LOGIN“Kau tidak tahu tentang ini sama sekali?”Pertanyaan dengan nada rendah dan dingin itu membuat pria berjenggot tipis yang harus menjawab itu berkeringat dingin. Dia sebenarnya bisa saja menjawab, tapi sudah pasti jawabannya tidak akan diterima oleh yang bersangkutan.“Kau tidak mau menjawab?”Rogan bertanya sekali lagi. Kali ini kesabarannya nyaris habis.Rogan mendapatkan undangan kehormatan sebagai direktur utama perusahaan Corp Group untuk menghadiri yayasan miliknya yang akan muncul di publik malam nanti. Awalnya Ringan terkejut, sampai kemudian itu adalah ulah Sarah untuk mendapatkan investor dengan cara cepat. Namun, yang menjadi masalah adalah para investornya justru adalah para seniman di bawah naungannya.Ini sama saja memasukkan uang miliknya ke dalam yayasan dirinya sendiri.“Aku tidak bisa menyalahkannya, kan?” ujar Rogan sambil menyipitkan matanya dengan bahaya. “Tertulis jelas bahwa kau tanda tangan langsung sebagai perwakilanku.”Orang itu–Roby, menundukkan kepalanya d
“Kenapa kau bersikap terkejut begitu? Seharusnya kau sudah tahu konsekuensinya jika menampung kami di sini, kan?” Sarah memiringkan kepalanya sedikit, “Padahal aku sudah berbaik hati untuk meminta tempat tinggal tanpa syarat apapun. Seharusnya kau memberiku tempat tinggal terpisah dan meletakkan kamera pengawas saja.” Haris masih dengan santai bersandar pada kursi kerjanya. Meski dia tahu Sarah pintar dan cerdik, tetap saja itu mengejutkannya. Seberapa lama dia waspada sampai bisa tahu apa yang tengah dia rencanakan waktu itu. Padahal dia sudah meninggalkan ibukota sepuluh tahun yang lalu. Namun, sikapnya dalam mengambil keputusan dan menilai sekelilingnya patut diapresiasi. “Itu karena aku ingin dekat denganmu,” balas Haris kalem. Sarah tertawa, “Kita sudah menandatangani kontrak kerja, sudah dipastikan kita akan dekat, Tuan Haris.” Haris tersenyum tipis. Percakapan ini sangat menyenangkan baginya. “Jadi, apa yang kau inginkan sekarang?” “Sudah kubilang, aku akan keluar dari
“Tuan Haris?”Haris kembali mengerjap dan menjawab singkat, “Tentu kalau begitu. Aku akan ke atas dulu.”Sarah memperhatikan Haris yang memegang pegangan tangga setiap kali dia melangkah dengan hati-hati. ‘Dia termasuk sosok yang tahan banting,’ puji Sarah di dalam hatinya.Selama Sarah tinggal di sini, tidak sekalipun dia melihat Haris dalam keadaan mabuk, atau lebih tepatnya tidak pernah melihat dia minum sama sekali. Bahkan ketika pria itu ada di rumahnya sendiri.Sarah menilai bahwa Haris bukanlah seorang peminum. Dia agak terkejut dengan toleransi alkoholnya yang tidak terlalu tinggi, tetapi dia bisa mempertahankan kesadarannya dengan baik meski sedikit linglung.Sarah tidak membangunkan bibi yang bertugas di dapur. Dia memasak sendiri sup penghilang mabuk. Selain membuat itu, dia juga membuat minuman lemon mint hangat dengan sedikit garam agar perut Haris kembali nyaman seperti sebelum meminum alkohol.Tinggal bersama Haris dan menikmati fasilitas rumahnya membuat kedekatan mer
Sarah membalas pesan Devan dengan singkat. Betapa senang dia dengan kabar baik itu. [“Ini lah kenapa aku suka bekerja sama denganmu.] Sepanjang malam itu, Sarah meninjau kembali semua hal yang akan dia kerjakan nantinya. Hal yang dia terima dari Devan adalah kabar bahwa investor dari aktris ternama yang berkontrak dengan Heil Entertainment berhasil dia dapatkan. Bukan hanya itu saja, Devan juga sudah menyiapkan kegiatan amal yang akan menjadi ajang pamer untuk para seniman yang terlibat. Sarah mempersiapkan itu semua dengan cerdik. Dia juga memanfaatkan persetujuan tangan kanan dari direktur perusahaan keluarga Durant untuk mendapat suntikan modal dalam acara yang dia buat. Satu bulan berlalu dengan cepat. Banyak peristiwa yang dilewatkan oleh Sarah dalam keadaan sibuk. Meski begitu, dia selalu menyempatkan diri untuk mendengar cerita Dion di sekolah barunya. Seperti malam ini, Sarah dan Dion duduk di gazebo yang ada di samping kolam renang, tempat yang dulunya sempat menjadi t
Haris memperhatikan reaksi mereka satu persatu. Dari situ saja, Haris bisa mengetahui emosi setiap orang dan menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Dari ekspresi Lauren yang tertegun penuh ketidakpercayaan pada ungkapan maaf dari Sarah, jelas orang pertama yang tidak mau mengakui kesalahan adalah Lauren. Sebab itulah ketika lawannya meminta maaf lebih dulu, dia tidak percaya. Dia mengira, lawannya pun tidak mau meminta maaf seperti dirinya. “Apakah Anda akan memaafkan saya Nyonya?” Sarah tersenyum manis ke arah Lauren yang kini mulai kembali sadar pada kenyataan yang sedang dia hadapi. “Ya–itu … tentu saja!” Jawab Lauren sedikit tergagap. Sudah sampai sejauh ini, jelas Lauren harus ikut mundur. Jika dia keras kepala dan malah tidak meminta maaf sebagai bentuk kesopanan, dia akan di cap wanita yang tidak sopan dan juga keras kepala. Lauren tidak mau usahanya dalam menciptakan citra yang baik selama bertahun-tahun akan hilang hanya karena masalah sepele yang di
Semua orang menoleh ke arah suara itu berasal. Seorang pria dengan setelan jas dan juga jubah panjang hitam memasuki ruang tamu yang ramai. Mata birunya yang gelap memandang bingung ke arah mereka yang masih menatapnya. “Paman!” Gadis kecil bermuka masam sebelumnya itu kini melompat turun dari sofa penuh semangat, sambil mengulurkan tangannya dengan senyum cerah. Pribadinya ini sangat berbeda dengan dirinya yang berwajah masam sebelumnya. Haris menyambut dengan senyum tipis di wajahnya, “Oh, ada Jenna di sini. Kapan kau datang?” “Aku baru saja tiba dengan kakak dan ibu,” jawab gadis kecil itu dalam gendongan Haris. Jefri berdiri tegak dan terbatuk kecil untuk menunjukkan keberadaannya. “Halo, Paman,” sapa Jefri. “Kau juga datang, ya,” sahut Haris. “Aku sudah mengerjakan tugas sekolahku di rumah. Jadi sekarang aku senggang dan Jenna juga mau bertemu dengan paman. “Benar sekali,” sambung Lauren dengan senyum lembutnya yang kembali terukir. “Mereka bosan di rumah. Jadi aku meng







