Short
Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya

Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya

By:  UnguCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Tepat di malam menjelang pernikahan. Rangga Respati tiba-tiba memintaku menunggu selama sebulan. Alasannya? Dia ingin menemani cinta sejatinya yang menderita penyakit mematikan untuk mewujudkan keinginan terakhirnya yaitu berkeliling dunia. Di saat yang bersamaan, ibuku mendadak didiagnosis menderita gagal jantung. Satu-satunya keinginan Ibu yang tersisa adalah melihatku mengenakan gaun pengantin hasil jahitan tangannya sendiri dan melepas kepergianku menuju pelaminan. Aku memohon dengan sangat kepada Rangga. Aku memintanya untuk setidaknya menyelesaikan upacara pernikahan kami dulu sebelum dia pergi. Dia setuju. Namun, di tengah-tengah prosesi pernikahan, dia justru kabur bersama Arum Maharani. Foto mereka berdua yang sedang berciuman mesra di bandara seketika meledak dan menjadi trending topik. Saat melihat foto itu, Ibu langsung mengembuskan napas terakhirnya karena syok. Sementara itu, mereka berdua sudah bersiap terbang menuju romansa di Kota Prames. Arum mengunggah sebuah postingan di media sosialnya: [Melakukan hal paling nekat bersama orang yang paling dicintai.] [Doakan kami, ya.] Dengan perasaan mati rasa, aku mendekap abu jenazah Ibu. Jariku gemetar saat mengetikkan sebuah komentar di sana. [Semoga kalian langgeng sampai maut memisahkan.]

View More

Chapter 1

Bab 1

"Sekar! Apa-apaan sih omonganmu? Nyindir terus!"

"Pernikahannya cuma diundur tujuh hari, bukan batal!"

"Arum itu lagi sakit, bisa nggak sih kamu punya empati sedikit?"

Air mataku jatuh tanpa suara. Aku mencoba membuka suara, memaksakan sebuah kalimat keluar dari tenggorokanku yang terasa sesak.

"Pernikahannya nggak perlu diundur lagi. Aku mau batalin semuanya."

Rangga meradang. "Sekar, jangan ngomong sembarangan! Kamu bukan anak kecil lagi!"

"Cuma gara-gara aku nggak datang di hari pernikahan kita, terus kamu mau kita batal?"

Aku hanya bergumam mengiyakan, suaraku terdengar sangat datar.

"Iya."

Rangga mendengus sinis. "Sekar, aku pergi bukan buat main-main. Waktu Arum sudah nggak banyak lagi."

"Dia cuma ingin aku nemenin dia ke Kota Prames sekali saja, apa perlu kamu ngeributin hal sepele kayak gini?"

"Marah-marah nggak jelas cuma gara-gara masalah kecil. Kamu sudah besar, bisa nggak sih sedikit lebih dewasa!"

"Bibi Ambar tahu nggak kelakuanmu kayak begini?"

Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk berdebat dengannya. Dengan suara serak, aku balik bertanya.

"Rangga! Hari ini hari pernikahan kita! Kamu sendiri yang janji bakal datang."

"Ibuku bahkan memaksakan tubuhnya yang sakit …."

Amarah Rangga seketika tersulut, dia memotong kalimatku dengan kasar.

"Sekar! Berani-beraninya kamu bawa-bawa nama Bibi Ambar! Segitu penginnya ya kamu nikah sama aku?"

"Sampai tega-teganya malsuin surat keterangan sakit Bibi Ambar cuma biar aku mau nikah sama kamu. Masih punya muka kamu bahas soal Bibi Ambar?"

"Arum sudah ceritain semuanya ke aku. Sekarang, ngeles apa lagi kamu?"

Mendengar nada bicara Rangga yang begitu yakin, air mataku seketika mengaburkan pandangan.

Ibu, gara-gara laki-laki macam dia, aku sampai mencelakaimu. Aku benar-benar pantas mati.

"Rangga, siapa yang telepon?"

Terdengar suara di seberang sana sebelum speaker ponsel itu ditutup paksa. Rangga sekali lagi memberiku peringatan lewat tatapannya.

"Sekar, dengarin ya. Jangan coba-coba ancam aku pakai sifat kekanak-kanakanmu itu!"

"Pernikahan ini, terserah kamu mau lanjut atau nggak!"

"Soal Bibi Ambar, nanti aku sendiri yang bakal jelasin ke beliau."

Setelah itu, terdengar bunyi klik, dia memutus sambungan telepon begitu saja. Aku menangis sejadi-jadinya.

Selama beberapa hari ke depan, Rangga tidak pernah menelepon lagi.

Sementara itu, postingan di media sosial Arum terus berlanjut tanpa henti.

Mereka pergi bersama melihat bunga sakura di Kaido, melihat fenomena blue tears yang indah, hingga berburu aurora di Landia.

Sementara itu, aku dengan mati rasa membereskan semua peninggalan Ibu.

Aku hanya bisa mengangguk tenang. Rasa sakit di hatiku perlahan-lahan hilang setelah mencapai puncaknya.

Beberapa hari kemudian, dia mengirim beberapa pesan ke ponsel Ibu.

[Bibi Ambar, aku membelikan kalung mutiara dari Kaido untuk Tante, semoga Tante suka.]

[Soal pernikahanku dengan Sekar tempo hari, aku yang salah. Aku minta maaf ya, Tante.]

[Hari ini aku pulang, apa boleh aku minta dibuatkan iga asam manis masakan Tante?]

Melihat pesan-pesan yang muncul di layar itu, pandanganku seketika mengabur.

Air mataku jatuh tak terbendung, menetes hingga membasahi seluruh permukaan layar ponsel.

Tiba-tiba, terdengar bunyi pintu terbuka. Rangga masuk sambil membawa sebuket bunga segar dan sebuah kue di tangannya.

"Bibi Ambar mana? Aku kirim pesan, tapi nggak dibalas."

"Sekar, kamu ngapain duduk di lantai?"

"Lantai itu dingin, lho. Kamu 'kan kalau lagi datang bulan sering sakit perut, harusnya lebih hati-hati."

Air mataku jatuh menetes ke punggung tangannya. Dia langsung bertanya dengan nada cemas.

"Loh, kok nangis? Maaf, ya, soal masalah pernikahan itu, aku akui aku kurang pertimbangan."

"Aku minta maaf, ya? Maafin aku, oke?"

"Tapi, soal Bibi Ambar, kamu juga nggak seharusnya bohongi aku. Jadi, anggap saja sekarang kita sudah impas, ya?"

Rangga, ini sama sekali nggak lucu. Nggak ada yang impas.

"Bibi Ambar mana? Jam segini harusnya beliau sudah pulang kerja, 'kan?"

"Aku bawakan kado buat beliau, rencananya mau kasih kejutan."

Aku menyahut dengan dingin, "Nggak perlu. Dia sudah nggak butuh kejutanmu lagi."

"Nanti aku minta maaf langsung ke Bibi Ambar, ya? Beliau biasanya baik banget sama aku, pasti nggak bakal marah, kok."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status