Adnan tidak memberikan ruang bagiku untuk melarikan diri.Sebelum aku sempat menyuarakan alasan ingin pergi ke toilet, ia sudah mencondongkan tubuhnya lebih dekat. Wangi maskulin yang tadinya rapi kini telah terkontaminasi aroma tajam vodka yang panas."Kamu yang meremehkan aku. Jadi … permisi, Dilara," bisiknya begitu dekat hingga nafasnya menggelitik daun telingaku.Suaranya terdengar lebih serak, jenis suara yang mungkin akan membuat perempuan lain lemas di lutut, tapi bagiku, itu adalah alarm bahaya.Aku tersentak, refleks mencoba menarik tubuhku menjauh."Pak, saya mau ke --- "Belum sempat kalimat itu tuntas, tangan Adnan meluncur cepat, mencengkeram lenganku. Ia tidak membiarkanku berdiri.Lalu dalam satu gerakan cepat, ia mendaratkan kecupan di pipi kananku.Cup.Sentuhan itu hanya sekilas, namun kulitnya yang panas terasa membakar pipiku.Sorak-sorai teman-temannya pecah bercampur dengan kebisingan musik club yang memuakkan. Mereka bertepuk tangan seolah-olah baru saja menyaks
最終更新日 : 2026-05-11 続きを読む