Kiara menatap pintu apartemen yang baru saja tertutup.Suara langkah Elvano sudah lama menghilang dari balik koridor. Namun keheningan yang ditinggalkannya masih memenuhi setiap sudut ruangan. Ia tetap berdiri di tempat yang sama, seolah tubuhnya belum benar-benar menyadari bahwa percakapan mereka telah berakhir.Di atas meja, buku catatan itu masih terbuka.Halaman yang sama.Tulisan yang sama.Kiara melangkah mendekat, lalu menatapnya cukup lama sebelum menutup buku itu perlahan. Gerakannya tenang, tetapi pikirannya tidak. Semakin ia berusaha mengembalikan fokus pada penyelidikan, semakin jelas kalimat terakhir Elvano kembali terdengar di kepalanya."Aku ingin dia lahir karena dicintai."Ia memejamkan mata sesaat.Kalimat itu seharusnya tidak mengubah apa pun. Rencananya tetap masuk akal. Perhitungannya tetap sama. Celine tetap memiliki titik lemah yang tidak dimiliki siapa pun.Namun entah mengapa, ia tidak lagi mampu memandang semuanya dengan kejernihan yang sama.....Malam itu,
Read more