Detak jantung Marcellino seolah berhenti sesaat ketika pintu lift terbuka dan ia melihat Freya. Wanita itu menoleh lalu memberinya senyum kecil yang entah bagaimana mampu mengirimkan sensasi hangat ke seluruh tubuhnya.Tubuhnya langsung menegang. Pikirannya kembali kacau, jantungnya berdetak terlalu cepat, dan seluruh indranya terasa tidak terkendali. Reaksi itu selalu muncul setiap kali Freya berada di dekatnya.“Hai,” sapanya singkat sambil berusaha menghindari tatapan wanita itu.Sejak Sabtu malam, ia tahu segalanya telah berubah. Ya, ia tertarik pada Freya. Namun, perasaan itu sudah jauh melampaui sekadar ketertarikan fisik.Ia menginginkan Freya. Bukan hanya tubuhnya, tetapi juga seluruh dirinya, pikiran, hati, dan jiwanya. Ia ingin menjaga wanita itu, membuatnya tetap berada di sisinya, menjadi bagian dari hidupnya. Dan yang lebih mengganggu adalah kenyataan bahwa ia tidak hanya menginginkan Freya. Ia menginginkan kebersamaan.Bangun dan tidur bersama setiap hari, makan bersama,
Read more