Satta memalingkan wajah dari jendela, menghindari tatapan Jhonatan yang seolah mampu membaca sisa-sisa reruntuhan di hatinya. Di pelukannya, Abraham tertidur kembali, nafas bayi itu teratur dan hangat, sangat kontras dengan badai yang berkecamuk di dada Satta."Cinta itu bukan lagi sebuah anugerah, Jhonatan," suara Satta nyaris tak terdengar, tertahan di kerongkongan yang perih. "Bagiku, cinta kepada Allard adalah penyakit yang perlahan-lahan menggerogoti kewarasanku. Jika kau melihat binar di mataku, itu bukan cinta. Itu adalah sisa-sisa trauma yang belum sempat kubasuh."Jhonatan terdiam. Ia melihat Satta bukan lagi sebagai wanita rapuh yang ia temukan di tepi sungai dengan tubuh menggigil dan perut yang mulai membuncit. Kini, wanita di depannya adalah seorang ibu yang telah ditempa oleh pengkhianatan. Namun, Jhonatan tahu, musuh terbesar Satta bukanlah pasukan Alderaan, melainkan kenangan yang masih menghantui setiap sudut hatinya.***Tiga hari berlalu dalam kecemasan yang menceka
Read more