"Kenapa diam?" tanya Rafael menyeringai. Pria itu semakin mendekat.Rahang Arka mengeras. "Jangan memancing kesabaranku, Rafael!”"Aku tidak sedang memancingmu. Aku sedang menantangmu," potong Rafael cepat. Ia menatap Arka tanpa berkedip. "Lakukan saja. Telepon dewan komisaris sekarang. Bekukan rekening kami. Hancurkan bisnis keluarga Wijaya sampai tak tersisa satu sen pun. Biarkan kami jadi gelandangan di kota ini!"Vanessa yang berdiri di belakang Rafael meremas ujung dressnya. Tangannya gemetar. "Rafa, tolong... stop. Jangan bikin suasana makin panas," bisiknya lirih, hampir memohon.Namun Rafael tidak mempedulikan saran itu. Perhatiannya terkunci penuh pada Arka, pria yang selama ini selalu mengandalkan kekuasaan dan uang untuk menyudutkan keluarganya."Tapi sebelum kamu menekan tombol panggil di ponselmu itu, coba pakai otak jeniusmu untuk berpikir satu hal," lanjut Rafael. Senyum dinginnya makin lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Begitu kamu menghancurkan keluarga
Read more