Dendam yang mengalir dalam darah Zehewa telah mencapai puncak. Gadis yang belumnya dino atkan sebagai putri mahkota itu saat ini seakan tersingkir—semua bermula dari tewasnya sang ibu—Viona di tangan Allard. “Jika aku tidak bisa duduk di atas singgah sana yang seharusnya, jangan pernah bermimpi hidupmu akan baik-baik saja, Allard. Aku bersumpah demi dendam ibuku, aku akan menebas lehermu sendiri.” Gadis itu mengepal erat di dalam kamarnya. Wajahnya pasi, gemeletuk giginya terdengar sedikit memekakkan telinga. Sepeninggal Viona, Zehewa telah mengatur strategi untuk membuat tahta sang kakak tirimya hancur. Namun, siapa sangka, segala apa yang diatur sedemikian rupa, rupanya telah sampai di telinga Allard. “Ibu harap kau tidak bersikap terlalu kasar padanya. Karena bagaimana pun juga, dia masih adikmu, Allard.” Permaisuri Helena mendatangi Allard di ruang perpustakaan. “Tapi, ibu … karena Viona, ibu hampir tidak menghirup udara segar!”“Tapi dia sudah kau bunuh, Nak. Apa lagi yang in
Read more