تسجيل الدخول“Aku selama ini banyak diam dan mengalah, bukan karena aku pengecut. Aku hanya tidak punya pilihan,” jawab Hailey lugas memberanikan diri bersuara, menatap lurus pada manik mata pria di depannya. “Aku tidak bisa berontak saat menjadi pengganti kakakku karena utang budiku pada keluarga Brantley. Aku dibesarkan di sana. Aku diberikan makanan dan diberikan pendidikan layak. Aku diam karena aku tidak punya pilihan. Aku tahu tempatku. Sama seperti aku diam ketika kau memerintah apa pun. Karena aku sadar aku tidak memiliki hak untuk melawan. Sementara tiga karyawan tadi, tidak mengenalku hanya langsung menghakimiku karena statusku anak pungut. Perlu kau tahu, bahwa siapa pun anak di dunia ini tidak pernah ada yang mau menjadi anak pungut.”Mathias mendengar semua kata-kata Hailey dengan ekspresi dingin tanpa menyela sedikit pun. Pria itu sedikit menjauhkan posisinya, dan terus menatap Hailey dengan mata birunya yang tajam dan menusuk, seolah sedang membaca setiap inci emosi wanita itu. Mata
Oh, God! Mendadak kepala Hailey menjadi pusing bagai dihantam beban berat. Pantas saja tempo hari ayahnya memintanya membujuk Mathias untuk berinvestasi lagi. Ternyata ayahnya baru saja mengalami kerugian yang sangat fatal.Hailey terkejut dan bercampur panik luar biasa, berbeda dengan Mathias yang duduk di kursi kepemimpinan dengan raut wajah tenang, seakan pria itu tak memiliki masalah sama sekali. Laporan kerugian ratusan ribu dolar dari sang Direktur Keuangan sangat jelas, namun tidak membuat ketenangan Mathias bergeming.“Nash akan mengurus dan menyelidiki semuanya. Thanks, kau sudah memberikan laporan,” ucap Mathias dingin, menutup bahasan mengenai Brantley Group.Sang Direktur Keuangan mengangguk sopan, dan tersenyum menanggapi ucapan terima kasih Mathias.“Aku rasa meeting sampai di sini. Hari ini aku cukup sibuk. Jika ada yang ingin bicara denganku, silakan hubungi Nash.” Mathias menutup meeting, dia bangkit berdiri seraya mengulurkan tangannya ke hadapan Hailey di depan semu
Hailey mencuri-curi pandang melihat Mathias yang hanya diam dengan raut wajah dingin. Pria itu menarik jemarinya dari area pantry dengan cengkeraman tegas yang tak terbantahkan, lalu membawanya menuju ruang meeting besar di lantai dua puluh lima, di mana sudah banyak jajaran top management berkumpul di sana.Jujur, ingin sekali Hailey bertanya tentang kemunculan pria itu di pantry atau ke mana mereka akan melangkah setelah insiden tadi. Tapi dia sadar betul posisinya sekarang berada di ruang meeting formal dan dikelilingi banyak jajaran top management dari Cameron Group yang menatap kehadiran mereka dengan pandangan penuh rasa ingin tahu yang terselubung. Mau tak mau, dia sekarang duduk diam di salah satu kursi, meremas jemarinya sendiri sembari menunggu sampai meeting selesai.“Tuan, harga saham Cameron Group di pasar saham mengalami kenaikan cukup tajam,” ucap sang Direktur Keuangan yang turut hadir di meeting, membuka sesi presentasinya sembari mengarahkan perhatian ke layar proyek
“Menurutmu lebih cantik dia atau Ava Brantley?” tanya karyawan berambut merah.“Hailey sebenarnya sangat cantik, tapi dia hanya anak pungut di keluarga Cameron,” sambung karyawan berambut cokelat.“Really? Kau dapat informasi dari mana?” tanya karyawan berambut pirang.Karyawan berambut cokelat tersenyum. “Well, aku memiliki Paman yang cukup mengenal Preston Brantley. Dia sendiri yang memberitahuku. Berita ini belum diketahui banyak orang. Sebenarnya aku dilarang menginformasikan pada kalian, tapi tidak masalah, Aku percaya pada kalian. Lagi pula ini berinta penting. Sangat disayangkan kalau sampai tidak diberi tahu.”Karyawan berambut merah tertawa. “Oh My God, kasihan sekali Tuan Cameron. Harusnya dia menikah dengan wanita kalangan ata, tapi malah mendapatkan upik abu. Bisa jadi Hailey Brantley adalah anak gelandangan.”“Bisa juga anak pelacur yang dibuang?” sambung karyawan berambut pirang. “Kalau aku jadi Tuan Cameron lebih baik batal. Karena jelas Tuan Cameron terlalu hebat untu
Selama Hailey hidup belum pernah dia pingsan hanya karena syok luar biasa. Sekalipun dia tak pernah benar-benar merasakan kebahagiaan di keluarga Brantley, tapi setidaknya dia besar di keluarga itu, diberikan makanan cukup dan pendidikan baik. Pun dia tak pernah merasakan rasa takut berlebihan seperti sekarang di mana dia telah resmi menjadi istri dari Mathias Cameron.Pria itu seolah membangun dinding tinggi menyimpan jutaan rahasia yang tak bisa ditembus oleh siapa pun. Hailey sendiri mencoba bersikeras menerobos dinding itu, mencoba ingin tahu, tapi faktanya yang dia dapatkan hanya tersesat dalam kebingungan yang tak mengerti arahnya ke mana.Dia telah resmi menjadi istri, tapi dia bingung seperti apa sebenarnya sosok suaminya. Entah baik ataupun jahat. Semua terasa seperti abu-abu. Dia melangkah ke depan seakan ditutupi oleh kabut tebal yang membuatnya tersesat. Ingin rasanya dia melarikan diri, tapi dia sadar berada di kurungan ini rasanya tak akan mungkin bisa membuatnya pergi.
Mata Hailey mulai bergerak-gerak perlahan dimulai dari bulu mata lentik yang menandakan bahwa mata akan segera terbuka. Ya, tepat di kala mata wanita itu terbuka, penglihatan kabur sebelumnya kini mulai berubah menjadi jelas. Tatapannya mengendar, melihat dirinya berada di kamar yang tak asing. Dia masih belum bergerak, rasa pusing di kepala menyerang membuatnya terpaksa mau tak mau memberikan pijatan pelan di kepalanya. Beberapa detik tepat di kala dia memijat kepala, dia mencoba mengingat apa yang terjadi padanya. Entah, dia tak mengerti kenapa terasa tubuhnya lelah sekali, seperti menghabiskan energi. “Sudah merasa lebih baik?” Suara Mathias berat, menyapu keheningan dengan ketenangan yang menekan. Nadanya tenang, tapi tetap dingin dan penuh misterius.Hailey mengalihkan pandangannya, menatap ke sumber suara itu, dan seketika dia kembali terdiam di kala Mathias melangkah mendekat padanya. Detik di mana dia melihat Mathias, detik di mana kepingan memori di kepalanya bagaikan pu
Butiran pasal perjanjian yang membuat kesesakan luar biasa bagi Hailey. Otaknya seakan benar-benar buntu, dan merasa kehidupannya telah habis tak tersisa. Dia memang masih ada di dunia, tapi itu seolah jiwanya saja. Sementara raganya sudah mati tepat di kala dia mengenal sosok Mathias Cameron.Lang
Hailey duduk dalam mobil dengan kegelisahan yang membentang dalam diri. Napasnya agak berat, dan tangannya saling menaut seperti menunjukkan ada rasa cemas. Orang biasanya suka dan merasakan kenyamanan duduk di mobil mewah, tapi berbeda dengan Hailey. Mobil mewah apa pun, jika bersama Mathias seaka
Sinar matahari pagi menembus sela-sela jendela, kilauanya menyentuh wajah Hailey yang masih terlelap. Perlahan, sinar matahari makin tampak terang membuat mata wanita cantik yang tertidur pulas itu langsung mengerjap beberapa kali.Hailey mulai membuka mata sambil menguap pelan. Suara erangan lolos
Udara terasa berat oleh aroma tembakau mahal dan alkohol yang kuat. Asap mengepul, lalu perlahan hilang. Kesunyian membentang di ruang kerja megah milik Mathias Cameron. Tampak pria tampan itu duduk di balik meja kerjanya, melepaskan dasi kupu-kupu yang diletakan secara sembarang di lengan kursi ku







