Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 296: Serangan Misterius

Share

Bab 296: Serangan Misterius

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-09-01 14:54:20

​Malam di kawasan elit Menteng merayap tenang. Jarum jam dinding di ruang utama RM Jagoan Rasa Restoran menunjuk tepat pada pukul dua belas lewat sepuluh menit dini hari. Lampu-lampu string lights di halaman belakang sudah dipadamkan, menyisakan temaram lampu dinding luar yang berpendar kekuningan.

​Madun, sang jagoan desa legendaris, sedang tertidur pulas di atas kursi malas rotan kesayangannya di teras belakang. Ia mengenakan kaos oblong putih polos kesayangannya, celana training hitam, dan t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 302: Rebutan Jagoan Desa

    ​Atmosfer di dalam kamar utama istana Menteng masih menyisakan hawa panas yang membakar. Aroma parfum mawar bercampur keringat kejantanan menguar pekat di setiap sudut ruangan berlantai marmer itu. Vanesha terbaring lemas di atas seprai sutra king-size, napasnya masih tersengal-sengal dengan kelopak mata setengah terpejam, menikmati sisa-sisa gelombang orgasme beruntun yang baru saja menghantam sekujur tubuhnya.​Madun, sang jagoan desa, duduk bersandar di kepala ranjang sambil mengatur napasnya yang berat. Otot-otot dada bidangnya berkilau karena keringat, memancarkan aura kejantanan purba yang luar biasa kuat. Di hadapannya, mahakarya mutasi rawa lele—batang perkasa sepanjang 40 sentimeter yang bengkak permanen akibat gigitan ribuan semut rangrang dan jamu oplosan leluhur—masih tampak berdiri kokoh, berurat-urat tegas, memancarkan daya tarik magis yang sanggup meruntuhkan iman wanita mana pun di muka bumi.​Namun, ketenangan pasca pertempuran pertama itu tidak berlangsung lama.​Kri

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 301: Sentuhan Panas di Tengah Malam

    ​Suasana di dalam kamar utama istana Menteng mendadak berubah menjadi zona merah penuh gairah begitu pintu kayu jati berukir itu tertutup rapat dan dikunci dari dalam. Lampu tidur berintensitas rendah memancarkan pendar kuning temaram, menciptakan bayangan siluet yang dramatis di atas dinding kamar. Aroma parfum mawar malam berpadu dengan udara sejuk pendingin ruangan, namun atmosfer di dalam ruangan itu terasa begitu membakar, seolah tersiram bara api yang tak kunjung padam.​Madun, sang jagoan desa, berdiri tegak di tengah ruangan luas berlantai marmer tersebut. Kaos oblong putih polosnya telah dilepas, mempertontonkan dada bidang yang dipenuhi otot kokoh hasil tempaan keras alam liar. Di hadapannya, Vanesha—istri pertamanya yang anggun dan jelita—berdiri terpaku dengan napas memburu, gaun malam satin merah marun miliknya sudah setengah melorot menampakkan bahu mulus nan menggoda.​Tidak ada kata-kata basa-basi yang terucap. Tatapan mata mereka berbicara jauh lebih tajam daripada ri

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 300: Warisan Rawa yang Membara

    ​Malam di kawasan elit Menteng merayap turun dengan anggun, meninggalkan sisa-sisa kehangatan senja yang perlahan berganti menjadi angin malam yang sepoi-sepoi basah. Di halaman belakang RM Jagoan Rasa Restoran, suasana gemerlap lampu string lights berwarna kekuningan memancarkan pendar romantis yang sempurna. Insiden penangkapan Don Pedro oleh kepolisian beberapa hari lalu telah resmi ditutup, mengembalikan kedamaian mutlak ke istana kecil keluarga Madun.​Untuk merayakan ketenangan baru tersebut, malam itu Madun menggelar sebuah pesta malam privat yang sangat eksklusif—hanya dihadiri oleh dirinya sendiri dan ketiga bidadari tercintanya: Vanesha, Celine, dan Audrey.​Meja makan panjang di bawah pohon mangga dipenuhi dengan hidangan lezat kelas dunia, mulai dari udang bakar madu, kepiting saus Padang ekstra pedas, hingga semangkuk besar sambal petai keju mozzarella andalan. Namun, daya tarik utama malam itu bukanlah makanannya, melainkan aura sang jagoan desa yang duduk berselonjor sa

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 299: Kartu As Paling Mematikan di Menteng

    ​Matahari sore di kawasan elit Menteng mulai tenggelam di balik megahnya gedung-gedung pencakar langit ibu kota, memantulkan bias cahaya jingga kemerahan yang dramatis. Suasana di sekitar RM Jagoan Rasa Restoran mendadak terasa begitu sunyi, seolah alam semesta sedang menahan napas menunggu detik-detik penentuan dari sebuah babak akhir yang maha dahsyat.​Di dalam ruangan utama restoran, ketegangan mencapai titik didih tertinggi.​Madun, sang jagoan desa legendaris, berdiri tegak di tengah ruangan. Ia mengenakan kaos oblong putih polos kesayangannya dan celana training hitam. Namun, ada satu pemandangan yang tidak biasa dan langsung membuat siapa pun yang melihatnya terbelalak kaget setengah mati: kaki kanannya yang biasanya setia mengenakan sandal jepit swallow hijau keramat... hari ini tampak kosong melompong! Sandal legendaris itu dilepas dan diletakkan dengan khidmat di atas meja makan bak sebuah artefak suci peninggalan leluhur.​Di hadapan Madun, berdiri sesosok musuh lama yang

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 298: Penaklukan Lewat Sentuhan Kaum Hawa

    ​Pagi di kawasan elit Menteng kembali menyapa dengan cuaca yang cerah cemerlang. Sinar matahari meresap lembut melalui celah jendela kaca besar RM Jagoan Rasa Restoran, memberikan kehangatan yang kontras dengan ketegangan yang sempat melanda beberapa hari lalu. Setelah insiden teror halus beraroma mawar busuk dan tabung gas kimia dari pengusaha properti asing berhasil dipadamkan secara telak oleh Madun, suasana restoran kini kembali berangsur normal.​Namun, sebagai seorang jagoan desa yang sudah kenyang asam garam kehidupan—mulai dari menghadapi siluman biawak rawa lele hingga preman pasar induk—Madun tahu betul satu hal: musuh terbesar terkadang tidak datang dalam wujud ancaman besar yang menyeramkan. Ancaman paling mematikan justru sering kali bersembunyi di balik hal-hal yang paling sepele, remeh, dan tidak disangka-sangka.​Pukul delapan pagi lewat tigapuluh menit, Madun duduk berselonjor santai di kursi V.I.P kesayangannya. Ia mengenakan kaos oblong putih polos kesayangannya, ce

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 297: Ancaman Tak Kasat Mata

    ​Matahari pagi di kawasan elit Menteng bersinar terik, memantulkan kilau kemewahan pada jajaran gedung-gedung tinggi dan mobil-mobil mewah yang melintas di jalanan protokol. Namun, di balik kemegahan fasad kota tersebut, suasana di dalam RM Jagoan Rasa Restoran mendadak terasa jauh lebih dingin dari biasanya.​Jam dinding baru menunjuk pukul sembilan lewat lima belas menit pagi. Madun, sang jagoan desa legendaris, duduk berselonjor santai di kursi V.I.P kesayangannya. Ia mengenakan kaos oblong putih polos kesayangannya, celana training hitam, dan tentu saja—sebagai lambang kehormatan yang tak lekang oleh waktu—sandal jepit swallow hijau keramat yang melekat erat di kaki kanannya. Di hadapannya, secangkir kopi hitam pekat mengepulkan uap tipis.​Namun, tidak seperti biasanya yang selalu diisi dengan gelak tawa dan candaan renyah, pagi itu meja makan utama dikelilingi oleh keheningan yang mencekam.​Vanesha, Celine, and Audrey duduk merapat, wajah ketiganya tampak tegang sambil menatap

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status