Pukulan balok kayu menghantam sisi kepala Naura dengan bunyi keras. Rasa sakit dan pusing seketika menyerang, membuat pandangannya mengabur. Kursi tempatnya terikat roboh ke samping, menghempaskan tubuhnya ke lantai yang dingin dan kotor. Darah hangat merembes dari pelipis, mengalir lambat melewati alis hingga membasahi mata kirinya. Dengung keras memenuhi telinga, menutup suara di sekitarnya."Hahaha! Lihat dirimu!" Crystal melangkah mendekat, dadanya naik turun dengan napas memburu. "Kamu cuma sampah! Harusnya kamu sudah mati waktu di Jeju, tapi ternyata Arka menyelamatkanmu. Sekarang, tidak akan ada yang menyelamatkanmu. Hahaha."Naura menggigit bibirnya rapat-rapat. Dari balik matanya yang tertutup darah, ia menatap Crystal dengan tajam.‘Jangan pingsan, Naura. Bertahanlah!’ jeritnya dalam hati.Sejak tadi, Naura sengaja memancing emosi Crystal untuk mengalihkan perhatian. Sementara itu, jemarinya di belakang kursi terus menggesekkan tali ke bagian kayu yang tajam. Pergelangan tan
Read more