan, namun cepat-cepat ia mengusirnya. “Gimana, Nabila?” tanya Khairul, ia ingin tahu bagaimana respon anak gadisnya. Nabila menoleh ke arah Khairul, tatapannya bingung, lalu i
Nabila, nanti malam keluarganya Om Abdul mau ke rumah kita, silaturahmi. Sekalian pertemukan kamu sama Fahmi. Begitulah isi pesan dari Khairul yang membuat Nabila kaget. “Malam ini?” Nabila mencoba mencerna apa yang tengah terjadi. Terasa dar der dor sekali.
"Dokter Fahmi?!” Nabila berseru, ia tak salah lihat nama yang tertulis di CV tersebut adalah atasannya. Khairul dan Farida saling menatap, lalu melihat ke arah anak gadisnya. “Kamu kenal?” tanya Khairul semakin antusias. Nabila mengangguk. “Iya, beliau ini atasanku di rumah sakit. Aku asist
“Enak ya jadi Nabila, bisa deket-deket terus sama dokter Fahmi,” ujar salah satu perawat di ruang jaga.“Bagi tipsnya dong, Bu Bidan Nabila,” sahut perawat lain.Nabila, gadis yang tengah memakai scrub dan kerudung berwarna merah muda itu hanya menggelengkan kepalanya sambil ter







