Fajar menyingsing di ufuk timur Alderaan, membawa semburat warna jingga dan merah muda yang membasuh dinding-dinding putih istana. Udara pagi itu terasa sejuk, membawa aroma tanah basah dan wangi bunga-bunga yang mekar di taman kerajaan. Di menara tertinggi, cahaya matahari mulai menyelinap masuk melalui celah gorden sutra, membangunkan Sang Singa dari tidur nyenyaknya.Allard membuka mata perlahan, merasakan beban hangat di dadanya. Satta masih terlelap, napasnya teratur dan tenang, dengan gurat kedamaian yang terpancar jelas di wajahnya. Allard tidak segera bergerak; ia menikmati momen hening ini, sebuah kontras yang luar biasa dari tahun-tahun kelam yang pernah mereka lalui. Ia teringat kembali pada malam tadi—penyatuan yang bukan sekadar gairah, melainkan sebuah doa untuk masa depan.Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak membangunkan istrinya, Allard mengecup puncak kepala Satta. Ia bangkit, mengenakan jubah sutra birunya, dan berjalan menuju balkon. Di bawah sana, Alder
Read more