Beranda / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 299: Kartu As Paling Mematikan di Menteng

Share

Bab 299: Kartu As Paling Mematikan di Menteng

Penulis: Ibrahiman
last update Tanggal publikasi: 2026-09-02 10:45:59

​Matahari sore di kawasan elit Menteng mulai tenggelam di balik megahnya gedung-gedung pencakar langit ibu kota, memantulkan bias cahaya jingga kemerahan yang dramatis. Suasana di sekitar RM Jagoan Rasa Restoran mendadak terasa begitu sunyi, seolah alam semesta sedang menahan napas menunggu detik-detik penentuan dari sebuah babak akhir yang maha dahsyat.

​Di dalam ruangan utama restoran, ketegangan mencapai titik didih tertinggi.

​Madun, sang jagoan desa legendaris, berdiri tegak di tengah ruan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 394: Operasi Penundukan Gadis Sombong

    ​Pukul 13.00 siang, Minggu, 11 Oktober 2026. Matahari siang di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, bersinar sangat terik, memantulkan gelombang panas yang menyengat di atas aspal jalanan protokol. Di dalam istana kuliner RM Jagoan Rasa, suasana jam makan siang masih menyisakan sisa-sisa keramaian yang hangat. Aroma sedap arang pembakaran sate bercampur harumnya bumbu kacang mengepul lembut di udara, menyambut siapa saja yang melintas di depan kedai.​Di balik meja kasir utama, Vanesha berdiri dengan balutan apron bersih, sibuk menghitung lembaran nota pesanan pelanggan. Sesekali, permaisuri Menteng itu mengangkat kepalanya, mengawasi jalanan raya di depan kedai melalui jendela kaca besar.​Tiba-tiba, ketenangan siang itu terusik oleh suara deru mesin mobil sport mewah berkapasitas silinder tinggi yang mengaum garang, memecah kebisingan jalanan.​Vroooom... Screeeet!​Sebuah mobil sport coupe mewah berwarna merah menyala dengan plat nomor khusus berangka tunggal berhenti secara mendadak, m

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 393: Gadis Magang Universitas Swasta Elite

    ​Pukul 12.00 siang, Sabtu, 10 Oktober 2026. Matahari siang di langit Menteng bersinar garang, memancarkan sengatan panas yang membuat aspal jalanan ibu kota bergetar tipis. Di dalam istana kuliner RM Jagoan Rasa, suasana jam makan siang sedang berada di puncak keramaiannya. Desing kipas angin gantung berputar kencang, berpadu dengan deru suara obrolan para pelanggan setia yang memadati meja-meja kayu jati kedai.​Di balik meja kasir utama, Vanesha berdiri dengan balutan apron bersih dan senyuman ramah. Sesekali matanya melirik tajam ke arah suaminya yang sedang sibuk mengurus pesanan di dekat bakaran sate. Vanesha tidak lupa menerapkan "Peraturan Ketat Rumah Tangga" yang baru saja mereka sepakati malam sebelumnya: menjaga jarak aman, menegakkan disiplin, dan memastikan mata sang suami tidak melirik sembarangan ke arah pelanggan wanita muda.​Madun, sang penguasa Menteng yang agung, mematuhi peraturan tersebut dengan penuh tanggung jawab. Ia mengenakan kaos polo hitam ketat dan celana

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 392: Vanesha Menetapkan Peraturan Ketat

    ​Pukul 21.30 malam, Jumat, 9 Oktober 2026. Lampu lantai bawah istana kuliner RM Jagoan Rasa telah dipadamkan rapat, menyisakan keheningan malam kawasan Menteng yang sesekali dipecah oleh suara deru motor yang melintas di kejauhan. Di dalam kamar utama di lantai dua, suasana justru terasa jauh dari kata tenang. Udara di dalam ruangan ber-AC dingin itu mendadak menghangat, dipenuhi oleh aura ketegangan domestik yang siap meledak kapan saja.​Vanesha berdiri di dekat meja rias, mengenakan piyama tidur satin berwarna biru malam yang elegan. Namun, ekspresi wajah permaisuri Menteng itu sama sekali tidak menunjukkan kelembutan. Kedua tangannya terlipat rapat di depan dada, alisnya bertaut tajam, dan tatapan matanya menghujam lurus ke arah sang suami yang sedang duduk santai di tepi ranjang.​Madun, sang penguasa Menteng yang agung, duduk dengan dada bidang terbuka tanpa kaos, hanya mengenakan celana piyama panjang longgar. Di balik celana katun tipis tersebut, kontur mahakarya legendaris ha

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 391: Pertemuan Tak Sengaja dengan Selebgram Menteng

    ​Pukul 11.30 siang, Jumat, 9 Oktober 2026. Terik matahari siang di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, menyengat garang, memantulkan gelombang panas di atas aspal jalanan protokol. Suasana di depan istana kuliner RM Jagoan Rasa mulai menunjukkan tanda-tanda kesibukan yang padat. Aroma sedap bumbu sate kacang dan gulai kambing yang dibakar di atas arang mengepul harum di udara, memancing selera para pegawai kantoran elit yang mulai berhamburan keluar gedung untuk mencari makan siang.​Di teras depan kedai, Vanesha sedang sibuk merapikan tumpukan kursi kayu jati pesanan pelanggan, mengenakan apron kain bersih berbalut daster rumahan bercorak elegan. Sementara itu, Madun—sang penguasa Menteng yang agung—berdiri tegap di dekat tiang utama teras, mengenakan kaos oblong hitam ketat yang mempertontonkan otot lengan kekar berurat kawat, dipadu celana training hitam panjang.​Di balik celana training hitam tersebut, mahakarya legendaris hasil mutasi gigitan ribuan semut rangrang kimia sepanjang li

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 390: Pesona Sang Jagoan di Toko Kelontong Bu Broto

    ​Pukul 08.00 pagi, Jumat, 9 Oktober 2026. Matahari pagi kawasan Menteng bersinar hangat, menyiram jalanan aspal dengan bias cahaya keemasan yang menyejukkan. Udara pagi terasa segar, membawa aroma dedaunan hijau dan uap kopi tipis dari teras-teras rumah kolonial di sekitarnya.​Di dalam istana RM Jagoan Rasa, Vanesha yang sedang merapikan botol-botol bumbu di dapur utama tiba-tiba teringat satu hal penting yang kurang untuk persiapan racikan bumbu sate hari itu. Ia langsung melangkah ringan menuju pintu depan tempat suaminya sedang meregangkan otot-otot tubuh bidangnya.​"Om," panggil Vanesha sambil membawa dompet kecil bermotif bunga. "Tolong jalan sebentar ke toko kelontong modern Bu Broto Mart di ujung blok jalan. Stok gula aren organik sama minyak wijen khusus kita udah habis total. Jangan lupa dibeliin ya, bos besar."​Madun, sang penguasa Menteng yang agung, menghentikan gerakan peregangannya. Ia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak merah hitam dengan lengan digulung sampai siku

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 389: Warisan Semut Rangrang Kimia

    ​Pukul 21.00 malam, Kamis, 8 Oktober 2026. Lampu gantung kristal di kamar utama istana RM Jagoan Rasa diredupkan hingga memancarkan bias cahaya kuning keemasan yang menenangkan. Di luar jendela kamar, angin malam kawasan Menteng berembus pelan, menggesekkan daun-daun pohon mangga pada kaca jendela. Suasana di dalam ruangan terasa begitu intim, hangat, dan dipenuhi oleh aroma minyak aromaterapi lavender yang menenangkan saraf setelah seharian penuh disibukkan oleh riuhnya operasional kedai kuliner di lantai bawah.​Vanesha merebahkan tubuhnya di atas ranjang berseprai satin hitam legam, mengenakan piyama tidur berbahan sutra tipis berwarna merah marun yang memperlihatkan siluet tubuhnya yang memesona. Ia melipat kedua tangannya di bawah kepala, sementara sepasang mata indahnya menatap lekat ke arah sang suami yang masih berdiri di dekat jendela, memandangi jalanan malam ibu kota.​Madun, sang penguasa Menteng yang agung, berdiri tegak dengan dada bidang terbuka tanpa mengenakan kaos, h

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status