Matahari semakin tinggi, menyinari pelataran ruko kelontong Madun yang kini telah bersih kembali setelah keributan kecil tadi pagi. Sisa-sisa kue lupis manis di bakul telah habis dinikmati, menyisakan gelak tawa yang masih membekas di antara mereka berdua. Bono berdiri di hadapan Madun dengan postur tegak, meski sesekali masih tampak canggung. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap sahabatnya itu dengan sorot mata yang menyiratkan kesungguhan luar biasa. "Madun..." ucap Bono serius. "Kejadian tadi pagi, juga teror-teror kemarin... bikin aku sadar satu hal. Selama ini aku cuma jadi beban, gampang takut, gampang goyah, sampai akhirnya gampang disetir orang lain buat ngelakuin hal bodoh." Sarah yang sedang merapikan meja kasir menghentikan aktivitasnya sejenak, menatap Bono dengan senyuman tipis penuh penghargaan atas perubahan mental sahabat suaminya itu. Bono melanjutkan kata-katanya dengan penuh harap, "Aku mau berubah, Dun. Aku mau minta tolong... ajari aku cara biar b
Read more