"Mas Madun, kok belum ganti baju? Itu keringat di dada Mas kalau dibiarin bisa jadi ladang jamur, lho," goda Rini saat menghampiri Madun di belakang gudang.Madun tertawa kecil sambil mengusap lehernya yang kokoh. "Namanya juga kuli, Rin. Keringat ini adalah tanda perjuangan cari nafkah. Lagian, kamu sendiri kenapa dasternya tipis banget begitu? Sengaja ya mau bikin Mas salah fokus?"Rini tersipu, sengaja memutar tubuhnya sehingga daster satin merahnya yang ketat membentuk lekukan pinggul yang padat berisi. Kulitnya yang kuning langsat tampak berkilau di bawah lampu temaram. "Ini kan biar sejuk, Mas. Lagian di sini cuma ada kita berdua. Mas Madun nggak suka ya liat aku begini?""Suka sih suka, tapi ingat janji Mas sama Bu Bidan Siska. Dia sudah nunggu di klinik buat kasih vitamin," jawab Madun sambil mengenakan kaosnya kembali, meski otot lengannya tetap menonjol keras di balik kain.Tiba-tiba, suara deru motor terdengar. Ternyata itu Siska yang menjemput menggunakan motor matic.
Dernière mise à jour : 2026-05-19 Read More