LOGINAtmosfer di kediaman mewah keluarga Brantley sama sekali tidak diselimuti oleh ketenangan ataupun kedamaian. Malam yang kian larut itu justru menghadirkan ketegangan mencekam yang melingkupi seluruh sudut ruang kerja pribadi Preston Brantley. Pria paruh baya itu tampak berjalan mondar-mandir tanpa henti, mengikis karpet tebal ruangan itu dengan derap langkah yang tak beraturan. Raut wajahnya diliputi kegelisahan luar biasa; dahi berkerut dalam, rahang mengeras, dan pelipisnya terus dibasahi keringat dingin. Sepasang matanya tak henti-hentinya menyambar layar ponsel yang tergeletak di atas meja, menantikan pemberitahuan email masuk berupa laporan darurat dari asisten pribadinya. Untuk menekan rasa pusing menusuk yang seakan meremukkan kepalanya, Preston terus-menerus mengucurkan cairan amber dan menenggak gelas demi gelas whisky tajam. Dia berharap sensasi panas terbakar dari alkohol bisa menenangkan saraf-sarafnya yang tegang—padahal seberapa banyak pun alkohol yang dia telan, kenyata
Langit malam tampak mendung dengan gumpalan awan hitam yang menyelimuti di sana. Tak ada bulan dan bintang sebagai penghias. Hanya awan gelap menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Hailey memilih duduk di taman sendirian bermaksud mencari udara. Dia sudah berada di mansion, sejak dia dan Mathias kembali dari perusahaan, mereka segera berada di tempat yang berbeda. Hailey langsung membersihkan tubuh dan kini berada di taman belakang mansion mewah Mathias. Sementara pria itu berada di ruang kerja seakan tak ingin diganggu sama sekali.Sekitar dua jam lalu, Nash datang dan langsung menuju ruang kerja Mathias. Pun tentu Hailey tak bertanya apa pun. Dia memilih ke taman mencari udara segar. Berada di kamar mungkin bisa tenang, tapi kadang jika pikirannya sedang ke mana-mana, dia merasa kamarnya menjadi tempat yang sesak.“Sepertinya sebentar lagi hujan akan turun,” gumam Hailey pelan.“Nyonya Hailey ….” Pelayan tiba-tiba masuk ke taman, melangkah
“Aku selama ini banyak diam dan mengalah, bukan karena aku pengecut. Aku hanya tidak punya pilihan,” jawab Hailey lugas memberanikan diri bersuara, menatap lurus pada manik mata pria di depannya. “Aku tidak bisa berontak saat menjadi pengganti kakakku karena utang budiku pada keluarga Brantley. Aku dibesarkan di sana. Aku diberikan makanan dan diberikan pendidikan layak. Aku diam karena aku tidak punya pilihan. Aku tahu tempatku. Sama seperti aku diam ketika kau memerintah apa pun. Karena aku sadar aku tidak memiliki hak untuk melawan. Sementara tiga karyawan tadi, tidak mengenalku hanya langsung menghakimiku karena statusku anak pungut. Perlu kau tahu, bahwa siapa pun anak di dunia ini tidak pernah ada yang mau menjadi anak pungut.”Mathias mendengar semua kata-kata Hailey dengan ekspresi dingin tanpa menyela sedikit pun. Pria itu sedikit menjauhkan posisinya, dan terus menatap Hailey dengan mata birunya yang tajam dan menusuk, seolah sedang membaca setiap inci emosi wanita itu. Mata
Oh, God! Mendadak kepala Hailey menjadi pusing bagai dihantam beban berat. Pantas saja tempo hari ayahnya memintanya membujuk Mathias untuk berinvestasi lagi. Ternyata ayahnya baru saja mengalami kerugian yang sangat fatal.Hailey terkejut dan bercampur panik luar biasa, berbeda dengan Mathias yang duduk di kursi kepemimpinan dengan raut wajah tenang, seakan pria itu tak memiliki masalah sama sekali. Laporan kerugian ratusan ribu dolar dari sang Direktur Keuangan sangat jelas, namun tidak membuat ketenangan Mathias bergeming.“Nash akan mengurus dan menyelidiki semuanya. Thanks, kau sudah memberikan laporan,” ucap Mathias dingin, menutup bahasan mengenai Brantley Group.Sang Direktur Keuangan mengangguk sopan, dan tersenyum menanggapi ucapan terima kasih Mathias.“Aku rasa meeting sampai di sini. Hari ini aku cukup sibuk. Jika ada yang ingin bicara denganku, silakan hubungi Nash.” Mathias menutup meeting, dia bangkit berdiri seraya mengulurkan tangannya ke hadapan Hailey di depan semu
Hailey mencuri-curi pandang melihat Mathias yang hanya diam dengan raut wajah dingin. Pria itu menarik jemarinya dari area pantry dengan cengkeraman tegas yang tak terbantahkan, lalu membawanya menuju ruang meeting besar di lantai dua puluh lima, di mana sudah banyak jajaran top management berkumpul di sana.Jujur, ingin sekali Hailey bertanya tentang kemunculan pria itu di pantry atau ke mana mereka akan melangkah setelah insiden tadi. Tapi dia sadar betul posisinya sekarang berada di ruang meeting formal dan dikelilingi banyak jajaran top management dari Cameron Group yang menatap kehadiran mereka dengan pandangan penuh rasa ingin tahu yang terselubung. Mau tak mau, dia sekarang duduk diam di salah satu kursi, meremas jemarinya sendiri sembari menunggu sampai meeting selesai.“Tuan, harga saham Cameron Group di pasar saham mengalami kenaikan cukup tajam,” ucap sang Direktur Keuangan yang turut hadir di meeting, membuka sesi presentasinya sembari mengarahkan perhatian ke layar proyek
“Menurutmu lebih cantik dia atau Ava Brantley?” tanya karyawan berambut merah.“Hailey sebenarnya sangat cantik, tapi dia hanya anak pungut di keluarga Cameron,” sambung karyawan berambut cokelat.“Really? Kau dapat informasi dari mana?” tanya karyawan berambut pirang.Karyawan berambut cokelat tersenyum. “Well, aku memiliki Paman yang cukup mengenal Preston Brantley. Dia sendiri yang memberitahuku. Berita ini belum diketahui banyak orang. Sebenarnya aku dilarang menginformasikan pada kalian, tapi tidak masalah, Aku percaya pada kalian. Lagi pula ini berinta penting. Sangat disayangkan kalau sampai tidak diberi tahu.”Karyawan berambut merah tertawa. “Oh My God, kasihan sekali Tuan Cameron. Harusnya dia menikah dengan wanita kalangan ata, tapi malah mendapatkan upik abu. Bisa jadi Hailey Brantley adalah anak gelandangan.”“Bisa juga anak pelacur yang dibuang?” sambung karyawan berambut pirang. “Kalau aku jadi Tuan Cameron lebih baik batal. Karena jelas Tuan Cameron terlalu hebat untu
Butiran pasal perjanjian yang membuat kesesakan luar biasa bagi Hailey. Otaknya seakan benar-benar buntu, dan merasa kehidupannya telah habis tak tersisa. Dia memang masih ada di dunia, tapi itu seolah jiwanya saja. Sementara raganya sudah mati tepat di kala dia mengenal sosok Mathias Cameron.Lang
Hailey duduk dalam mobil dengan kegelisahan yang membentang dalam diri. Napasnya agak berat, dan tangannya saling menaut seperti menunjukkan ada rasa cemas. Orang biasanya suka dan merasakan kenyamanan duduk di mobil mewah, tapi berbeda dengan Hailey. Mobil mewah apa pun, jika bersama Mathias seaka
Sinar matahari pagi menembus sela-sela jendela, kilauanya menyentuh wajah Hailey yang masih terlelap. Perlahan, sinar matahari makin tampak terang membuat mata wanita cantik yang tertidur pulas itu langsung mengerjap beberapa kali.Hailey mulai membuka mata sambil menguap pelan. Suara erangan lolos
Udara terasa berat oleh aroma tembakau mahal dan alkohol yang kuat. Asap mengepul, lalu perlahan hilang. Kesunyian membentang di ruang kerja megah milik Mathias Cameron. Tampak pria tampan itu duduk di balik meja kerjanya, melepaskan dasi kupu-kupu yang diletakan secara sembarang di lengan kursi ku







