“Kenapa kau bersikap terkejut begitu? Seharusnya kau sudah tahu konsekuensinya jika menampung kami di sini, kan?” Sarah memiringkan kepalanya sedikit, “Padahal aku sudah berbaik hati untuk meminta tempat tinggal tanpa syarat apapun. Seharusnya kau memberiku tempat tinggal terpisah dan meletakkan kamera pengawas saja.” Haris masih dengan santai bersandar pada kursi kerjanya. Meski dia tahu Sarah pintar dan cerdik, tetap saja itu mengejutkannya. Seberapa lama dia waspada sampai bisa tahu apa yang tengah dia rencanakan waktu itu. Padahal dia sudah meninggalkan ibukota sepuluh tahun yang lalu. Namun, sikapnya dalam mengambil keputusan dan menilai sekelilingnya patut diapresiasi. “Itu karena aku ingin dekat denganmu,” balas Haris kalem. Sarah tertawa, “Kita sudah menandatangani kontrak kerja, sudah dipastikan kita akan dekat, Tuan Haris.” Haris tersenyum tipis. Percakapan ini sangat menyenangkan baginya. “Jadi, apa yang kau inginkan sekarang?” “Sudah kubilang, aku akan keluar dari
Read more