"Dengan senang hati, Pak," jawabku dengan senyum manis, "Saya akan bersiap.”Aku melangkah keluar dari ruangannya dengan euforia kemenangan ini.Strategiku berhasil.Adnan bukan hanya percaya, dia kini menjadikanku tameng sekaligus pedangnya. Aku kembali ke meja kerjaku yang sudah sepi, menyambar tas dan memastikan ponselku memiliki daya cukup.Aku tidak butuh waktu lama untuk merapikan riasan wajah. Agar kesan sosok Vivian yang tenang ini cukup menjadi topeng sempurna malam ini.Saat aku kembali, Adnan sudah menunggu di depan ruangannya. Jasnya sudah tersampir di lengan, sementara kemejanya dibuka satu kancing teratas, memberikan kesan santai namun tetap berwibawa.Kami berdiri berdampingan, menunggu kotak besi itu naik menjemput kami."Dila," suara Adnan memecah kesunyian, matanya lurus menatap lampu indikator lift. "Soal ... Rifat. Maaf, aku terlalu lancang menyinggung masa lalumu."Aku tidak menoleh."Saya udah paham karakter Bapak.""Maaf. Aku beneran nggak nyangka, kalau kamu ben
最終更新日 : 2026-04-26 続きを読む