Share

Bab 4

Penulis: Ungu
Rangga mengernyitkan dahi. "Bibi Ambar masih sehat-sehat saja, jangan bicara sembarangan."

"Jarang-jarang Arum suka pada sesuatu, bisa nggak kamu jangan merusak suasana?"

Arum dengan wajah memelas menarik ujung baju Rangga, sudut matanya tampak berkaca-kaca.

"Sudahlah, aku nggak jadi minta gelang itu."

"Kak Rangga, jangan sampai kamu bertengkar dengan Kak Sekar gara-gara aku. Nggak sepadan."

Rangga membujuknya dengan suara yang sangat lembut, pancaran kasih sayang di matanya seolah meluap keluar.

"Sepadan kok. Kamu pantas mendapatkan hal terbaik di dunia ini."

"Berapa pun harganya, aku bayar!" seru Rangga.

Aku hanya bisa terbelalak melihat gelang itu jatuh ke tangan Arum, benar-benar tak berdaya.

Tiba-tiba, tangan Arum licin. Gelang itu jatuh ke lantai dan hancur dengan bunyi denting yang nyaring.

Arum melempar senyum provokasi ke arahku, lalu sedetik kemudian dia menangis sambil meminta maaf.

"Maafin aku, Kak Sekar. Tanganku licin. Kakak boleh pukul aku, hiks ...."

Aku terpaku, seluruh tubuhku terasa mati rasa saat aku berlutut di lantai.

Tanganku gemetar memunguti serpihan gelang yang hancur itu. Ujung tajamnya mengiris jariku hingga darah segar mengalir deras.

Rangga justru merangkul Arum dan menenangkannya.

"Ini bukan salahmu, Arum."

Aku tertawa getir meratapi nasibku. "Oh, jadi bukan salah dia? Terus, maksudmu ini salahku, begitu?"

Rangga menarik napas panjang, lalu menyahut pelan.

"Bukan begitu maksudku, Sekar. Arum nggak sengaja melakukannya."

"Gelang ini nanti aku cari orang buat memperbaikinya. Soal Bibi Ambar, biar aku sendiri yang nanti datang menjelaskan ke beliau."

Tiba-tiba ponsel Rangga berbunyi. Dia tampak terburu-buru dan langsung pergi meninggalkan ruangan. Arum pun berpura-pura menangis sambil membantuku memunguti pecahan gelang.

Begitu Rangga menghilang dari pandangan, ekspresinya langsung berubah drastis. Suaranya terdengar sangat kejam dan dingin.

"Sekar, gimana rasanya melihat peninggalan terakhir ibumu hancur berkeping-keping tepat di depan matamu?"

"Aku sengaja pura-pura sakit buat merusak pernikahan kalian. Rangga itu cintanya sama aku, kamu itu cuma orang ketiga di antara kami."

"Kamu itu cuma badut. Badut yang sudah membunuh ibunya sendiri."

"Kalau aku jadi kamu, aku lebih baik mati saja. Kok kamu masih punya muka sih buat tetap hidup di dunia ini?"

Amarah seketika membakar habis akal sehatku. Sebuah tamparan keras mendarat tepat di wajah Arum.

Arum jatuh tersungkur ke lantai. Serpihan gelang yang tajam itu menyayat kulit wajahnya, membuat darah segar mulai mengalir turun di pipinya.

Arum terisak pelan. "Wajahku."

Tiba-tiba, Rangga mendorongku dengan kasar hingga aku terhuyung.

Plak! Satu tamparan keras menghantam wajahku. Rasanya panas menyengat dan sudut bibirku terasa robek.

"Sekar! Kamu benar-benar bikin aku jijik!"

"Arum cuma nggak sengaja mecahin gelang, tapi kamu malah tega melukai wajahnya!"

Rasa marah, sesak, dan terhina bercampur aduk jadi satu. Suaraku gemetar saat aku berteriak.

"Rangga! Arum itu sama sekali nggak sakit! Dia cuma pura-pura …."

"Cukup! Sekar, kamu itu pembohong besar!"

Wajah Arum seketika pucat pasi. "Rangga, sakit banget."

"Jangan salahkan Kak Sekar, ini semua salahku."

Rangga langsung menggendong Arum dan bergegas pergi, tanpa sudi menoleh sedikit pun ke arahku.

"Demi menghargai Bibi Ambar, pernikahan besok akan tetap dilaksanakan."

"Tapi, jangan harap aku bakal jemput kamu, Sekar! Kamu nggak pantas! Datang sendiri ke sana!"

Dia membawa Arum pergi. Malam itu, seluruh rumah sakit sibuk bekerja lembur demi mengobati luka di wajah Arum hingga fajar menyingsing.

Aku hanya bisa tertawa getir, lalu membawa pergi serpihan gelang yang sudah hancur tak berbentuk itu.

Malam harinya, aku menatap gaun pengantin baru yang dikirimkan untukku. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku duduk sendirian membisu sampai pagi tiba.

Saat aku memeluk abu kremasi ibuku dan melangkah naik ke pesawat, suasana di lokasi pernikahan sudah kacau balau.

Rangga bahkan menyalakan siaran langsung di sana. Namun, hingga jam keberuntungan lewat, aku tetap tidak memperlihatkan batang hidungku.

Kesabaran Rangga akhirnya habis.

Ponselku terus-menerus bergetar karena panggilannya, tetapi aku menolak semuanya satu per satu.

Bahkan ponsel Ibu pun terus dia hubungi sampai akhirnya dayanya habis dan mati sendiri.

Sebelum aku mematikan ponselku dan memblokir semuanya, sebuah pesan masuk dari Rangga.

[Sekar, sudah berani ya kamu sekarang? Berani-beraninya kamu nggak angkat teleponku!]

[Cepat seret kakimu ke sini dan hadiri pernikahan ini!]

Aku hanya tersenyum lega melihatnya. Kuhapus pesan itu, kupatahkan kartu SIM-ku, lalu kublokir semua orang yang berhubungan dengannya.

Aku berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Di sisi lain, Ardi, sang kepala pelayan yang setia, berlari terengah-engah menuju lokasi pernikahan dengan wajah pucat pasi.

"Gawat, Pak Rangga! Nona Sekar baru saja membuat postingan di Twitter. Dia bilang Nyonya Ambar sudah meninggal dunia."

"Nona Sekar membawa abu jenazah Nyonya Ambar ke bandara."

"Nona Sekar juga membongkar rahasia kalau Nona Arum sebenarnya sama sekali nggak sakit."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 8

    Sekar yang berdiri di sampingku tampak begitu tenang, seolah-olah barang yang sedang hangus terbakar di hadapannya itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.Sudut bibirku terangkat, memaksakan sebuah senyuman getir. Aku bergumam bahwa masih ada cukup waktu sebelum hari pernikahan kami tiba.Aku menawarkan bahwa kami masih punya waktu dan aku berjanji pasti akan memesankan satu set baju pengantin baru yang jauh lebih bagus untuknya.Sekar tidak membantah ucapanku. Aku merasa sangat bersalah padanya dan baru saja berniat untuk membujuknya agar tenang.Akan tetapi, di saat itu juga, Arum kembali menelepon dan memaksaku pergi bersamanya.Aku berjanji pada Sekar bahwa aku pasti akan segera kembali. Dia hanya bergumam pelan mengiyakan.Sayangnya, aku lagi-lagi mengingkari janjiku.Arum melakukan segala cara agar aku tetap tinggal di sisinya dan aku pun menyerah, menyetujui permintaannya.Di acara lelang, aku sama sekali tidak memedulikan permohonan Sekar yang mencoba menghalangik

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 7

    Aku memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang sebelum menjawab, "Dulu aku pernah mencintaimu, tapi sekarang nggak lagi.""Oke, aku mengerti. Aku nggak akan datang mengganggumu lagi.""Semoga kamu bahagia."Rangga melangkah pergi dan Arum segera menyusul di belakangnya dengan terburu-buru.Belum sempat aku menghubungi pengacara untuk menuntut Arum, kabar mengejutkan datang.Arum tiba-tiba kehilangan akal sehatnya. Dia melompat dari lantai dua puluh sebuah gedung.Setelah penyelidikan, polisi menemukan bukti bahwa kejadian itu ada sangkut pautnya dengan Rangga. Dan tanpa ragu sedikit pun, Rangga mengakui semuanya.Mendengar semua berita itu, hatiku tetap tenang, sedatar air yang tak beriak.Di lantai bawah, Bagas sibuk tak henti-hentinya di restoran penginapan. Aku pun membantunya, menata piring dan menyajikan hidangan satu per satu.Hidup ini pasti akan berjalan makin baik ke depannya.….Sudut Pandang Rangga.Tepat menjelang pertunanganku dengan Sekar, Arum tiba-tiba kembali ke t

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 6

    Rangga mematung di tempatnya, ekspresinya tampak mengeras dan sangat pucat, benar-benar kacau.Saat suasana di antara mereka berdua makin memanas dan siap meledak, tiba-tiba Rangga dengan beringas mencengkeram dasi Bagas."Kamu pikir kamu siapa, hah?""Hak apa yang kamu punya buat ikut campur urusan kami?"Bagas hanya tertawa dingin. "Kami? Antara kalian berdua sudah nggak ada urusan apa pun lagi, sedikit pun nggak ada hubungannya.""Pak Rangga, kalau kamu masih tahu diri, lebih baik pergi sekarang. Atau kamu lebih suka kalau polisi datang dan namamu jadi tercoreng di sini?"Rangga masih bergeming, tetapi Bagas tetap merangkulku untuk melangkah pergi meninggalkannya.Rangga berteriak parau, mencoba menghentikan langkahku. "Sekar! Aku masih belum mau menyerah. Apa kamu nggak bisa memberiku satu kali saja kesempatan lagi?"Aku menghentikan langkahku, tetapi aku tidak sudi untuk menoleh lagi."Nggak ada kesempatan lagi. Mulai sekarang, kita cuma orang asing."Bagas mengusir Rangga sampai

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 5

    Pesawat mendarat saat hari sudah larut malam.Begitu turun dari pesawat, aku langsung melihat sahabatku, Bagas Abyasa, sudah menungguku.Sudah lama kami tidak bertemu, guratan wajahnya kini tampak jauh lebih tegas dan dewasa.Dia mengambil alih semua barang bawaanku, sementara aku tetap memeluk erat abu kremasi ibuku.Setelah kami masuk ke dalam mobil, dia bertanya dengan suara lembut setelah keheningan sesaat."Kamu kedinginan?"Aku menggeleng pelan. "Nggak."Aku dan Bagas tumbuh besar bersama sebagai teman masa kecil. Karena alasan keluarga, dia harus pindah ke luar negeri saat kami masih duduk di bangku SMP.Selama dia di luar negeri, kami tetap rutin bertukar kabar. Kebetulan sekali, saat ini dia memang sedang pulang ke tanah air.Setelah aku menceritakan semua kejadian pahit itu padanya, dia langsung memintaku untuk datang menemuinya.Malam itu, kami tiba di penginapan milik Bagas. Setelah membersihkan diri seadanya, kami pun segera beristirahat di kamar masing-masing.Keesokan pa

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 4

    Rangga mengernyitkan dahi. "Bibi Ambar masih sehat-sehat saja, jangan bicara sembarangan.""Jarang-jarang Arum suka pada sesuatu, bisa nggak kamu jangan merusak suasana?"Arum dengan wajah memelas menarik ujung baju Rangga, sudut matanya tampak berkaca-kaca."Sudahlah, aku nggak jadi minta gelang itu.""Kak Rangga, jangan sampai kamu bertengkar dengan Kak Sekar gara-gara aku. Nggak sepadan."Rangga membujuknya dengan suara yang sangat lembut, pancaran kasih sayang di matanya seolah meluap keluar."Sepadan kok. Kamu pantas mendapatkan hal terbaik di dunia ini.""Berapa pun harganya, aku bayar!" seru Rangga.Aku hanya bisa terbelalak melihat gelang itu jatuh ke tangan Arum, benar-benar tak berdaya.Tiba-tiba, tangan Arum licin. Gelang itu jatuh ke lantai dan hancur dengan bunyi denting yang nyaring.Arum melempar senyum provokasi ke arahku, lalu sedetik kemudian dia menangis sambil meminta maaf."Maafin aku, Kak Sekar. Tanganku licin. Kakak boleh pukul aku, hiks ...."Aku terpaku, seluru

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 3

    Tak disangka, aku justru berpapasan dengan Rangga dan Arum di kantor agen properti.Melihat kedatanganku, si agen langsung menyambutku dengan sangat ramah."Nona Sekar, akhirnya datang juga! Aku sudah lama lho nungguin Nona Sekar buat jual rumah itu."Rangga mengernyit bingung. "Rumah yang mana?"Belum sempat aku mencegahnya, si agen properti langsung menyebutkan alamat lengkap rumah Ibu."Sekar! Atas dasar apa kamu berani jual rumah itu tanpa persetujuan Bibi Ambar?""Rumah itu hasil tabungan seumur hidup beliau, dan juga ...."Rangga tertahan, dia hendak mengatakan bahwa rumah itu juga menyimpan semua kenangan kita.Si agen properti pun dibuat bingung oleh perdebatan kami."Jadi, ini sebenarnya jadi dijual atau nggak?"Suaraku terdengar sangat mantap. "Jadi.""Rumah itu milikku, sama sekali nggak ada urusannya sama dia."Arum buru-buru menyela, "Rangga, Kak Sekar pasti punya alasan sendiri kenapa dia jual rumah itu."Rangga mendengus sinis. "Alasan apa yang dia punya? Paling ini cuma

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 2

    Benar. Ibu memang sangat baik pada Rangga, bahkan sudah menganggapnya seperti anak kandung sendiri.Ibu selalu perhatian padanya. Dulu, Rangga adalah murid Ibu.Ibunya meninggal karena komplikasi saat melahirkannya dan sejak kecil dia selalu pergi ke sekolah dengan pakaian yang lusuh dan berantakan.

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 1

    "Sekar! Apa-apaan sih omonganmu? Nyindir terus!""Pernikahannya cuma diundur tujuh hari, bukan batal!""Arum itu lagi sakit, bisa nggak sih kamu punya empati sedikit?"Air mataku jatuh tanpa suara. Aku mencoba membuka suara, memaksakan sebuah kalimat keluar dari tenggorokanku yang terasa sesak."Per

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status