Hailey mengembuskan napas pelan, dan mengintip dari balik jendela mobil Mathias sudah pergi. Ada rasa lega paling tidak pria itu sudah tidak pergi. Sebab jujur, rasa berani dalam dirinya seketika sering lenyap setiap kali berada di dekat Mathias. Entah, pria itu seperti memiliki kekuatan penuh menariknya, dan seolah menjerat dirinya.Dia kini menoleh ke jam dinding, rasa bosan mulai menggerogoti. Dulu, dia masih kerap membantu Brantley Group, meski hanya sekadar membantu tidak seperti kakaknya yang selalu dijadikan utama, tapi bisa dikatakan Hailey terkenal cerdas dalam bekerja. Hanya saja, sejak resmi menikah, Mathias Cameron membelenggunya, membuatnya tak berkutik. Bahkan untuk bisa pergi saja tidak mudah. Dia harus mendapatkan izin. Seperti kemarin hanya ke supermarket saja, pria itu mengancam seakan dirinya telah melakukan dosa besar.“Lama-lama aku mati bosan di sini,” keluh Hailey sambil mengembuskan napas panjang. Detik ini, dia masih tak mengerti jalan pikiran Mathias yang memb
Read more