Mag-log inAkhir pekan itu sungguh mengerikan bagi keluarga Marcellino. Rania hilang. Bersama dengan kepolisian dan tim penyelamat, ia membantu mencarinya. Zayden sangat terpukul, putus asa ingin menemukan istrinya.Semuanya sudah baik-baik saja sekarang. Freya dan Marcellino mengunjungi Rania di rumah sakit. Meskipun wanita itu masih terlihat sangat terkejut, setidaknya dia pulih dari pengalaman traumatisnya dan bayinya sehat.Ayah Freya juga pulih dengan baik. Setelah seminggu di rumah sakit, ia disarankan untuk pulang dan menjalani tahapan rehabilitasi serta sesi terapi fisik selama enam hingga delapan minggu. Dia sangat gembira dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa, bisa berjalan dan menjalani kehidupan normal.Melihat Freya bahagia dengan keberhasilan operasi ayahnya, membuat Marcellino ikut bahagia. Rasanya sangat membahagiakan melihatnya selalu tersenyum. Freya seperti matahari, bersinar dan membuat hari-harinya lebih cerah.Marcellino tidak repot-repot menanyakan so
Situasi ini terasa benar-benar gila bagi Marcellino. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu banyak bicara. Malam sebelumnya, neneknya terus menanyakan tentang Freya. Wanita tua itu ingin Freya kembali bergabung bersama mereka di akhir pekan. Awalnya, Marcellino hanya mengatakan bahwa Freya sedang cuti untuk bersama keluarganya. Namun, seperti biasa, Halimah tidak berhenti bertanya sampai akhirnya ia menyerah dan mengatakan yang sebenarnya.Keesokan paginya, saat sarapan, Halimah kembali dengan ide baru yang jauh lebih merepotkan. Ia ingin bertemu keluarga Freya.“Kamu dan Freya sedang menjalin hubungan serius. Kalian bukan remaja yang hanya ingin bersenang-senang. Cepat atau lambat kalian akan menikah dan punya anak. Kita harus mendukung keluarga Freya. Mereka juga akan menjadi keluarga kita,” katanya.Marcellino mencoba menahan situasi. “Mereka butuh privasi saat ini, Nek. Ayahnya juga sedang dalam masa pemulihan setelah operasi.”Ia tidak ingin menjelaskan lebih jauh tentang
Suasana ruang rapat terasa tegang ketika Nicholas Flamel menyampaikan tuntutannya.“Saya akan menanamkan sebagian besar investasi dalam proyek ini, oleh karena itu saya menginginkan bagian yang lebih besar dari laba bersih. Dua puluh lima persen. Itu syarat saya,” ujarnya dengan tatapan tajam, menyapu seluruh ruangan.Permintaan itu jelas berlebihan. Meskipun kehadiran Nicholas sangat penting dalam proyek infrastruktur bernilai ratusan miliar itu, tuntutan tersebut membuat suasana semakin memanas.“Tidak... dengar, Nicholas,” sahut paman Marcellino, Endra Wiguna. “Kami juga akan bekerja keras dalam proyek ini. Dana memang berasal darimu, tapi kami yang menjalankannya. Tidak masuk akal jika bagiannya sama.”“Kalian bahkan akan mendapat lima persen lebih banyak! Ini ideku, aku yang merancang semuanya, tapi justru mendapat bagian lebih kecil?” Isha Martinus, paman Marcellino lainnya ikut menyela dengan emosi.Perdebatan semakin memanas. Marcellino yang duduk di salah satu sisi meja hanya
Freya mulai merasakan hangatnya matahari berubah menjadi panas di kulitnya ketika suara Marcellino terdengar di dekatnya.“Kamu mulai memerah. Kulitmu akan terbakar jika terlalu lama berada di bawah sinar matahari.”Ia membuka mata dan mendapati pria itu berdiri di depannya. Tubuhnya masih terasa rileks setelah berenang, namun detak jantungnya langsung melonjak begitu melihat Marcellino.Tatapan pria itu lah yang membuatnya sulit bernapas dengan tenang. Pandangan Marcellino turun perlahan dari wajahnya, menyusuri tubuhnya tanpa berusaha menyembunyikannya, dan itu sama sekali tidak membantu menenangkan dirinya.Sejak ciuman semalam, perasaannya menjadi semakin rumit.Freya berdeham pelan, berusaha menguasai diri. “Itulah masalahku. Aku mudah terbakar sinar matahari, jadi harus sering pakai tabir surya.”Ia bangkit duduk, matanya langsung tertuju pada segelas jus jeruk dingin di tangan Marcellino. Tenggorokannya terasa kering, dan minuman itu tampak begitu menggoda.Tanpa menunggu lama,
Marcellino menatap kosong dokumen-dokumen yang tergeletak di atas mejanya. Tulisan dalam kontrak itu seolah kehilangan makna. Pikirannya dipenuhi bayangan Freya, dan terutama kata-kata yang ia ucapkan semalam. Ia tidak berpura-pura saat mencium.Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Marcellino sendiri tak mampu menjelaskan perasaan yang muncul saat mendengarnya. Awalnya ia terkejut dan terdiam, tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Lalu, perlahan, muncul rasa lega seolah beban besar yang selama ini menekan dadanya tiba-tiba terangkat.Namun, ia memilih untuk tidak bereaksi saat itu. Ia sengaja menahan diri. Ia tidak yakin harus mengatakan apa. Sedikit saja salah langkah, ia bisa merusak hubungan mereka atau bahkan mempermalukan Freya.Dengan napas berat, ia kembali menatap kontrak di tangannya. Kali ini ia benar-benar membaca, memaksa dirinya fokus. Perlahan, pikirannya mulai bekerja kembali. Ia melirik jam. Sudah pukul sepuluh pagi. Freya pasti sudah bangun sekarang dan meli
Marcellino mengumpat pelan dalam hati. Baginya, situasi ini bahkan terasa lebih buruk daripada yang pernah ia alami bersama Ivanka.Ia berdiri di depan cermin kamar mandi sambil menyikat gigi, menatap bayangannya sendiri. Rahangnya menegang, berusaha menahan emosi yang terus mendidih. Ia tahu ia harus tetap bersikap sopan. Ia tidak ingin merusak makan malam atau mengecewakan neneknya, yang sejak awal begitu antusias.Namun, pikirannya terus kembali pada Freya.Tangannya sedikit bergetar saat mengingat bagaimana gadis itu menciumnya dengan begitu penuh gairah, padahal semua itu hanyalah akting. Ia sempat percaya bahwa perasaan itu nyata, bahwa Freya benar-benar menginginkan ciuman itu… menginginkannya, sama seperti ia menginginkan Freya.Sial.Ia menekan tombol siram tanpa sengaja dengan cara yang salah, membuat air memercik ke pakaiannya. Ia menghela napas kesal, lalu melepas pakaian dan memutuskan untuk mandi.Air hangat yang mengalir di tubuhnya sedikit meredakan ketegangan. Namun,







