แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Ungu
Benar. Ibu memang sangat baik pada Rangga, bahkan sudah menganggapnya seperti anak kandung sendiri.

Ibu selalu perhatian padanya. Dulu, Rangga adalah murid Ibu.

Ibunya meninggal karena komplikasi saat melahirkannya dan sejak kecil dia selalu pergi ke sekolah dengan pakaian yang lusuh dan berantakan.

Ibuku lah yang menyisihkan gajinya untuk membelikan Rangga baju baru, hanya agar dia bisa kembali percaya diri.

Bahkan setelah Rangga mulai bekerja, Ibu yang khawatir dia sering jajan sembarangan, sampai rela memasakkan bekal khusus untuknya.

Kadang aku merasa cemburu. Ibu jauh lebih perhatian pada Rangga daripada kepadaku, anak kandungnya sendiri.

Aku menarik napas panjang, berusaha sekuat tenaga menenangkan emosiku.

"Semua permintaan maaf dan kado darimu, dia sudah tidak bisa menerimanya lagi."

"Kamu dengar jelas, 'kan?"

Alis Rangga bertaut rapat, membentuk kerutan dalam di dahinya. "Sekar, sebenarnya kamu ini lagi ngambek apa sih? Kekanak-kanakan banget!"

"Pernikahan yang kamu batalkan sepihak itu, aku bahkan nggak masukin ke hati. Aku masih mau kok nikah sama kamu."

"Aku sudah minta maaf, sekarang kamu mau aku gimana lagi?"

Air mataku jatuh bercucuran. "Rangga, aku mau kamu balikin Ibu aku."

Dia menatapku dengan wajah penuh keheranan, seolah aku adalah orang paling tidak masuk akal di dunia.

"Kamu benar-benar nggak masuk akal! Aku sudah nggak tahu lagi mau ngomong apa sama kamu."

"Tunggu Bibi Ambar pulang saja, biar beliau yang nilai siapa yang salah di sini."

Aku tertawa sinis. "Dia nggak akan pulang."

Rangga menatapku, bingung. "Apa maksudmu?"

"Apa Bibi Ambar lagi pergi liburan?"

"Sekar, kamu ini gimana sih sebagai anak? Harusnya kamu telepon dan tanya kabar Ibu kalau beliau lagi jalan-jalan."

Selesai bicara, dia buru-buru merogoh sakunya dan mencoba menelepon.

Tiba-tiba, sebuah notifikasi panggilan dari kontak prioritas masuk ke ponsel Rangga. Seketika itu juga, suasana di ruangan menjadi sangat hening.

Suara lemah dari seberang telepon terdengar jelas di udara.

"Rangga, kamu di mana?"

"Aku di sini."

"Aku sendirian di rumah, obatku habis. Bisa jemput aku ke rumah sakit?"

Tanpa ragu sedikit pun, Rangga langsung mengiyakan. Dia berbalik dan bersiap untuk pergi begitu saja.

Janji untuk menelepon Ibuku tadi? Sudah lenyap begitu saja dari pikirannya.

Setelah Rangga pergi, aku mulai mengemasi barang-barangku sendirian.

Aku sudah memutuskan untuk pergi.

Tiba-tiba, sebuah telepon dari Rangga masuk.

"Sekar, aku mau tanya. Kalau beli pembalut buat cewek, biasanya merek apa yang bagus?"

Suara Arum terdengar menyela di sampingnya, seolah sedang bercanda.

"Ih, nggak boleh! Kamu curang kalau tanya-tanya begitu. Nggak asyik!"

"Sekar, kamu jangan kasih tahu dia, ya."

"Kak Sekar, Kak Rangga ini 'kan calon suamimu, masa hal begini saja nggak tahu? Biar aku yang didik dia pelan-pelan."

"Tenang saja, Kak. Aku pasti bakal balikin dia ke Kakak sebagai suami yang sempurna nanti."

Nada bicaranya meninggi di akhir kalimat, penuh dengan nada provokasi.

Aku terdiam seribu bahasa. Suara mereka berdua yang sedang asyik bermesraan terus terngiang-ngiang, membuat dadaku mendadak terasa nyeri.

Kalau dulu, aku yang punya rasa memiliki yang sangat tinggi pasti sudah mengamuk dan bertengkar hebat dengan Rangga.

Akan tetapi, sekarang, aku hanya bergumam pelan, lalu langsung memutuskan sambungan telepon.

Setelah itu, ponselku senyap untuk waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya, dering telepon kembali memecah kesunyian.

Ponselku berbunyi. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengangkatnya.

Terdengar suara manja seorang wanita di seberang sana yang penuh nada menggoda.

"Rangga, kamu sayang nggak sama aku?"

"Sayang, dong."

"Kalau sayang, kenapa kamu masih mau nikah sama Sekar?"

Suara Rangga terdengar begitu lembut dan penuh kasih saat menjawab.

"Kan kamu sendiri yang bilang, suruh aku cobain dulu rasanya nikah. Kalau pengalamannya enak, baru deh aku bakal terus sama kamu."

"Masa kata-katamu sendiri sudah lupa?"

Ternyata, aku bahkan bukan seorang pengganti. Aku hanyalah kelinci percobaan untuk sebuah pernikahan.

Laki-laki yang kucintai selama sepuluh tahun menyebutku sebagai barang uji coba. Lucu sekali, ya?

Aku tidak sanggup mendengar lebih jauh lagi. Dengan pandangan yang kabur karena air mata, aku langsung mematikan telepon.

Setelah itu, aku mual hebat dan terus muntah-muntah sampai perutku benar-benar kosong. Baru setelah itu aku bisa berbaring kembali di tempat tidur.

Air mata mengalir perlahan dari sudut mataku, membasahi bantal hingga lembap.

Rangga tidak pulang semalaman. Aku sudah memantapkan hati untuk menjual rumah peninggalan Ibu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 8

    Sekar yang berdiri di sampingku tampak begitu tenang, seolah-olah barang yang sedang hangus terbakar di hadapannya itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.Sudut bibirku terangkat, memaksakan sebuah senyuman getir. Aku bergumam bahwa masih ada cukup waktu sebelum hari pernikahan kami tiba.Aku menawarkan bahwa kami masih punya waktu dan aku berjanji pasti akan memesankan satu set baju pengantin baru yang jauh lebih bagus untuknya.Sekar tidak membantah ucapanku. Aku merasa sangat bersalah padanya dan baru saja berniat untuk membujuknya agar tenang.Akan tetapi, di saat itu juga, Arum kembali menelepon dan memaksaku pergi bersamanya.Aku berjanji pada Sekar bahwa aku pasti akan segera kembali. Dia hanya bergumam pelan mengiyakan.Sayangnya, aku lagi-lagi mengingkari janjiku.Arum melakukan segala cara agar aku tetap tinggal di sisinya dan aku pun menyerah, menyetujui permintaannya.Di acara lelang, aku sama sekali tidak memedulikan permohonan Sekar yang mencoba menghalangik

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 7

    Aku memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang sebelum menjawab, "Dulu aku pernah mencintaimu, tapi sekarang nggak lagi.""Oke, aku mengerti. Aku nggak akan datang mengganggumu lagi.""Semoga kamu bahagia."Rangga melangkah pergi dan Arum segera menyusul di belakangnya dengan terburu-buru.Belum sempat aku menghubungi pengacara untuk menuntut Arum, kabar mengejutkan datang.Arum tiba-tiba kehilangan akal sehatnya. Dia melompat dari lantai dua puluh sebuah gedung.Setelah penyelidikan, polisi menemukan bukti bahwa kejadian itu ada sangkut pautnya dengan Rangga. Dan tanpa ragu sedikit pun, Rangga mengakui semuanya.Mendengar semua berita itu, hatiku tetap tenang, sedatar air yang tak beriak.Di lantai bawah, Bagas sibuk tak henti-hentinya di restoran penginapan. Aku pun membantunya, menata piring dan menyajikan hidangan satu per satu.Hidup ini pasti akan berjalan makin baik ke depannya.….Sudut Pandang Rangga.Tepat menjelang pertunanganku dengan Sekar, Arum tiba-tiba kembali ke t

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 6

    Rangga mematung di tempatnya, ekspresinya tampak mengeras dan sangat pucat, benar-benar kacau.Saat suasana di antara mereka berdua makin memanas dan siap meledak, tiba-tiba Rangga dengan beringas mencengkeram dasi Bagas."Kamu pikir kamu siapa, hah?""Hak apa yang kamu punya buat ikut campur urusan kami?"Bagas hanya tertawa dingin. "Kami? Antara kalian berdua sudah nggak ada urusan apa pun lagi, sedikit pun nggak ada hubungannya.""Pak Rangga, kalau kamu masih tahu diri, lebih baik pergi sekarang. Atau kamu lebih suka kalau polisi datang dan namamu jadi tercoreng di sini?"Rangga masih bergeming, tetapi Bagas tetap merangkulku untuk melangkah pergi meninggalkannya.Rangga berteriak parau, mencoba menghentikan langkahku. "Sekar! Aku masih belum mau menyerah. Apa kamu nggak bisa memberiku satu kali saja kesempatan lagi?"Aku menghentikan langkahku, tetapi aku tidak sudi untuk menoleh lagi."Nggak ada kesempatan lagi. Mulai sekarang, kita cuma orang asing."Bagas mengusir Rangga sampai

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 5

    Pesawat mendarat saat hari sudah larut malam.Begitu turun dari pesawat, aku langsung melihat sahabatku, Bagas Abyasa, sudah menungguku.Sudah lama kami tidak bertemu, guratan wajahnya kini tampak jauh lebih tegas dan dewasa.Dia mengambil alih semua barang bawaanku, sementara aku tetap memeluk erat abu kremasi ibuku.Setelah kami masuk ke dalam mobil, dia bertanya dengan suara lembut setelah keheningan sesaat."Kamu kedinginan?"Aku menggeleng pelan. "Nggak."Aku dan Bagas tumbuh besar bersama sebagai teman masa kecil. Karena alasan keluarga, dia harus pindah ke luar negeri saat kami masih duduk di bangku SMP.Selama dia di luar negeri, kami tetap rutin bertukar kabar. Kebetulan sekali, saat ini dia memang sedang pulang ke tanah air.Setelah aku menceritakan semua kejadian pahit itu padanya, dia langsung memintaku untuk datang menemuinya.Malam itu, kami tiba di penginapan milik Bagas. Setelah membersihkan diri seadanya, kami pun segera beristirahat di kamar masing-masing.Keesokan pa

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 4

    Rangga mengernyitkan dahi. "Bibi Ambar masih sehat-sehat saja, jangan bicara sembarangan.""Jarang-jarang Arum suka pada sesuatu, bisa nggak kamu jangan merusak suasana?"Arum dengan wajah memelas menarik ujung baju Rangga, sudut matanya tampak berkaca-kaca."Sudahlah, aku nggak jadi minta gelang itu.""Kak Rangga, jangan sampai kamu bertengkar dengan Kak Sekar gara-gara aku. Nggak sepadan."Rangga membujuknya dengan suara yang sangat lembut, pancaran kasih sayang di matanya seolah meluap keluar."Sepadan kok. Kamu pantas mendapatkan hal terbaik di dunia ini.""Berapa pun harganya, aku bayar!" seru Rangga.Aku hanya bisa terbelalak melihat gelang itu jatuh ke tangan Arum, benar-benar tak berdaya.Tiba-tiba, tangan Arum licin. Gelang itu jatuh ke lantai dan hancur dengan bunyi denting yang nyaring.Arum melempar senyum provokasi ke arahku, lalu sedetik kemudian dia menangis sambil meminta maaf."Maafin aku, Kak Sekar. Tanganku licin. Kakak boleh pukul aku, hiks ...."Aku terpaku, seluru

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 3

    Tak disangka, aku justru berpapasan dengan Rangga dan Arum di kantor agen properti.Melihat kedatanganku, si agen langsung menyambutku dengan sangat ramah."Nona Sekar, akhirnya datang juga! Aku sudah lama lho nungguin Nona Sekar buat jual rumah itu."Rangga mengernyit bingung. "Rumah yang mana?"Belum sempat aku mencegahnya, si agen properti langsung menyebutkan alamat lengkap rumah Ibu."Sekar! Atas dasar apa kamu berani jual rumah itu tanpa persetujuan Bibi Ambar?""Rumah itu hasil tabungan seumur hidup beliau, dan juga ...."Rangga tertahan, dia hendak mengatakan bahwa rumah itu juga menyimpan semua kenangan kita.Si agen properti pun dibuat bingung oleh perdebatan kami."Jadi, ini sebenarnya jadi dijual atau nggak?"Suaraku terdengar sangat mantap. "Jadi.""Rumah itu milikku, sama sekali nggak ada urusannya sama dia."Arum buru-buru menyela, "Rangga, Kak Sekar pasti punya alasan sendiri kenapa dia jual rumah itu."Rangga mendengus sinis. "Alasan apa yang dia punya? Paling ini cuma

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status