Rangga mengernyitkan dahi. "Bibi Ambar masih sehat-sehat saja, jangan bicara sembarangan.""Jarang-jarang Arum suka pada sesuatu, bisa nggak kamu jangan merusak suasana?"Arum dengan wajah memelas menarik ujung baju Rangga, sudut matanya tampak berkaca-kaca."Sudahlah, aku nggak jadi minta gelang itu.""Kak Rangga, jangan sampai kamu bertengkar dengan Kak Sekar gara-gara aku. Nggak sepadan."Rangga membujuknya dengan suara yang sangat lembut, pancaran kasih sayang di matanya seolah meluap keluar."Sepadan kok. Kamu pantas mendapatkan hal terbaik di dunia ini.""Berapa pun harganya, aku bayar!" seru Rangga.Aku hanya bisa terbelalak melihat gelang itu jatuh ke tangan Arum, benar-benar tak berdaya.Tiba-tiba, tangan Arum licin. Gelang itu jatuh ke lantai dan hancur dengan bunyi denting yang nyaring.Arum melempar senyum provokasi ke arahku, lalu sedetik kemudian dia menangis sambil meminta maaf."Maafin aku, Kak Sekar. Tanganku licin. Kakak boleh pukul aku, hiks ...."Aku terpaku, seluru
Read more