共有

Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya
Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya
作者: Ungu

Bab 1

作者: Ungu
"Sekar! Apa-apaan sih omonganmu? Nyindir terus!"

"Pernikahannya cuma diundur tujuh hari, bukan batal!"

"Arum itu lagi sakit, bisa nggak sih kamu punya empati sedikit?"

Air mataku jatuh tanpa suara. Aku mencoba membuka suara, memaksakan sebuah kalimat keluar dari tenggorokanku yang terasa sesak.

"Pernikahannya nggak perlu diundur lagi. Aku mau batalin semuanya."

Rangga meradang. "Sekar, jangan ngomong sembarangan! Kamu bukan anak kecil lagi!"

"Cuma gara-gara aku nggak datang di hari pernikahan kita, terus kamu mau kita batal?"

Aku hanya bergumam mengiyakan, suaraku terdengar sangat datar.

"Iya."

Rangga mendengus sinis. "Sekar, aku pergi bukan buat main-main. Waktu Arum sudah nggak banyak lagi."

"Dia cuma ingin aku nemenin dia ke Kota Prames sekali saja, apa perlu kamu ngeributin hal sepele kayak gini?"

"Marah-marah nggak jelas cuma gara-gara masalah kecil. Kamu sudah besar, bisa nggak sih sedikit lebih dewasa!"

"Bibi Ambar tahu nggak kelakuanmu kayak begini?"

Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk berdebat dengannya. Dengan suara serak, aku balik bertanya.

"Rangga! Hari ini hari pernikahan kita! Kamu sendiri yang janji bakal datang."

"Ibuku bahkan memaksakan tubuhnya yang sakit …."

Amarah Rangga seketika tersulut, dia memotong kalimatku dengan kasar.

"Sekar! Berani-beraninya kamu bawa-bawa nama Bibi Ambar! Segitu penginnya ya kamu nikah sama aku?"

"Sampai tega-teganya malsuin surat keterangan sakit Bibi Ambar cuma biar aku mau nikah sama kamu. Masih punya muka kamu bahas soal Bibi Ambar?"

"Arum sudah ceritain semuanya ke aku. Sekarang, ngeles apa lagi kamu?"

Mendengar nada bicara Rangga yang begitu yakin, air mataku seketika mengaburkan pandangan.

Ibu, gara-gara laki-laki macam dia, aku sampai mencelakaimu. Aku benar-benar pantas mati.

"Rangga, siapa yang telepon?"

Terdengar suara di seberang sana sebelum speaker ponsel itu ditutup paksa. Rangga sekali lagi memberiku peringatan lewat tatapannya.

"Sekar, dengarin ya. Jangan coba-coba ancam aku pakai sifat kekanak-kanakanmu itu!"

"Pernikahan ini, terserah kamu mau lanjut atau nggak!"

"Soal Bibi Ambar, nanti aku sendiri yang bakal jelasin ke beliau."

Setelah itu, terdengar bunyi klik, dia memutus sambungan telepon begitu saja. Aku menangis sejadi-jadinya.

Selama beberapa hari ke depan, Rangga tidak pernah menelepon lagi.

Sementara itu, postingan di media sosial Arum terus berlanjut tanpa henti.

Mereka pergi bersama melihat bunga sakura di Kaido, melihat fenomena blue tears yang indah, hingga berburu aurora di Landia.

Sementara itu, aku dengan mati rasa membereskan semua peninggalan Ibu.

Aku hanya bisa mengangguk tenang. Rasa sakit di hatiku perlahan-lahan hilang setelah mencapai puncaknya.

Beberapa hari kemudian, dia mengirim beberapa pesan ke ponsel Ibu.

[Bibi Ambar, aku membelikan kalung mutiara dari Kaido untuk Tante, semoga Tante suka.]

[Soal pernikahanku dengan Sekar tempo hari, aku yang salah. Aku minta maaf ya, Tante.]

[Hari ini aku pulang, apa boleh aku minta dibuatkan iga asam manis masakan Tante?]

Melihat pesan-pesan yang muncul di layar itu, pandanganku seketika mengabur.

Air mataku jatuh tak terbendung, menetes hingga membasahi seluruh permukaan layar ponsel.

Tiba-tiba, terdengar bunyi pintu terbuka. Rangga masuk sambil membawa sebuket bunga segar dan sebuah kue di tangannya.

"Bibi Ambar mana? Aku kirim pesan, tapi nggak dibalas."

"Sekar, kamu ngapain duduk di lantai?"

"Lantai itu dingin, lho. Kamu 'kan kalau lagi datang bulan sering sakit perut, harusnya lebih hati-hati."

Air mataku jatuh menetes ke punggung tangannya. Dia langsung bertanya dengan nada cemas.

"Loh, kok nangis? Maaf, ya, soal masalah pernikahan itu, aku akui aku kurang pertimbangan."

"Aku minta maaf, ya? Maafin aku, oke?"

"Tapi, soal Bibi Ambar, kamu juga nggak seharusnya bohongi aku. Jadi, anggap saja sekarang kita sudah impas, ya?"

Rangga, ini sama sekali nggak lucu. Nggak ada yang impas.

"Bibi Ambar mana? Jam segini harusnya beliau sudah pulang kerja, 'kan?"

"Aku bawakan kado buat beliau, rencananya mau kasih kejutan."

Aku menyahut dengan dingin, "Nggak perlu. Dia sudah nggak butuh kejutanmu lagi."

"Nanti aku minta maaf langsung ke Bibi Ambar, ya? Beliau biasanya baik banget sama aku, pasti nggak bakal marah, kok."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 8

    Sekar yang berdiri di sampingku tampak begitu tenang, seolah-olah barang yang sedang hangus terbakar di hadapannya itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.Sudut bibirku terangkat, memaksakan sebuah senyuman getir. Aku bergumam bahwa masih ada cukup waktu sebelum hari pernikahan kami tiba.Aku menawarkan bahwa kami masih punya waktu dan aku berjanji pasti akan memesankan satu set baju pengantin baru yang jauh lebih bagus untuknya.Sekar tidak membantah ucapanku. Aku merasa sangat bersalah padanya dan baru saja berniat untuk membujuknya agar tenang.Akan tetapi, di saat itu juga, Arum kembali menelepon dan memaksaku pergi bersamanya.Aku berjanji pada Sekar bahwa aku pasti akan segera kembali. Dia hanya bergumam pelan mengiyakan.Sayangnya, aku lagi-lagi mengingkari janjiku.Arum melakukan segala cara agar aku tetap tinggal di sisinya dan aku pun menyerah, menyetujui permintaannya.Di acara lelang, aku sama sekali tidak memedulikan permohonan Sekar yang mencoba menghalangik

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 7

    Aku memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang sebelum menjawab, "Dulu aku pernah mencintaimu, tapi sekarang nggak lagi.""Oke, aku mengerti. Aku nggak akan datang mengganggumu lagi.""Semoga kamu bahagia."Rangga melangkah pergi dan Arum segera menyusul di belakangnya dengan terburu-buru.Belum sempat aku menghubungi pengacara untuk menuntut Arum, kabar mengejutkan datang.Arum tiba-tiba kehilangan akal sehatnya. Dia melompat dari lantai dua puluh sebuah gedung.Setelah penyelidikan, polisi menemukan bukti bahwa kejadian itu ada sangkut pautnya dengan Rangga. Dan tanpa ragu sedikit pun, Rangga mengakui semuanya.Mendengar semua berita itu, hatiku tetap tenang, sedatar air yang tak beriak.Di lantai bawah, Bagas sibuk tak henti-hentinya di restoran penginapan. Aku pun membantunya, menata piring dan menyajikan hidangan satu per satu.Hidup ini pasti akan berjalan makin baik ke depannya.….Sudut Pandang Rangga.Tepat menjelang pertunanganku dengan Sekar, Arum tiba-tiba kembali ke t

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 6

    Rangga mematung di tempatnya, ekspresinya tampak mengeras dan sangat pucat, benar-benar kacau.Saat suasana di antara mereka berdua makin memanas dan siap meledak, tiba-tiba Rangga dengan beringas mencengkeram dasi Bagas."Kamu pikir kamu siapa, hah?""Hak apa yang kamu punya buat ikut campur urusan kami?"Bagas hanya tertawa dingin. "Kami? Antara kalian berdua sudah nggak ada urusan apa pun lagi, sedikit pun nggak ada hubungannya.""Pak Rangga, kalau kamu masih tahu diri, lebih baik pergi sekarang. Atau kamu lebih suka kalau polisi datang dan namamu jadi tercoreng di sini?"Rangga masih bergeming, tetapi Bagas tetap merangkulku untuk melangkah pergi meninggalkannya.Rangga berteriak parau, mencoba menghentikan langkahku. "Sekar! Aku masih belum mau menyerah. Apa kamu nggak bisa memberiku satu kali saja kesempatan lagi?"Aku menghentikan langkahku, tetapi aku tidak sudi untuk menoleh lagi."Nggak ada kesempatan lagi. Mulai sekarang, kita cuma orang asing."Bagas mengusir Rangga sampai

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 5

    Pesawat mendarat saat hari sudah larut malam.Begitu turun dari pesawat, aku langsung melihat sahabatku, Bagas Abyasa, sudah menungguku.Sudah lama kami tidak bertemu, guratan wajahnya kini tampak jauh lebih tegas dan dewasa.Dia mengambil alih semua barang bawaanku, sementara aku tetap memeluk erat abu kremasi ibuku.Setelah kami masuk ke dalam mobil, dia bertanya dengan suara lembut setelah keheningan sesaat."Kamu kedinginan?"Aku menggeleng pelan. "Nggak."Aku dan Bagas tumbuh besar bersama sebagai teman masa kecil. Karena alasan keluarga, dia harus pindah ke luar negeri saat kami masih duduk di bangku SMP.Selama dia di luar negeri, kami tetap rutin bertukar kabar. Kebetulan sekali, saat ini dia memang sedang pulang ke tanah air.Setelah aku menceritakan semua kejadian pahit itu padanya, dia langsung memintaku untuk datang menemuinya.Malam itu, kami tiba di penginapan milik Bagas. Setelah membersihkan diri seadanya, kami pun segera beristirahat di kamar masing-masing.Keesokan pa

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 4

    Rangga mengernyitkan dahi. "Bibi Ambar masih sehat-sehat saja, jangan bicara sembarangan.""Jarang-jarang Arum suka pada sesuatu, bisa nggak kamu jangan merusak suasana?"Arum dengan wajah memelas menarik ujung baju Rangga, sudut matanya tampak berkaca-kaca."Sudahlah, aku nggak jadi minta gelang itu.""Kak Rangga, jangan sampai kamu bertengkar dengan Kak Sekar gara-gara aku. Nggak sepadan."Rangga membujuknya dengan suara yang sangat lembut, pancaran kasih sayang di matanya seolah meluap keluar."Sepadan kok. Kamu pantas mendapatkan hal terbaik di dunia ini.""Berapa pun harganya, aku bayar!" seru Rangga.Aku hanya bisa terbelalak melihat gelang itu jatuh ke tangan Arum, benar-benar tak berdaya.Tiba-tiba, tangan Arum licin. Gelang itu jatuh ke lantai dan hancur dengan bunyi denting yang nyaring.Arum melempar senyum provokasi ke arahku, lalu sedetik kemudian dia menangis sambil meminta maaf."Maafin aku, Kak Sekar. Tanganku licin. Kakak boleh pukul aku, hiks ...."Aku terpaku, seluru

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 3

    Tak disangka, aku justru berpapasan dengan Rangga dan Arum di kantor agen properti.Melihat kedatanganku, si agen langsung menyambutku dengan sangat ramah."Nona Sekar, akhirnya datang juga! Aku sudah lama lho nungguin Nona Sekar buat jual rumah itu."Rangga mengernyit bingung. "Rumah yang mana?"Belum sempat aku mencegahnya, si agen properti langsung menyebutkan alamat lengkap rumah Ibu."Sekar! Atas dasar apa kamu berani jual rumah itu tanpa persetujuan Bibi Ambar?""Rumah itu hasil tabungan seumur hidup beliau, dan juga ...."Rangga tertahan, dia hendak mengatakan bahwa rumah itu juga menyimpan semua kenangan kita.Si agen properti pun dibuat bingung oleh perdebatan kami."Jadi, ini sebenarnya jadi dijual atau nggak?"Suaraku terdengar sangat mantap. "Jadi.""Rumah itu milikku, sama sekali nggak ada urusannya sama dia."Arum buru-buru menyela, "Rangga, Kak Sekar pasti punya alasan sendiri kenapa dia jual rumah itu."Rangga mendengus sinis. "Alasan apa yang dia punya? Paling ini cuma

  • Semoga Bahagia, Tanpa Diriku Selamanya   Bab 2

    Benar. Ibu memang sangat baik pada Rangga, bahkan sudah menganggapnya seperti anak kandung sendiri.Ibu selalu perhatian padanya. Dulu, Rangga adalah murid Ibu.Ibunya meninggal karena komplikasi saat melahirkannya dan sejak kecil dia selalu pergi ke sekolah dengan pakaian yang lusuh dan berantakan.

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status