Share

Bab 3

Author: Ungu
Tak disangka, aku justru berpapasan dengan Rangga dan Arum di kantor agen properti.

Melihat kedatanganku, si agen langsung menyambutku dengan sangat ramah.

"Nona Sekar, akhirnya datang juga! Aku sudah lama lho nungguin Nona Sekar buat jual rumah itu."

Rangga mengernyit bingung. "Rumah yang mana?"

Belum sempat aku mencegahnya, si agen properti langsung menyebutkan alamat lengkap rumah Ibu.

"Sekar! Atas dasar apa kamu berani jual rumah itu tanpa persetujuan Bibi Ambar?"

"Rumah itu hasil tabungan seumur hidup beliau, dan juga ...."

Rangga tertahan, dia hendak mengatakan bahwa rumah itu juga menyimpan semua kenangan kita.

Si agen properti pun dibuat bingung oleh perdebatan kami.

"Jadi, ini sebenarnya jadi dijual atau nggak?"

Suaraku terdengar sangat mantap. "Jadi."

"Rumah itu milikku, sama sekali nggak ada urusannya sama dia."

Arum buru-buru menyela, "Rangga, Kak Sekar pasti punya alasan sendiri kenapa dia jual rumah itu."

Rangga mendengus sinis. "Alasan apa yang dia punya? Paling ini cuma cara dia buat cari perhatian gara-gara masalah pernikahan kemarin. Dia cuma lagi ngambek!"

"Sekarang juga, aku telepon Bibi Ambar. Biar tahu rasa kamu dimarahi beliau!"

Panggilannya tidak tersambung. Rangga pun mengernyitkan dahi.

"Aneh. Nomor Bibi Ambar nggak bisa dihubungi."

Hanya aku yang tahu, nomor itu memang tidak akan pernah bisa dihubungi lagi. Selamanya.

Arum mencoba menenangkan di sampingnya, "Mungkin Bibi Ambar lagi sibuk."

"Kamu 'kan sudah janji hari ini khusus mau nemenin aku lihat-lihat rumah. Kalau batal, aku bakal marah, lho!"

Rangga pun menoleh padaku. "Ya sudah, aku pergi dulu. Nanti aku jemput kamu, kita omongin lagi soal rencana pernikahan kita baik-baik."

Aku merasa ini saat yang tepat untuk memperjelas semuanya. Begitu urusan administrasi selesai, aku melangkah keluar.

Rangga sudah lama pergi, sementara aku masih saja sebodoh itu mengira dia akan menungguku.

Aku teringat, dulu dia juga pernah membawaku melihat-lihat rumah, merencanakan masa depan yang indah bersama-sama.

Begitu sampai di rumah, semua dekorasi yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari langsung kulempar ke dalam tungku api tanpa sisa.

Termasuk gaun pengantin hasil jahitan tangan Ibu untukku. Lidah api dengan kejam melahap semuanya.

Tiba-tiba, sebuah bentakan keras terdengar dari belakangku.

"Sekar! Apa-apaan kamu?"

Melihat api yang berkobar hebat di dalam tungku, sorot mata Rangga seketika memancarkan rasa panik.

"Besok itu hari pernikahan kita! Kenapa kamu malah bakar gaunnya?"

Dengan suara panik, dia mencoba merogoh tungku untuk menyelamatkan gaun itu, tetapi panasnya api seketika membuatnya menarik tangan kembali.

Akhirnya, dia hanya bisa berdiri terpaku, menatap gaun itu perlahan berubah menjadi gumpalan hitam yang hangus.

Dia mengembuskan napas panjang, sementara dalam hatinya mulai tersulut amarah yang entah dari mana asalnya.

Seolah sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri.

"Ya sudah, lupakan saja. Masih ada waktu, kok. Malam ini juga aku bakal suruh orang buat pesan gaun baru yang lebih bagus buat kamu."

Aku hanya bisa tersenyum sinis mendengarnya.

"Nggak perlu."

Tiba-tiba, Rangga menarikku ke dalam pelukannya. Kedua tangan besarnya mencengkeram pinggangku dengan erat.

Dia persis seperti kucing yang baru saja pulang setelah mencuri makanan di luar. Begitu sampai di rumah, dia akan langsung bersikap manis padaku seolah tak terjadi apa-apa.

"Sekar, kamu kok masih keras kepala saja, sih? Aku harus gimana biar kamu nggak begini terus?"

Kehangatan yang sangat kukenal itu seketika menyergapku. Pangkal hidungku terasa perih dan air mata mulai menggenang di pelupuk mataku.

Namun, belum sempat air mata itu jatuh, Rangga sudah melepaskan pelukannya.

Dia berbalik untuk mengangkat teleponnya. Seketika itu juga, raut wajahnya melembut, terpancar rona penuh kasih yang begitu nyata.

"Sekar, di kantor ada urusan mendadak. Aku harus ke sana sebentar."

Tanpa keraguan sedikit pun, dia berbalik dan melangkah pergi.

Dengan suara serak, aku bertanya, "Kamu benaran mau ke kantor?"

Rangga, kamu bohong.

Wajahnya tetap terlihat tenang dan datar saat menjawab, "Iya."

Ting! Sebuah notifikasi pesan muncul di layar ponselku.

[Sekar, sampai ketemu di acara lelang nanti malam ya.]

Di acara lelang itu, ada sebuah gelang giok milik Ibu. Itu adalah perhiasan favoritnya semasa hidup.

Sebelum aku benar-benar pergi meninggalkan segalanya, aku ingin memenangkan lelang itu sebagai kenang-kenangan terakhir darinya.

Rangga menunduk, bertanya dengan suara lembut pada Arum.

"Arum, hari ini ulang tahunmu. Kamu mau hadiah apa?"

Arum menggigit bibir merahnya, pandangannya tertuju pada gelang giok itu.

"Rangga, boleh aku minta gelang itu? Bagus banget."

Rangga mengusap rambut Arum dengan penuh kasih.

"Boleh. Aku pasti akan dapatkan gelang itu buat kamu."

Pelelangan pun dimulai. Arum menoleh ke arahku, sorot matanya penuh dengan ambisi seolah gelang itu sudah pasti jadi miliknya.

"Nona Sekar mengajukan penawaran dua miliar."

Rangga melirikku sekilas dengan tatapan datar, lalu mengangkat papan pelelangannya.

"Pak Rangga, empat miliar."

Aku menggertakkan gigi kuat-kuat, hingga kuku-kukuku tertanam dalam ke telapak tanganku tanpa kusadari.

"Rangga, kamu benar-benar harus berebut ini denganku?"

Suaraku melemah, nyaris memohon.

"Itu satu-satunya gelang peninggalan ibuku yang tersisa di dunia ini. Aku mohon, biarkan aku memilikinya, ya?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 8

    Sekar yang berdiri di sampingku tampak begitu tenang, seolah-olah barang yang sedang hangus terbakar di hadapannya itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.Sudut bibirku terangkat, memaksakan sebuah senyuman getir. Aku bergumam bahwa masih ada cukup waktu sebelum hari pernikahan kami tiba.Aku menawarkan bahwa kami masih punya waktu dan aku berjanji pasti akan memesankan satu set baju pengantin baru yang jauh lebih bagus untuknya.Sekar tidak membantah ucapanku. Aku merasa sangat bersalah padanya dan baru saja berniat untuk membujuknya agar tenang.Akan tetapi, di saat itu juga, Arum kembali menelepon dan memaksaku pergi bersamanya.Aku berjanji pada Sekar bahwa aku pasti akan segera kembali. Dia hanya bergumam pelan mengiyakan.Sayangnya, aku lagi-lagi mengingkari janjiku.Arum melakukan segala cara agar aku tetap tinggal di sisinya dan aku pun menyerah, menyetujui permintaannya.Di acara lelang, aku sama sekali tidak memedulikan permohonan Sekar yang mencoba menghalangik

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 7

    Aku memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang sebelum menjawab, "Dulu aku pernah mencintaimu, tapi sekarang nggak lagi.""Oke, aku mengerti. Aku nggak akan datang mengganggumu lagi.""Semoga kamu bahagia."Rangga melangkah pergi dan Arum segera menyusul di belakangnya dengan terburu-buru.Belum sempat aku menghubungi pengacara untuk menuntut Arum, kabar mengejutkan datang.Arum tiba-tiba kehilangan akal sehatnya. Dia melompat dari lantai dua puluh sebuah gedung.Setelah penyelidikan, polisi menemukan bukti bahwa kejadian itu ada sangkut pautnya dengan Rangga. Dan tanpa ragu sedikit pun, Rangga mengakui semuanya.Mendengar semua berita itu, hatiku tetap tenang, sedatar air yang tak beriak.Di lantai bawah, Bagas sibuk tak henti-hentinya di restoran penginapan. Aku pun membantunya, menata piring dan menyajikan hidangan satu per satu.Hidup ini pasti akan berjalan makin baik ke depannya.….Sudut Pandang Rangga.Tepat menjelang pertunanganku dengan Sekar, Arum tiba-tiba kembali ke t

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 6

    Rangga mematung di tempatnya, ekspresinya tampak mengeras dan sangat pucat, benar-benar kacau.Saat suasana di antara mereka berdua makin memanas dan siap meledak, tiba-tiba Rangga dengan beringas mencengkeram dasi Bagas."Kamu pikir kamu siapa, hah?""Hak apa yang kamu punya buat ikut campur urusan kami?"Bagas hanya tertawa dingin. "Kami? Antara kalian berdua sudah nggak ada urusan apa pun lagi, sedikit pun nggak ada hubungannya.""Pak Rangga, kalau kamu masih tahu diri, lebih baik pergi sekarang. Atau kamu lebih suka kalau polisi datang dan namamu jadi tercoreng di sini?"Rangga masih bergeming, tetapi Bagas tetap merangkulku untuk melangkah pergi meninggalkannya.Rangga berteriak parau, mencoba menghentikan langkahku. "Sekar! Aku masih belum mau menyerah. Apa kamu nggak bisa memberiku satu kali saja kesempatan lagi?"Aku menghentikan langkahku, tetapi aku tidak sudi untuk menoleh lagi."Nggak ada kesempatan lagi. Mulai sekarang, kita cuma orang asing."Bagas mengusir Rangga sampai

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 5

    Pesawat mendarat saat hari sudah larut malam.Begitu turun dari pesawat, aku langsung melihat sahabatku, Bagas Abyasa, sudah menungguku.Sudah lama kami tidak bertemu, guratan wajahnya kini tampak jauh lebih tegas dan dewasa.Dia mengambil alih semua barang bawaanku, sementara aku tetap memeluk erat abu kremasi ibuku.Setelah kami masuk ke dalam mobil, dia bertanya dengan suara lembut setelah keheningan sesaat."Kamu kedinginan?"Aku menggeleng pelan. "Nggak."Aku dan Bagas tumbuh besar bersama sebagai teman masa kecil. Karena alasan keluarga, dia harus pindah ke luar negeri saat kami masih duduk di bangku SMP.Selama dia di luar negeri, kami tetap rutin bertukar kabar. Kebetulan sekali, saat ini dia memang sedang pulang ke tanah air.Setelah aku menceritakan semua kejadian pahit itu padanya, dia langsung memintaku untuk datang menemuinya.Malam itu, kami tiba di penginapan milik Bagas. Setelah membersihkan diri seadanya, kami pun segera beristirahat di kamar masing-masing.Keesokan pa

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 4

    Rangga mengernyitkan dahi. "Bibi Ambar masih sehat-sehat saja, jangan bicara sembarangan.""Jarang-jarang Arum suka pada sesuatu, bisa nggak kamu jangan merusak suasana?"Arum dengan wajah memelas menarik ujung baju Rangga, sudut matanya tampak berkaca-kaca."Sudahlah, aku nggak jadi minta gelang itu.""Kak Rangga, jangan sampai kamu bertengkar dengan Kak Sekar gara-gara aku. Nggak sepadan."Rangga membujuknya dengan suara yang sangat lembut, pancaran kasih sayang di matanya seolah meluap keluar."Sepadan kok. Kamu pantas mendapatkan hal terbaik di dunia ini.""Berapa pun harganya, aku bayar!" seru Rangga.Aku hanya bisa terbelalak melihat gelang itu jatuh ke tangan Arum, benar-benar tak berdaya.Tiba-tiba, tangan Arum licin. Gelang itu jatuh ke lantai dan hancur dengan bunyi denting yang nyaring.Arum melempar senyum provokasi ke arahku, lalu sedetik kemudian dia menangis sambil meminta maaf."Maafin aku, Kak Sekar. Tanganku licin. Kakak boleh pukul aku, hiks ...."Aku terpaku, seluru

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 3

    Tak disangka, aku justru berpapasan dengan Rangga dan Arum di kantor agen properti.Melihat kedatanganku, si agen langsung menyambutku dengan sangat ramah."Nona Sekar, akhirnya datang juga! Aku sudah lama lho nungguin Nona Sekar buat jual rumah itu."Rangga mengernyit bingung. "Rumah yang mana?"Belum sempat aku mencegahnya, si agen properti langsung menyebutkan alamat lengkap rumah Ibu."Sekar! Atas dasar apa kamu berani jual rumah itu tanpa persetujuan Bibi Ambar?""Rumah itu hasil tabungan seumur hidup beliau, dan juga ...."Rangga tertahan, dia hendak mengatakan bahwa rumah itu juga menyimpan semua kenangan kita.Si agen properti pun dibuat bingung oleh perdebatan kami."Jadi, ini sebenarnya jadi dijual atau nggak?"Suaraku terdengar sangat mantap. "Jadi.""Rumah itu milikku, sama sekali nggak ada urusannya sama dia."Arum buru-buru menyela, "Rangga, Kak Sekar pasti punya alasan sendiri kenapa dia jual rumah itu."Rangga mendengus sinis. "Alasan apa yang dia punya? Paling ini cuma

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 2

    Benar. Ibu memang sangat baik pada Rangga, bahkan sudah menganggapnya seperti anak kandung sendiri.Ibu selalu perhatian padanya. Dulu, Rangga adalah murid Ibu.Ibunya meninggal karena komplikasi saat melahirkannya dan sejak kecil dia selalu pergi ke sekolah dengan pakaian yang lusuh dan berantakan.

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 1

    "Sekar! Apa-apaan sih omonganmu? Nyindir terus!""Pernikahannya cuma diundur tujuh hari, bukan batal!""Arum itu lagi sakit, bisa nggak sih kamu punya empati sedikit?"Air mataku jatuh tanpa suara. Aku mencoba membuka suara, memaksakan sebuah kalimat keluar dari tenggorokanku yang terasa sesak."Per

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status