로그인Sarah merapikan rambutnya sedikit sambil menjawab, “Itu sudah aku pertimbangkan sebelumnya. Jadi kau tenang saja.”“Apakah sekarang kau akan membiarkannya?” tanya Haris. “Aku kira kau akan menjelaskan kepergianmu padanya.”“Kau yang bilang jika Dion sudah dewasa sebelumnya, kan? Dia juga sudah bisa memilih apa yang dia inginkan. Ini lah caraku untuk mengakui kemandiriannya yang terlalu dini.”Senyum Sarah yang anggun terbentuk di bibirnya. Pandangannya tidak goyah saat Haris mencari setitik keraguan ketika wanita itu mengatakan kalimat itu dengan biasa.“JIka tidak ada yang dibicarakan lagi, saya akan–”“Dion sempat mengamuk di rumah.”Perkataan Haris sukses membuat senyum Sarah membeku dan keningnya tanpa sadar berkerut.“Itu tidak mungkin, kan?” ujar Sarah tidak percaya. “Dion tidak akan bereaksi keras begitu.”“Dia tidak mengamuk seperti yang kau bayangkan. DIa hanya mogok makan dan mengurung diri di kamar untuk belajar tanpa kenal waktu.’Sarah mencoba menekan kekhawatirannya, “Bu
Rogan yang kini menjadi fokus utama hanya meminum anggurnya dengan tenang dan berkata, “Ini merupakan kehormatanku bertemu dengan sosok terkenal di masa lalu.”Maja mungkin aku tidak merasa antusias. Aku pasti akan berbagi bahagia dengan yang lain. Ya, kan Nyonya Chana?”“Tentu saja!” balas Nyonya Chana penuh semangat. “Nona Sarah sangat berdedikasi untuk mencari dana untuk yayasan yang baru saja didirikan. Bagaimana mungkin kami tidak saling berbagi kebahagiaan pada hal seperti itu.”“Wah, disanjung orang terkenal seperti kalian membuatku sangat terharu,” ujar Sarah sambil mengusap ujung matanya yang tidak basah.Meski Sarah tampak akrab dan menerima segala perlakuan Rogan dan juga Chana, Sarah tetap lah waspada. Dia tidak akan mempercayai siapapun disaat seperti ini.Memangnya siapa yang suka membuang uang untuk yayasan palsu? Terutama Nyonya Chana, Sarah tidak akan menjadikannya teman meski dia seceria itu. Sebab wanita adalah orang yang ditunjuk langsung oleh Rogan.Haris meminum
Haris mengikuti pemandu acara untuk memasuki ruang acara. Saat dia masuk ke dalam ruangan yang sudah ditentukan, hampir semua orang melihat ke arahnya. Sangat jelas dari raut wajah mereka, mereka tidak mengira adanya anggota keluarga Wilson yag menghadiri acara seperti ini. “Hei, bukankah itu anak kedua dari Tuan Sadam Wilson?” “Tentu saja itu dia!” balas seseorang. “Siapa lagi orang tinggi yang cocok dan senang memakai mantel hitam panjang itu? Dia adalah anak kedua sekaligus pengacara keluarga Wilson–Haris Wilson!” Haris tidak tahu betapa heboh orang-orang berbisik tentang dirinya di belakangnya. Meskipun dia tahu, dia tidak akan menghentikan mereka. Toh, semua ini karena pengaruh keluarganya di dunia politik. Keluarga Wilson sangat aktif di dunia politik dan jarang tampil di muka umum. Kehadirannya pada acara yang memiliki banyak kamera di berbagai sudut membuat orang-orang di acara ini terkejut. Sebab mereka hanya akan muncul jika benar-benar diperlukan. Haris mengangguk p
“Kau tidak tahu tentang ini sama sekali?”Pertanyaan dengan nada rendah dan dingin itu membuat pria berjenggot tipis yang harus menjawab itu berkeringat dingin. Dia sebenarnya bisa saja menjawab, tapi sudah pasti jawabannya tidak akan diterima oleh yang bersangkutan.“Kau tidak mau menjawab?”Rogan bertanya sekali lagi. Kali ini kesabarannya nyaris habis.Rogan mendapatkan undangan kehormatan sebagai direktur utama perusahaan Corp Group untuk menghadiri yayasan miliknya yang akan muncul di publik malam nanti. Awalnya Ringan terkejut, sampai kemudian itu adalah ulah Sarah untuk mendapatkan investor dengan cara cepat. Namun, yang menjadi masalah adalah para investornya justru adalah para seniman di bawah naungannya.Ini sama saja memasukkan uang miliknya ke dalam yayasan dirinya sendiri.“Aku tidak bisa menyalahkannya, kan?” ujar Rogan sambil menyipitkan matanya dengan bahaya. “Tertulis jelas bahwa kau tanda tangan langsung sebagai perwakilanku.”Orang itu–Roby, menundukkan kepalanya d
“Kenapa kau bersikap terkejut begitu? Seharusnya kau sudah tahu konsekuensinya jika menampung kami di sini, kan?” Sarah memiringkan kepalanya sedikit, “Padahal aku sudah berbaik hati untuk meminta tempat tinggal tanpa syarat apapun. Seharusnya kau memberiku tempat tinggal terpisah dan meletakkan kamera pengawas saja.” Haris masih dengan santai bersandar pada kursi kerjanya. Meski dia tahu Sarah pintar dan cerdik, tetap saja itu mengejutkannya. Seberapa lama dia waspada sampai bisa tahu apa yang tengah dia rencanakan waktu itu. Padahal dia sudah meninggalkan ibukota sepuluh tahun yang lalu. Namun, sikapnya dalam mengambil keputusan dan menilai sekelilingnya patut diapresiasi. “Itu karena aku ingin dekat denganmu,” balas Haris kalem. Sarah tertawa, “Kita sudah menandatangani kontrak kerja, sudah dipastikan kita akan dekat, Tuan Haris.” Haris tersenyum tipis. Percakapan ini sangat menyenangkan baginya. “Jadi, apa yang kau inginkan sekarang?” “Sudah kubilang, aku akan keluar dari
“Tuan Haris?”Haris kembali mengerjap dan menjawab singkat, “Tentu kalau begitu. Aku akan ke atas dulu.”Sarah memperhatikan Haris yang memegang pegangan tangga setiap kali dia melangkah dengan hati-hati. ‘Dia termasuk sosok yang tahan banting,’ puji Sarah di dalam hatinya.Selama Sarah tinggal di sini, tidak sekalipun dia melihat Haris dalam keadaan mabuk, atau lebih tepatnya tidak pernah melihat dia minum sama sekali. Bahkan ketika pria itu ada di rumahnya sendiri.Sarah menilai bahwa Haris bukanlah seorang peminum. Dia agak terkejut dengan toleransi alkoholnya yang tidak terlalu tinggi, tetapi dia bisa mempertahankan kesadarannya dengan baik meski sedikit linglung.Sarah tidak membangunkan bibi yang bertugas di dapur. Dia memasak sendiri sup penghilang mabuk. Selain membuat itu, dia juga membuat minuman lemon mint hangat dengan sedikit garam agar perut Haris kembali nyaman seperti sebelum meminum alkohol.Tinggal bersama Haris dan menikmati fasilitas rumahnya membuat kedekatan mer







