Aya merasakan kehangatan fisik dari telapak tangan Ibu Lilis yang menggenggamnya, dan kehangatan emosional dari tatapan mata wanita tua itu. Tatapan Ibu Lilis tidak menilai pakaian Aya, tidak mengukur statusnya, melainkan menembus langsung ke inti kejujuran yang Aya coba pertahankan dalam hidupnya. Di hadapan wanita ini, semua kewaspadaan dan lapisan profesionalisme Aya yang tebal mulai mencair. Ruangan itu dipenuhi aroma teh herbal yang lembut dan kesegaran dari taman, yang semakin menambah rasa damai yang kontras dengan hiruk pikuk di ruko."Duduklah, Nak Aya. Oh, Eros, tolong siapkan tempat duduk yang nyaman untuk Bu Aya," ujar Ibu Lilis, suaranya lemah namun penuh otoritas keibuan yang lembut.Eros dengan sigap menarik kursi berlengan tunggal, yang terbuat dari rotan dengan bantalan tebal, dan meletakkannya tepat di samping kursi roda Ibunya, menghadap taman. Perhatian Eros terhadap detail, bahkan dalam hal kenyamanan kecil—ia tidak menawarkan sofa besar yang mungkin membuat Aya m
Read more