“Siap, Jenderal,” jawab Raiden tenang. “Saya tidak bisa menebak.”Vance terkekeh pelan. Namun tawa itu terdengar pahit, seperti ejekan untuk Raiden.“Tidak perlu terlalu formal,” ujar Vance sambil menyandarkan tubuhnya pada bantal. “Kita tidak akan membicarakan pekerjaan.”Vance menatap lurus ke arah pintu yang baru saja tertutup beberapa saat lalu.“Sepertinya cucu saya sudah sangat mengenal Mayor,” ucap Vance.Bayangan mata merah Aveline yang menangis karena dirinya pindah rumah sakit tadi masih sangat jelas di kepala Raiden.“Aveline anak yang hangat,” jawab Raiden akhirnya.Vance tersenyum tipis penuh sindiran.“Ya.” Tatapan pria paruh baya itu kembali menusuk Raiden. “Dia sampai menangis hanya karena Mayor pindah rumah sakit tanpa pamit.”Raiden menahan napas. Ada rasa bersalah yang mengendap di dadanya, tetapi pria itu memilih diam sambil mengatur raut
Read more