Kegelapan hutan di lereng bukit itu terasa seperti pelukan dingin yang melindungi sekaligus mengancam. Jhonatan melangkah dengan pasti, meskipun beban tas obat-obatan di punggungnya dan langkah Satta yang kian melambat karena perutnya yang membesar mulai menguji ketahanan mereka. Di kejauhan, cahaya obor prajurit Alderaan terlihat seperti barisan kunang-kunang api yang haus darah, merayap di kaki bukit.Satta sesekali meringis, memegangi pinggangnya. Rasa nyeri itu datang dan pergi, namun ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia tidak ingin menjadi beban lebih dari ini. Jhonatan, yang seakan memiliki mata di balik kepalanya, berhenti sejenak."Istirahatlah di balik pohon besar ini, Satta. Tarik napasmu perlahan," bisik Jhonatan. Ia membimbing Satta duduk di atas akar pohon ek tua yang menonjol."Maafkan aku, Jhonatan. Karena aku, kau harus kehilangan ketenanganmu. Kau harus meninggalkan gubuk yang kau cintai," suara Satta bergetar, hampir hilang ditelan desau angin malam.Jhonatan berj
Read more