Langkah kuda Zehewa mungkin telah menjauh, namun gema tawanya seolah masih tertinggal, berbaur dengan kabut Valeria yang semakin tebal. Di dalam gubuk, napas Allard tersengal, pendek dan berat, seolah setiap tarikan oksigen adalah perjuangan melawan takdir. Satta masih terisak, memeluk tubuh yang mendingin itu dengan keputusasaan yang meluap.Namun, di tengah kesunyian yang mencekam itu, pintu gubuk yang reyot terbuka dengan sentakan pelan. Bukan angin yang masuk, melainkan sesosok bayangan tinggi yang diselimuti jubah abu-abu.Jhonatan berdiri di sana. Matanya yang tajam segera menyapu ruangan, menangkap pemandangan tragis di hadapannya. Tanpa membuang kata, ia melangkah maju. Sepatunya yang kotor karena lumpur hutan tidak bersuara di atas lantai kayu.“Ada apa ini?” tanya Jhonatan dengan tatapan penuh kebingungan. “Zehewa, adik tirinya datang ke sini.”"Menyingkirlah, Satta," suara Jhonatan rendah namun penuh otoritas.Satta mendongak, matanya sembab. "Dia pergi, Jhonatan ... Zehew
Read more