"Naren, jangan tinggalin Mama. Mama mohon...." Di tepian jalan sepi, Nyonya Laras menangis histeris dan menjerit-menjerit, minta untuk tidak ditinggalkan oleh putranya. "Mama mohon jangan pergi... jangan tinggalin Mama!" Wanita paruh baya itu semakin histeris kala melihat wajah Satria berlumuran darah. "Ma, tolong, tolong aku...." "Ma, Mama...." "Sat, ba-ba-bangun!" Buk, buk! Satria yang tertidur di atas kursi kayu panjang sudut cafe, terbangun dalam keadaan subuh dibanjiri keringat jagung dan wajah memucat. Dada pemuda itu naik turun, deru napasnya memburu. Tangannya bergerak, mengusap wajahnya dengan tangan kasar. "Huh, jam berapa, Ton?" tanya Satria pada Tono yang membangunkannya dengan cara memukul keras lengannya. "Te-te-tengah ha-ha-hari! Bi-bi-bisa-bisanya lu mi-mi-mimpi di si-si-siang bolong!" kata Tono, menimpali perkataan sahabatnya dengan bersusah payah. Mendengar perkataan Tono, Satria terdiam. Pemuda gigolo privat itu memikirkan mimpinya barusan yang terasa be
Read more