LOGINMalam perayaan kerja sama triliunan rupiah dengan Tuan Hans, sang kritikus kuliner asal Swiss, baru saja mencapai puncaknya di halaman belakang RM Jagoan Rasa Restoran. Lampu-lampu string lights berwarna kuning keemasan yang digantung melintang di antara pohon-pohon rindang memancarkan pendar hangat, menciptakan suasana pesta kebun yang megah sekaligus meriah.Para tamu undangan dari kalangan konglomerat, duta besar, hingga sosialita papan atas tampak menikmati hidangan penutup sambil berbincang santai. Namun, di sudut paling eksklusif dekat kolam ikan koi, pusat perhatian justru tertuju pada satu meja bundar tempat sang bintang utama berada.Madun, sang jagoan desa, duduk berselonjor santai di kursi taman. Jas mewahnya telah dilepas, digantikan dengan kaos oblong putih polos kesayangannya yang sudah agak longgar. Di kaki kanannya, sandal jepit swallow hijau keramat tetap setia menempel, seolah menjadi jimat keberuntungan yang tidak boleh dipisahkan darinya sedetik pun.Di sisi ki
Menteng di pagi hari selalu menyuguhkan pemandangan yang kontras. Di satu sisi, jalanan protokol mulai dipadati oleh deretan mobil mewah para eksekutif muda yang berkejaran dengan waktu menuju gedung-gedung perkantoran tinggi. Di sisi lain, di dalam sebuah hunian mewah berlantai tiga di balik pagar besi tempa tinggi—yang tidak lain adalah rumah pribadi keluarga Madun dan ketiga istrinya—suasananya justru terlihat jauh dari kesan formal perkantoran.Jam baru menunjukkan pukul enam pagi, namun dapur luas berbalut marmer putih itu sudah bergemerincing riuh.Madun, sang jagoan desa legendaris, tampak berdiri di depan kompor dengan penampilan yang benar-benar mengalami revolusi total. Jika dulunya ia identik dengan kaos oblong compang-camping berbau terasi dan sandal jepit swallow hijau kusam, kini ia mengenakan apron masak berwarna merah muda bergambar beruang lucu, dipadukan dengan celana training santai. Meskipun pakaiannya sudah naik level, gaya rambut kaku berbentuk sikat ijuk akib
Matahari sore di kawasan elit Menteng perlahan tenggelam, menyisakan bias cahaya jingga keemasan yang menembus tirai kaca jendela ruang V.I.P lantai atas RM Jagoan Rasa Restoran. Setelah kegaduhan pagi hari yang diwarnai aksi kejar-kejaran maut demi merebut kembali sebelah sandal jepit swallow hijau keramat, suasana kini berubah menjadi begitu tenang, intim, dan sarat akan ketegangan romantis yang memabukkan.Restoran telah resmi ditutup untuk umum. Seluruh pegawai dipulangkan lebih awal oleh Madun atas instruksi khusus demi menjaga privasi malam itu. Di dalam ruangan eksklusif tersebut, hanya ada empat jiwa: Madun, sang jagoan desa berwajah gosong yang kini mengenakan kemeja linen hitam longgar, serta tiga bidadari high class kesayangannya—Vanesha, Celine, and Audrey—yang mengenakan gaun malam berpotongan anggun dengan warna senada.Udara di dalam ruangan terasa hangat, berpadu dengan aroma parfum mewah bercampur sisa wangi rempah terasi dan keju mozzarella yang samar-samar masih
Matahari pagi baru saja menyembulkan sinarnya di atas langit ibu kota, menghangatkan pelataran RM Jagoan Rasa Restoran yang terletak di kawasan elit Menteng. Suasana di dalam restoran yang biasanya dipenuhi aroma sedap nasi goreng terasi keju mendadak diwarnai kepanikan kecil yang cukup mengundang gelak tawa.Madun, sang jagoan desa, berdiri di depan pintu kaca restoran dengan ekspresi wajah murka bercampur bingung. Kedua kakinya terasa sangat ringan. Bukan karena ia baru saja berolahraga lari pagi, melainkan karena sebelah sandal jepit swallow hijau kesayangannya raib tanpa jejak.Vanesha, Celine, and Audrey yang baru saja turun dari lantai dua dengan balutan pakaian santai modis langsung menghentikan langkah mereka melihat sang suami berdiri dengan satu kaki di atas keset pintu."Om Madun... Pagi-pagi udah manggung berdiri satu kaki ala bangau harian? Mau latihan silat aliran rawa lagi?" tanya Celine mengejek sambil tertawa renyah.Madun mendengus kesal, menunjuk ke arah jalan
Kemegahan malam resepsi pernikahan kolosal Madun, Vanesha, Celine, and Audrey di Grand Menteng Ballroom akhirnya usai sudah. Para tamu konglomerat, pejabat berjas rapi, hingga sosialita pencinta nasi goreng terasi keju telah membubarkan diri sejak tengah malam.Kini, saatnya keempat pengantin baru itu menikmati malam pertama mereka. Alih-alih memilih bulan madu di hotel bintang tujuh di Dubai atau Paris yang penuh fasilitas mewah, Madun sang jagoan desa punya gagasan romantis versinya sendiri: menghabiskan malam pertama di sebuah vila peninggalan kolonial Belanda milik keluarga Vanesha yang terletak di kawasan lereng Gunung Salak yang terkenal angker.Sekitar pukul dua pagi, mobil mewah pengantin tiba di pelataran halaman vila tua berarsitektur kuno dengan pilar-pilar besar, jendela kaca nako berukuran raksasa, dan halaman yang ditumbuhi pohon beringin tua berakar gantung. Udara malam pegunungan langsung menusuk tulang, ditambah suara angin berdesir yang menderu melewati dedaunan p
Langit sore di atas kawasan Menteng, Jakarta Pusat, tampak begitu cerah, dihiasi mega-mega putih yang berarak pelan. Namun, keindahan pemandangan itu berbanding terbalik dengan kondisi di dalam ruang rias pengantin lantai tiga gedung serbaguna mewah Grand Menteng Ballroom.Suasana di dalam ruangan berukuran besar itu benar-benar mirip markas besar militer sesaat sebelum zona perang dimulai. Kain tirai putih berbahan sutra, tumpukan kotak suvenir perak, dan kelopak bunga mawar segar bertebaran di lantai. Di tengah kekacauan itu, berdiri sang pengantin pria: Madun, sang jagoan desa legendaris.Alih-alih mengenakan jas tuksedo hitam rapi berdasi kupu-kupu layaknya pengantin modern pada umumnya, Madun tetap mempertahankan ciri khas abadinya. Ia mengenakan jas pengantin putih bagian atas yang dipadukan dengan celana kain gombrong dan... sarung kotak-kotak hijau kesayangannya yang disembunyikan di balik jas, lengkap dengan sandal jepit swallow legendaris di kakinya. Rambut kaku bekas sik
Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita
"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru
"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep
"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj







