Semua telah diukur oleh Zena, dan ini bukan permainan lagi. Nyata. Hidup dan mati.Napasku mulai memburu mendengar semua kisah yang tertata rapi dari setiap kata di atas kertas putih yang disodorkan Zena.Tanpa sadar kuremas kertas tersebut hingga kusut. Mataku terpejam, kilatan peristiwa kematian Barion dan jantung Celia yang terbang dari tubuhnya jatuh tepat pada cengkeraman wanita picik itu."Tenang, atur emosimu, Luna. Ini belum waktunya," lirih Zena.Aku menelan ludah, "Tidak perlu menunda lagi, Zena. Kerahkan serigala yang masih setia padaku, kepung Kastil Rosario milik Edmundo."Zena menatapku penih tanya, kurespon singkat dengan anggukan kepala. Hembusan napasnya masih kudengar saat dia melangkah meninggalkan aku yang m,asih duduk di dekat jendela.'Apa kau sudah siap, Valen? Ini bukan sekedar permainan belaka.''Jangan khawatir, semua sudah kusiapkan.''Gio?'Kuhirup udara dingin malam hari tanpa sinar bulan, dadaku berdetak lebih cepat dan tubuhku gemetaran mengingat semua
Read more