“Ingat, Lucy,” tukas Raiden dengan suara rendah. “Aku bersedia menjagamu, bukan berarti kamu bisa semena-mena dengan hidupmu, lalu menjadikan aku sandaran.” Air mata Lucy kembali jatuh. “Bukan aku yang harus bertanggung jawab atas kehamilanmu,” lanjut Raiden dengan tenang. “Lain kali sebelum melakukan sesuatu, pikirkan dulu dampaknya. Pikirkan dirimu sendiri. Pikirkan masa depanmu. Dan sekarang, kau juga harus bertanggung jawab pada bayi yang ada di dalam kandunganmu.” Lucy menunduk. Tubuhnya bergetar pelan. Tiba-tiba wanita itu berdiri. Beberapa langkah cepat membawanya mendekati Raiden. “Kak ....” Sebelum siapa pun sempat bereaksi, Lucy meraih tangan Raiden. Genggamannya begitu erat, penuh keputusasaan. “Kalau saat itu pernikahan kita tidak batal ...” Suara Lucy bergetar hebat. “Aku tidak akan seperti
Read more