Kiara menatap amplop cokelat yang jatuh di meja dengan gemetar. Tangan-tangannya yang biasanya sigap dan tegas kini bergetar, seolah menolak kenyataan yang akan ia hadapi. Nama itu —Darian Snow— masih terngiang di kepalanya. Hatinya bergolak, menimbang antara kemarahan, kesedihan, dan kebingungan. Darian, ayahnya, bukan korban pasif yang tak berdaya terhadap permainan Vivienne, melainkan seseorang yang berani melawan, seseorang yang menentang jaringan kekuasaan yang telah memenjarakannya. Dan kini, surat ini—yang katanya tak pernah sampai—adalah jembatan terakhir untuk memahami seluruh kebenaran. Elvano berdiri di sampingnya, sosoknya tegap, namun matanya tidak lepas dari raut wajah Kiara. Ia merasakan betapa berat beban yang kini diemban perempuan di sisinya. Ia tahu, sejak kematian Darian, Kiara hidup dalam labirin luka yang tak pernah sembuh sepenuhnya, dan kini jantungnya dipaksa menembus dinding itu sekali lagi. "Kiara," suaranya rendah, menembus hening, "ambil napas dalam-d
Read more