Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 77: Lemas Beruntun di Gudang Belakang

Share

Bab 77: Lemas Beruntun di Gudang Belakang

Author: Ibrahiman
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-20 12:00:54

​"Aduh, Mas Madun... ini muncratannya kok banyak banget sih?! Sampai luber-luber keluar dari paha Lala nih," keluh Lala sambil mengelap celah paha mulusnya yang putih bersih dan sangat bening menggunakan ujung kain yang tersisa.

​Visual Lala pagi itu benar-benar menggetarkan jiwa pria normal. Tank top rajut putihnya yang melar kini basah kuyup, menempel ketat di tubuhnya dan memperlihatkan bentuk buah dadanya yang bundar, kencang, dan padat yang naik turun dengan sangat seksi. Paha mulusnya yan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 424: Vanesha Menunjukkan Dominasi Mutlak

    ​Pukul 21.45 malam, Sabtu, 7 November 2026. Selepas insiden pembukaan jaket dan pertunjukan visual mutasi legendaris yang sukses merontokkan mental Cleo dan Michelle hingga tak bersisa, suasana di tepi kolam renang pribadi vila kaca mewah kawasan Puncak terasa begitu sunyi dan mencekam. Uap air hangat yang mengepul dari permukaan kolam berpadu dengan udara malam pegunungan yang menusuk tulang, menciptakan latar belakang dramatis bagi babak akhir pertarungan psikologis malam itu.​Vanesha, sang permaisuri agung Menteng, duduk dengan anggun di atas kursi beludru empuknya. Namun, ia merasa bahwa segelintir ancaman verbal dan sindiran tajam saja belum cukup untuk membakar kesadaran kedua mahasiswi high class itu secara permanen. Ia membutuhkan satu pukulan telak penutup—sebuah pernyataan visual paling mutlak yang akan menghapus segala khayalan liar dan ambisi tersembunyi dari benak Cleo dan Michelle selamanya.​"Pelajaran visual dan pembuktian langsung tadi sepertinya masih belum cukup me

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 423: Madun Membuka Jaket dan Reaksi Para Gadis

    ​Pukul 21.30 malam, Sabtu, 7 November 2026. Suasana di tepi kolam renang pribadi vila kaca mewah kawasan Puncak mencapai titik didih tertingginya. Udara dingin pegunungan yang menusuk tulang seolah kehilangan seluruh kekuatannya untuk mendinginkan atmosfer di sekitar meja marmer bundar tersebut. Bara arang di dalam panggangan baja telah meredup, namun panas yang sesungguhnya justru bersumber dari ketegangan erotis dan psikologis yang melingkupi keempat orang di sana.​Madun berdiri tegak di tengah teras kolam renang dengan postur tubuh atletis yang memancarkan wibawa preman terhormat tiada tanding. Tantangan Dare ekstrem yang baru saja dilontarkan oleh Cleo menggantung di udara, menuntut pembuktian nyata atas segala rumor dan kehebohan mutasi legendaris yang selama ini beredar di dunia maya.​Dengan seringai preman khasnya yang lebar dan penuh percaya diri, Madun menatap lurus ke arah dua mahasiswi high class di hadapannya.​"Kalau kalian memang bernyali besar dan sengaja minta pembuk

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 422: Game Truth or Dare yang Berbahaya

    ​Pukul 21.15 malam, Sabtu, 7 November 2026. Suasana di tepi kolam renang pribadi vila kaca mewah kawasan Puncak berangsur-angsur mencair setelah dominasi mutlak dan ancaman telak yang dilancarkan oleh sang permaisuri berhasil meredam seluruh keagresifan awal Cleo dan Michelle. Bara arang di dalam panggangan baja kini berangsur redup, menyisakan kehangatan api unggun kecil yang memantulkan cahaya jingga kemerahan ke permukaan air kolam. Ketegangan psikologis yang tadinya pekat perlahan bertransformasi menjadi bentuk interaksi baru yang lebih santai namun tetap dipenuhi intrik terselubung.​Vanesha kembali duduk dengan anggun di atas kursi beludru empuknya di tepi kolam, menikmati sepotong sate wagyu hasil panggangannya sendiri yang tertata rapi di atas piring kristal. Sepasang mata elangnya tetap waspada, mengawasi setiap gerak-gerik kedua mahasiswi high class yang kini tampak duduk sedikit lebih tertib di seberang meja marmer.​Michelle, yang berusaha keras memecah keheningan canggung

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 421: Vanesha Mengambil Alih Panggung Malam

    ​Pukul 20.45 malam, Sabtu, 7 November 2026. Suasana di tepi kolam renang pribadi vila kaca mewah kawasan Puncak terasa semakin membeku oleh udara malam pegunungan, namun ketegangan psikologis yang melingkupi area tersebut jauh lebih panas daripada bara arang di dalam panggangan baja. Melihat aksi agresif dan rayuan murahan yang terus dilancarkan oleh Cleo dan Michelle secara terang-terangan di hadapannya, Vanesha—sang permaisuri agung Menteng—memutuskan bahwa batas kesabarannya telah mencapai titik maksimal. Ia tidak akan lagi tinggal diam hanya duduk di kursi santai beludru sambil mengawasi dari kejauhan.​"Sepertinya kalian berdua benar-benar butuh pelajaran visual secara langsung tentang siapa sebenarnya yang memegang hak paten permanen atas suami saya," ujar Vanesha dengan suara dingin yang menusuk tulang, memecah keheningan malam.​Tanpa membuang waktu sedetik pun, Vanesha berdiri dari kursi santainya dengan gerakan yang sangat anggun namun memancarkan wibawa tingkat tinggi. Deng

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 420: Suasana Barbecue yang Mulai Memanas

    ​Pukul 20.30 malam, Sabtu, 7 November 2026. Area pesta barbekyu eksklusif di vila kaca mewah Puncak perlahan bergeser dari teras utama menuju ke sisi tepi kolam renang pribadi berair hangat. Di tengah kepungan kabut pegunungan malam yang semakin pekat dan menusuk tulang, permukaan air kolam renang tersebut memancarkan uap tipis putih yang mengepul hangat, menciptakan atmosfer romantis sekaligus misterius. Lampu-lampu sorot bawah air berwarna kebiruan menyala terang, berpadu dengan kerlip lampu gantung di sekeliling pilar kayu vila.​Di hadapan kolam renang yang tenang itu, sebuah panggangan barbekyu modern berbahan baja tahan karat telah menyala merah membara, menyebarkan aroma harum daging wagyu premium dan bumbu panggang khas yang menguar ke udara. Suasana malam yang awalnya direncanakan sebagai ajang rayuan privat kini berubah menjadi medan pertempuran psikologis yang sangat menegangkan.​Vanesha, sang permaisuri agung Menteng, duduk dengan anggun di atas sebuah kursi santai empuk

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 419: Penyambutan Mewah oleh Cleo dan Michelle

    ​Pukul 20.00 malam, Sabtu, 7 November 2026. Kabut tebal pegunungan Puncak turun dengan derasnya, menyelimuti sekujur bangunan vila kaca mewah berlantai dua yang berdiri megah di atas tebing perbukitan. Udara dingin bersuhu belasan derajat Celsius berhembus kencang, menerpa dahan-dahan pohon pinus dan menciptakan suara gemerisik yang menenangkan. Namun, di balik dinding-dinding kaca transparan besar yang melapisi area halaman belakang vila tersebut, suasana justru tampak sangat kontras—terang benderang, hangat, dan dipenuhi oleh kerlap-kerlip lampu hias gantung berwibawa.​Di luar area pagar tanaman hias, di balik bayangan gelap rumpun bambu yang tersembunyi dari sorotan lampu taman, dua sosok agung penguasa Menteng berdiri berdampingan. Madun, dengan postur tubuh atletis berbalut kemeja gelap kasual, berdiri tegap memancarkan wibawa preman terhormat. Di sampingnya, Vanesha tampak begitu memukau dalam balutan gaun malam hitam elegan berbahan sutra yang memeluk siluet tubuh rampingnya,

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status