Home / Fantasi / Ibu yang Cerdik / 038. || Satu Meja

Share

038. || Satu Meja

Author: Daralist
last update publish date: 2026-06-01 23:49:13

Haris mengikuti pemandu acara untuk memasuki ruang acara. Saat dia masuk ke dalam ruangan yang sudah ditentukan, hampir semua orang melihat ke arahnya. Sangat jelas dari raut wajah mereka, mereka tidak mengira adanya anggota keluarga Wilson yag menghadiri acara seperti ini.

“Hei, bukankah itu anak kedua dari Tuan Sadam Wilson?”

“Tentu saja itu dia!” balas seseorang. “Siapa lagi orang tinggi yang cocok dan senang memakai mantel hitam panjang itu? Dia adalah anak kedua sekaligus pengacara kelua
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ibu yang Cerdik   038. || Satu Meja

    Haris mengikuti pemandu acara untuk memasuki ruang acara. Saat dia masuk ke dalam ruangan yang sudah ditentukan, hampir semua orang melihat ke arahnya. Sangat jelas dari raut wajah mereka, mereka tidak mengira adanya anggota keluarga Wilson yag menghadiri acara seperti ini. “Hei, bukankah itu anak kedua dari Tuan Sadam Wilson?” “Tentu saja itu dia!” balas seseorang. “Siapa lagi orang tinggi yang cocok dan senang memakai mantel hitam panjang itu? Dia adalah anak kedua sekaligus pengacara keluarga Wilson–Haris Wilson!” Haris tidak tahu betapa heboh orang-orang berbisik tentang dirinya di belakangnya. Meskipun dia tahu, dia tidak akan menghentikan mereka. Toh, semua ini karena pengaruh keluarganya di dunia politik. Keluarga Wilson sangat aktif di dunia politik dan jarang tampil di muka umum. Kehadirannya pada acara yang memiliki banyak kamera di berbagai sudut membuat orang-orang di acara ini terkejut. Sebab mereka hanya akan muncul jika benar-benar diperlukan. Haris mengangguk p

  • Ibu yang Cerdik   036. || Acara

    “Kau tidak tahu tentang ini sama sekali?”Pertanyaan dengan nada rendah dan dingin itu membuat pria berjenggot tipis yang harus menjawab itu berkeringat dingin. Dia sebenarnya bisa saja menjawab, tapi sudah pasti jawabannya tidak akan diterima oleh yang bersangkutan.“Kau tidak mau menjawab?”Rogan bertanya sekali lagi. Kali ini kesabarannya nyaris habis.Rogan mendapatkan undangan kehormatan sebagai direktur utama perusahaan Corp Group untuk menghadiri yayasan miliknya yang akan muncul di publik malam nanti. Awalnya Ringan terkejut, sampai kemudian itu adalah ulah Sarah untuk mendapatkan investor dengan cara cepat. Namun, yang menjadi masalah adalah para investornya justru adalah para seniman di bawah naungannya.Ini sama saja memasukkan uang miliknya ke dalam yayasan dirinya sendiri.“Aku tidak bisa menyalahkannya, kan?” ujar Rogan sambil menyipitkan matanya dengan bahaya. “Tertulis jelas bahwa kau tanda tangan langsung sebagai perwakilanku.”Orang itu–Roby, menundukkan kepalanya d

  • Ibu yang Cerdik   036. || Selamat Malam

    “Kenapa kau bersikap terkejut begitu? Seharusnya kau sudah tahu konsekuensinya jika menampung kami di sini, kan?” Sarah memiringkan kepalanya sedikit, “Padahal aku sudah berbaik hati untuk meminta tempat tinggal tanpa syarat apapun. Seharusnya kau memberiku tempat tinggal terpisah dan meletakkan kamera pengawas saja.” Haris masih dengan santai bersandar pada kursi kerjanya. Meski dia tahu Sarah pintar dan cerdik, tetap saja itu mengejutkannya. Seberapa lama dia waspada sampai bisa tahu apa yang tengah dia rencanakan waktu itu. Padahal dia sudah meninggalkan ibukota sepuluh tahun yang lalu. Namun, sikapnya dalam mengambil keputusan dan menilai sekelilingnya patut diapresiasi. “Itu karena aku ingin dekat denganmu,” balas Haris kalem. Sarah tertawa, “Kita sudah menandatangani kontrak kerja, sudah dipastikan kita akan dekat, Tuan Haris.” Haris tersenyum tipis. Percakapan ini sangat menyenangkan baginya. “Jadi, apa yang kau inginkan sekarang?” “Sudah kubilang, aku akan keluar dari

  • Ibu yang Cerdik   035. || Antara Cerdik atau Licik

    “Tuan Haris?”Haris kembali mengerjap dan menjawab singkat, “Tentu kalau begitu. Aku akan ke atas dulu.”Sarah memperhatikan Haris yang memegang pegangan tangga setiap kali dia melangkah dengan hati-hati. ‘Dia termasuk sosok yang tahan banting,’ puji Sarah di dalam hatinya.Selama Sarah tinggal di sini, tidak sekalipun dia melihat Haris dalam keadaan mabuk, atau lebih tepatnya tidak pernah melihat dia minum sama sekali. Bahkan ketika pria itu ada di rumahnya sendiri.Sarah menilai bahwa Haris bukanlah seorang peminum. Dia agak terkejut dengan toleransi alkoholnya yang tidak terlalu tinggi, tetapi dia bisa mempertahankan kesadarannya dengan baik meski sedikit linglung.Sarah tidak membangunkan bibi yang bertugas di dapur. Dia memasak sendiri sup penghilang mabuk. Selain membuat itu, dia juga membuat minuman lemon mint hangat dengan sedikit garam agar perut Haris kembali nyaman seperti sebelum meminum alkohol.Tinggal bersama Haris dan menikmati fasilitas rumahnya membuat kedekatan mer

  • Ibu yang Cerdik   034. || Bau Alkohol

    Sarah membalas pesan Devan dengan singkat. Betapa senang dia dengan kabar baik itu. [“Ini lah kenapa aku suka bekerja sama denganmu.] Sepanjang malam itu, Sarah meninjau kembali semua hal yang akan dia kerjakan nantinya. Hal yang dia terima dari Devan adalah kabar bahwa investor dari aktris ternama yang berkontrak dengan Heil Entertainment berhasil dia dapatkan. Bukan hanya itu saja, Devan juga sudah menyiapkan kegiatan amal yang akan menjadi ajang pamer untuk para seniman yang terlibat. Sarah mempersiapkan itu semua dengan cerdik. Dia juga memanfaatkan persetujuan tangan kanan dari direktur perusahaan keluarga Durant untuk mendapat suntikan modal dalam acara yang dia buat. Satu bulan berlalu dengan cepat. Banyak peristiwa yang dilewatkan oleh Sarah dalam keadaan sibuk. Meski begitu, dia selalu menyempatkan diri untuk mendengar cerita Dion di sekolah barunya. Seperti malam ini, Sarah dan Dion duduk di gazebo yang ada di samping kolam renang, tempat yang dulunya sempat menjadi t

  • Ibu yang Cerdik   033. || Maaf

    Haris memperhatikan reaksi mereka satu persatu. Dari situ saja, Haris bisa mengetahui emosi setiap orang dan menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Dari ekspresi Lauren yang tertegun penuh ketidakpercayaan pada ungkapan maaf dari Sarah, jelas orang pertama yang tidak mau mengakui kesalahan adalah Lauren. Sebab itulah ketika lawannya meminta maaf lebih dulu, dia tidak percaya. Dia mengira, lawannya pun tidak mau meminta maaf seperti dirinya. “Apakah Anda akan memaafkan saya Nyonya?” Sarah tersenyum manis ke arah Lauren yang kini mulai kembali sadar pada kenyataan yang sedang dia hadapi. “Ya–itu … tentu saja!” Jawab Lauren sedikit tergagap. Sudah sampai sejauh ini, jelas Lauren harus ikut mundur. Jika dia keras kepala dan malah tidak meminta maaf sebagai bentuk kesopanan, dia akan di cap wanita yang tidak sopan dan juga keras kepala. Lauren tidak mau usahanya dalam menciptakan citra yang baik selama bertahun-tahun akan hilang hanya karena masalah sepele yang di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status